Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Ayah — Anak Berhati Dingin


__ADS_3

Tidak ingin mengganggu kebersamaan sang istri, pria muda itu memutuskan untuk pamit undur diri sekaligus meminta maaf karena telah, membuat gadis yang terlelap nyaman kelelahan karena melakukan tugasnya sebagai istri.


Sementara itu, di kamar pribadi terdapat pria senja yang sedang duduk di atas ranjang sambil menanyakan kejadian yang menimpanya, “apa semalam anak itu yang merawatku?” tanya Gunawan pada perawat yang ditugaskan menjaga.


“Benar, Tuan Besar ... tuan muda yang menghubungi dokter pribadi, Anda.”


Gunawan bermanggut-manggut mendengarkan penjelasan dari perawat itu, “Lalu sekarang anak itu ke mana?”


“Sedang membaringkan cucu Anda di kamar, Tuan Besar.”


“Sejak kapan cucuku datang ke rumah ini?”

__ADS_1


“Sekitar dua puluh menit, Tuan Besar. Bahkan saya sendiri terkejut melihat kedatangan nona muda ketika mendengar kabar buruk menimpa, Anda.”


Gunawan bermanggut-manggut setelah menerima laporan dari perawat yang menjaganya. Tidak berselang lama kemudian pria senja itu menyuruh perawatnya untuk menemui sang cucu. “Antarkan aku menemui cucuku!”


“Tapi, Tuan Muda menyuruh Anda beristirahat.”


“Kau pikir aku selemah ini, hah!” sentaknya bernada satu oktaf. “Antarkan aku! Atau aku pergi sendiri untuk menemuinya!” Tidak lupa Gunawan memberi ancaman.


Mau tidak mau perawat itu memenuhi permintaan tuannya untuk membawa sang tuan besar bertemu dengan cucunya tercinta.


Sayang! Lihatlah apakah kamu bisa melihatnya di sana? Beritahui pada anak perempuan kita bahwa suaminya telah menyesali perbuatannya. Bahkan aku sendiri tidak mengerti bagaimana mungkin, Prasetya bisa setega itu menyakiti dua wanita yang memang ditakdirkan untuk dirinya sampai harus menutup rapi rahasia itu. Pantaskah dia menerima maaf dari cucu kesayangan kita? Luka yang diberikan oleh Pras, membuat Ara sangat membenci papanya sendiri. Haruskah suamimu yang renta ini memaafkan segala kekhilafan dilakukan oleh dirinya?

__ADS_1


Lima menit berdiam merenung. Gunawan mendorong kursi roda sambil terbatuk-batuk, yang membuat kedua putranya terkejut dengan kedatangan sang ayah. “Sudah selesai masalahmu dengan anak nakal ini, Pras?” tanya pria senja yang tidak henti mengarahkan manik mata pada sang cucu sedang terlelap sangat nyaman.


Prasetya menggeleng. “Masih ada hari esok untuk diteruskan, Yah. Lalu Ayah sendiri sudah lebih baik? Maafkan atas semua kebenaran yang kuʼ sembunyikan hingga membuat Ayah terkejut, sampai-sampai aku mendapatkan hadiah dari cucu kesayanganmu itu!”


“Selesaikan urusan kalian sampai tuntas! Meskipun kau harus menanggung risiko, atas semua perbuatan yang kau lakukan pada kami!”


“Bukankah semalam Ayah telah mendengarnya sendiri semua kebenaran yang kuʼ sampaikan? Bahkan mendiang ibu tetap menyuruhku untuk berdiam selama aku menjadi pajangan mereka. Sampai pada saat takdir itu tiba ketika putra kesayangan Ayah membawa seseorang yang selama ini disimpan tapi oleh dia!”


Morgan yang diam menyimak pun terkejut mendengar kenyataan yang tidak sesuai dengan segalanya, “Apa maksudmu, Kak?”


“Tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Namun, aku berterima kasih karena kau mau mengorbankan hidupmu untuk Ara. Jika kau bertanya apakah aku selalu cemburu melihat kedekatan kalian? Tentu saja aku sangat cemburu tanpa bisa menyentuhnya, bahkan aku selalu mengawasi Ara dari kejauhan tanpa diketahui oleh mereka!” Prasetya berkata dingin dengan memberi pernyataan yang membuat adiknya tidak berkutik.

__ADS_1


Oh, Babyku mengapa kamu harus punya papa menyebalkan seperti dia? Bahkan kalian benar-benar sepasang ayah — anak yang berhati dingin.



__ADS_2