
“Siapa takut … bila perlu pakai cara licik pun aku pasti bisa melakukannya.” Seringai licik di wajah Sonya menandakan dirinya sama sekali, tidak bermain-main jika ingin merebut sesuatu yang bukan miliknya. “bisakah aku pergi menemui pria bangka itu?”
“Pergilah dan berhati-hati jika kamu bernegoisasi dengannya.”
“Bahkan kalau aku mau bisa meracuni dan membuat dia menyusul mendiang istrinya.” Suara tawa dari Sonya menandakan wanita itu bisa melakukan segala macam cara, demi bisa mendapatkan yang diinginkan oleh dirinya. “Baiklah aku pergi dulu, Ma!”
Meskipun kau mengancamku untuk membongkar identitasnya. Lihatlah sendiri Pram putriku justru begitu kukuh menginginkan perjodohan itu. Cepat atau lambat putriku pasti bisa membuat putramu bertekuk lutut.
Sementara itu, anak buah yang baru saja melapor untuk Sonya ternyata dirinya ditugaskan oleh, seseorang tak lain ayah kandung dari wanita itu sendiri.
Atas perintah dari Bastian mata-mata yang ditugaskan itu ada hubungannya dengan putri kandung sendiri, karena pria baya itu begitu sangat menginginkan kegiatan dilakukan oleh putrinya.
Saat ini mata-mata itu menghadap ke atasan yang sedang menunggunya membuka suara.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu.” Tak ingin terlalu lama menunggu Bastian membuka suara dengan, dia yang begitu tak sabar menerima laporan dari mata-matanya.
“Sudah saya lakukan perintah Anda, Bos … bisa Anda dengarkan sendiri pengakuannya.”
Sesuai tugas dari Bastian mata-mata itu menaruh sebuah alat penyadap yang diminta oleh bos, agar sang bos bisa mendengarkan obrolan yang dilakukan oleh putrinya.
“Jadi, kau diminta oleh putriku untuk menyelidiki seorang pria yang dijodohkan oleh Tuan Gunawan benar begitu maksudmu, hm?”
“Benar, Bos … maafkan atas kelancangan saya.”
Akan tetapi, pria baya itu enggan mendengarkan penuturan dari sang mata-mata justru saat ini dia sedang mendengarkan pernyataan bahwa putrinya begitu sangat ambisi dalam, memperebutkan sebuah perjodohan yang bukan hak dari Sonya dan dirinya benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran dari sang putri.
__ADS_1
“Kau tetap pantau pergerakan dari putriku, pastikan dia tidak menyentuh apa pun yang bukan miliknya … sudah cukup dia merebut kekasihnya, tidak untuk ini aku tak akan pernah mendukungnya.”
“Nona belum memberi perintah kepada saya, Bos … lalu saya harus bagaimana?”
“Sialan kau! Sudah kukatakan kau terus awasi pergerakan dia dan jika kau dihubungi lakukan seperti biasa yang diminta oleh anak itu. Paham!”
Mengangguk kepala tak lupa membungkuk hormat untuk pamit diri karena mata-mata itu melakukan tugasnya seperti biasa dilakukan.
Tak lama kemudian Bastian mengusap kasar seraya begitu frustrasi menghadapi dua wanita, yang begitu licik dan sangat ambisius menginginkan sesuatu bukan miliknya serta tak pernah berhenti memperebutkannya.
Mengapa kalian harus begitu kukuh melakukan hal ini? Sudah begitu lama aku ingin memeluk dan mendekapmu penuh sayang, tapi mamamu sama sekali tak pernah mengizinkan aku menampakkan diri. Cepat atau lambat kau akan kembali ke dalam pelukanku karena keinginanmu itu tak mungkin bisa gapai begitu mudah.
Pria baya begitu sangat merindukan seorang anak yang sejak lama dia dipisahkan tanpa pernah sekalipun, melihat wajah putrinya dan sekarang wanita itu justru enggan mengungkapkan kebenaran, kepada sang putri yang membuat Bastian tak bisa leluasa bertemu.
Mobil yang tengah dikemudikan oleh Sonya saat ini sedang membelah jalanan yang renggang dengan dia begitu tak sabar bertemu pria bangka itu.
Mengingat ambisinya begitu sangat besar untuk memperebutkan perjodohan yang seharusnya hanya untuk sang putri mahkota itu sendiri.
Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Sonya pun sampai di tempat tujuan dengan raut wajah begitu jijik tidak sukanya, rumah sederhana Gunawan Gayatri Smith wanita itu mengumpat geram karena dirinya tak diizinkan masuk ke dalam rumah tersebut.
“Aku hanya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini!” geram Sonya begitu marah.
“Mohon maaf nona hanya bisa menunggu tuan kembali.” Tanpa takut dan ragu ancaman penjaga yang ditugaskan itu menjalankan tugas dengan baik.
Pesan dari tuan besar tak menginginkan siapa pun menginjakkan kakinya di rumah tersebut.
__ADS_1
“Sialan kau! Kuʼ adukan kalian ke papaku!”
“Silakan adukan ke papamu nona karena kami semua bukan dibayar oleh papamu.” Tak kalah sinis dengan wanita itu, salah satu dari mereka begitu berani menyahut ucapan yang dilontarkan oleh Sonya.
Bersamaan itu, mobil yang ditumpangi oleh Gunawan telah sampai di depan halaman dengan dirinya begitu terkejut, melihat kedatangan seseorang yang telah membuat dia kehilangan pujaan hati.
“Mohon maaf, Tuan Besar Gunawan … nona ini memaksa masuk ke dalam rumah Anda.”
“Tak perlu membawaku masuk dan kau tetap jaga-jaga di semua sisi!” Menitah dengan nada dingin yang tak lupa sorot mata dingin, di alihkan untuk wanita yang mengaku-ngaku sebagai cucu kandungnya. “Ada angin apa kau bertandang kemari?”
“Tak perlu buru-buru seperti ini tua bangka … apalagi kau tak menyambutku seperti cucu sialanmu itu!”
“Kau memang bukanlah cucu kandungku karena di tubuh yang kau banggakan sama sekali tak mengalir darah keluarga Smith … masih mau menyombongkan diri setelah putra sulungku begitu menyayangimu dan kau salah besar mengira aku mau menerimamu, hah!”
Wajah Sonya begitu tegang ketika pria tua di depannya menyinggung masalah darah di tubuhnya dan entah mengapa dirinya tak menerima kenyataan yang begitu menyakitkan.
“Aku langsung saja pria bangka … perjodohan yang kau rencanakan untuk cucu sialanmu tak akan kubiarkan dia bahagia … sebab, aku akan merebut semua yang dipunyai oleh dia termasuk cinta dan kasih sayang papanya.”
“Jadi, kau datang kemari hanya untuk ini? Kalau begitu lakukan apa yang bisa kau rebut dari cucu kesayanganku, tapi ingat satu hal yang harus kau ingat baik-baik selamanya di tubuhmu … sedikit pun tak mengalir darah denganku karena kau memang bukan putri kandung Prasetya dan cucu kandungku hanya Araela Ayudia Gayatri Smith … cobalah kau menyentuh dia maka hidupmu tak akan pernah tenang selamanya dan kau mau tahu apa?”
Tanpa sadar wanita itu mengangguk begitu mendengar penuturan dari pria bangka yang seperti sedang mengancam dirinya.
“Ada mereka yang bisa saja menangkap dan membuatmu menyesal … seperti yang pernah kau lakukan kepada dia … ada saatnya nanti kau akan tahu sendiri mereka yang kumaksud ada hubungannya dengan cucuku yang kau sebut sialan itu. Pergilah!”
Diusir secara kasar membuat wanita itu bersumpah akan selalu mencari cara untuk membuat cucu kesayangan pria bangka itu, menderita termasuk perjodohan itu dia harus bisa melakukan apa pun yang ingin dilakukannya, sedangkan di rumah Gunawan yang masih berada di luar saat ini pria senja itu meminta sang mata-mata melaporkan, sesuatu yang berhubungan dengan perang dingin diantara putra bungsu dan juga cucunya itu.
__ADS_1