Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Kedatangan Pangeran Devander bertemu teman lama


__ADS_3

Bandara Internasional di negara tempat tinggal Araela Ayudia Gayatri Smith telah terjadi kehebohan karena kedatangan keluarga kerajaan yang bertandang ke negara tersebut.


“Jangan sampai kedatangan kami kemari mengundang para pemburu berita dan jika ada yang melakukan hal itu, tangkap lalu masukkan ke penjara karena raja tidak terlalu menyukai media menyorot keluarga kami. Paham!”


Para pengawal yang bertugas di depan pintu kompak mengangguk, tanpa banyak kata semua yang berada di bandara melalukan tugasnya masing-masing, dengan sang raja yang sudah tidak sabar bertemu cucu kesayangannya tercinta.


“Kenapa harus seperti ini, Sayang?” Permaisuri Pangeran Devander begitu bingung dengan perintah yang diucapkan oleh sang suami.


“Ada beberapa alasan kuat membuat ayahanda enggan menerima pemberitaan dari media karena beliau tidak ingin pertemuannya dengan keponakan kita terganggu ... sudah tahu bukan? Dia terlalu sederhana untuk seorang putri mahkota.”


Sang Permaisurinya mengangguk setuju, bahkan ia sependapat dengan ucapan yang dilontarkan oleh sang suami, bahwa keponakan mereka lebih menyukai kesederhanaan dibandingkan kemewahan dari sebuah kerajaan.


“Apa kita akan menginap di villa milik, Ayahanda?” tanya Devander pada sang raja.


“Lebih baik begitu, kau tahu sendiri bukan? Ayahmu ini benar-benar tidak terlalu menyukai keramaian.” Goerge sama halnya dengan sang cucu tercinta.


Dimana ketiga orang tersebut, tidaklah terlalu menyukai keramaian tempat.


Sambil menikmati perjalanan menuju villa tempat milik sang raja. Pangeran Devander kembali menanyakan kegiatan yang dilakukan oleh keponakan tercinta, pada seorang sopir yang mendapat tugas sebagai mata-mata keluarga kerajaan.


“Apa yang dilakukan oleh dia?” Dia yang dimaksud pangeran merupakan sang keponakan tercinta.


“Tuan Putri Ara saat ini berada di kediamannya sendiri, Pangeran.”


“Ceritakan apa yang dilakukan oleh anak itu!” titah Pangeran Devander dengan nada desak. Namun, sang raja menyuruh sopir tersebut untuk tidak banyak mengobrol selama dalam perjalanan.


“Ayah sangat tahu kau begitu ingin mendengar kabar tentangnya, tapi bisakah untuk tidak mengajak sopir mengobrol?”


“Tapi ....


“Nanti sampai di villa kau bisa menanyakan kembali keadaan keponakanmu itu!” Sebab, sang raja tidak ingin terjadi sesuatu menimpa mereka dengan meminta, putranya lebih bersabar menunggu kabar yang akan disampaikan oleh sopir tersebut.


“Apa yang disampaikan oleh, Ayahanda benar ... nanti kamu akan dapat informasi mengenai kabarnya.” Permaisurinya pun ikut menyahut obrolan mereka karena merasa gemas dengan tingkah laku sang suami.


Tak berselang lama kemudian mereka pun memutuskan untuk berdiam diri, sambil menunggu mobil yang ditumpangi tiba di sebuah villa milik sang raja.

__ADS_1


Sampai akhirnya mobil yang ditumpangi keluarga kerajaan tiba di sebuah villa dimaksud oleh Raja dan dengan terburu-buru sang pangeran memerintahkan, kembali sopir alias mata-mata untuk memberikan laporan karena pria baya itu benar tidak sabar ingin mendengar tentang keponakannya tercinta.


“Sekarang laporkan semua kepadaku, tentang kegiatan dilakukan oleh keponakanku!”


“Baik, Pangeran.”


Setelah memberi perintah Pangeran Devander begitu menyimak dengan seksama laporan-laporan yang didengar langsung, oleh pria baya itu sampai membuatnya terkejut mendengar semua laporan dari mata-mata tersebut.


“Jadi, maksudmu sekarang dia sudah kembali ke rumahnya sendiri?” Devander memastikan.


“Benar, Pangeran ... Tuan Putri Ara sudah kembali ke kediamannya sendiri, setelah dari pemakaman mendiang adik Anda.”


“Apa kau mengetahui alamat tempat tinggalnya?” Kabar yang terdengar oleh pria baya itu begitu sangat terkejut bukan main.


Dia sendiri tak menyangka sang keponakan tercinta merasa dikecewakan oleh sikap yang dilakukan musuhnya tak lain, seseorang dianggap saingan karena selalu menang mendapatkan perhatian dari keponakannya sendiri.


“Tuan Putri Ara bahkan meminta saya untuk tidak mengganggu waktu, Pangeran.” Mata-mata yang bertugas mengawasi sang putri mahkota, menyampaikan pesan kepada seluruh orang-orang terdekat untuk tidak mengganggunya.


“Kau jangan bercanda!” geram Devander dengan kedua tangan terkepal.


Bagaimana tidak terkejut ketika pria baya itu mendengar laporan, bahwa sang keponakan tidak ingin diganggu sementara waktu, bahkan membuatnya mengumpat sikap yang dilakukan oleh saingannya.


Sebuah elusan lembut yang dirasakan oleh pria baya itu, membuat dia terkejut ketika melihat senyuman manis di wajah sang permaisuri tercinta.


“Sayang ....” Memanggil sang istri dengan mengadukan segala tingkah laku, dari saingannya karena dia tidak bisa bertemu keponakan tercinta.


“Lebih baik kita penuhi permintaannya untuk menenangkan diri sementara waktu. Sebab, dia pasti terpukul mendengar laporan pamannya yang begitu disayangi mengecewakan dirinya.”


“Aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengan dia ... gara-gara pria itu, aku tidak bisa bertemu dengannya.”


“Sabar, Mas.” Permaisuri Pangeran Devander berusaha meredam amarah di dalam diri sang suami. Namun, itu tidak akan mudah dilakukan karena sudah lama suaminya, memendam rasa rindu yang diperuntukkan keponakan mereka.


“Kembalilah ke tuanmu, tapi kau harus ingat rahasiakan kedatangan kami semua. Paham!” Devander menitah setelah berhasil meredam amarah dengan menggenggam erat tangan sang permaisuri.


“Kalau begitu saya pamit undur, Pangeran.” Membungkuk hormat sembari berpamitan dan bersamaan itu, kedua sepasang suami istri kembali membahas perihal tentang keponakan tercinta.

__ADS_1


“Aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengannya.” Mengulang kata kembali dengan amarah di ubun-ubun.


Membuat sang permaisuri Menghela napas panjang, entah mengapa ia sendiri begitu geram dengan tingkah laku sang suami, yang sama sekali tidak pernah mau mengalah ketika sedang membahas keponakan mereka.


Wanita baya itu, merasa de javu saat pertama kali melihat amarah di dalam diri sang suami mengingatkannya, di waktu ia melihat keadaan sang suami kala itu lebih tepat saat bertemu dan dikejutkan dengan penampilannya.


Kamu dan dia sama seperti anak kecil. Entah mengapa melihat sikapmu. Aku merasa kamu dan dia tidak ada ubahnya ketika membahas Ara. Kalian dua pria benar-benar menyebalkan!


Tanpa sadar bibir mengerucut itu, menarik perhatian dari sang pangeran yang begitu terkejut melihat raut wajah permaisurinya. “Kenapa, Sayang?”


Malas berdebat sang permaisuri menjawab dengan gelengan kepala karena wanita baya itu tak ingin membahas masalah keponakannya.


“Aku mengantuk, Mas. Kalau kamu masih ingin memberi perhitungan dengan sainganmu ... silakan lakukan sendiri, tanpa meminta bantuan siapa pun yang ada di sekitar vila. Paham!”


Setelah mengatakan hal tersebut sang permaisuri meninggalkan suaminya yang terkejut dengan sikap dilakukan oleh dirinya.


Padahal sejatinya pria baya itu, datang ke negara tempat sang keponakan tinggal, untuk bertemu seseorang dan orang itu tak lain Bastian ayah kandung dari seorang anak, yang telah merebut semua kasih sayang seharusnya milik Araela Ayudia Gayatri Smith.


Tanpa mengganti pakaian dikenakan dengan langkah terburu-buru pria baya itu meninggalkan villa sang raja, sambil menanyakan sebuah alamat tempat tinggal seseorang yang akan dia datangi.


“Jangan katakan pada beliau ... aku ingin bertemu dengan seseorang dan sudah dapat alamat tempat tinggalnya?” titah Devander sembari menanyakan alamat tempat tinggal Bastian.


Sebab, pria baya itu sangat tidak sabar ingin melihat reaksi raut wajah orang itu, atas identitas yang akan dia bocorkan sedikit mengenai sang keponakan tercinta.


Maaf, aku melakukan semua ini untuk kebaikannya. Sebab, selama ini aku berusaha mati-matian menahan amarah dan untuk kali jangan halangi jalanku memberi peringatan untuknya. Bersiaplah untuk melihat kabar yang akan kau dengarkan langsung dariku Bas! Mungkin dulu kita bisa berteman, tapi untuk kali aku sudah tidak tahan melihat tingkah putrimu yang membuatku benar-benar muak.


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi oleh Pangeran Devander sampai, ke tempat tujuan di mana terdapat seseorang tinggal di dalamnya.


“Pulanglah dan katakan pada istriku! Aku menginap di tempat temanku ... minta dia untuk tidak mencemaskanku berlebihan.” Devander menitah seraya memberi pesan yang harus disampaikan kepada permaisurinya.


Sebab, pertemuan ini sangatlah rahasia dan pria baya itu tidak ingin siapa pun mengganggunya.


“Apa tidak masalah, Pangeran? Permaisuri bisa salah paham dengan sikap, Anda.”


“Sudah-sudah jangan membantah ... masalah permaisuri biar aku yang mengurusnya. Tugasmu lakukan apa yang ku' katakan tadi.”

__ADS_1


Sesampainya di gedung apartemen milik Bastian, dengan menggunakan masker topi dan kacamata pria baya itu, melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung yang menjadi tujuan dia bertandang.


__ADS_2