Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Siapa yang menyangka para preman-preman itu pun justru tak takut berhadapan langsung dengan dirinya. Seakan-akan Morgan di tantang langsung oleh preman-preman tersebut. “Kau akan menyesal jika menantangku seperti ini!”


“Kami tak takut, Tuan,” sahut salah satu dari para preman itu yang sedang menahan sakit di area bawah perut. Mengingat tendangan mematikan itu membuat burung kutilang seketika mati.


Morgan yang mendengar keberanian diutarakan oleh salah satu preman itu. Membuatnya tertawa terbahak-bahak dengan nyali mereka patut diacungi jempol.


Bahkan para preman-preman tersebut sama sekali tak mengenal dirinya yang sangat dikenal sebagai yang begitu kejam dan sadis. Karena telah berani mengusik salah satu kesayangannya tercinta.


“Baiklah kalau kalian tak takut denganku. Maka kita mulai perkenalan diri!” Beranjak dari tempat yang di dudukinya lalu berjalan menghampiri para preman itu dengan sorot mata yang dingin.


Tak lupa belati yang selalu ia bawa ke mana pun pergi. Seketika membuat wajah di antara mereka mendadak pucat pasi.


Morgan setengah berjongkok sambil menggoreskan sedikit belati miliknya ke salah satu wajah preman-preman tersebut yang membuat salah satu di antara mereka memohon ampun. “Bagaimana masih tak ingin membuka mulut. Tentang orang yang telah menyuruh kalian mengusikku?”


“Ampun, Tuan! Baik, saya akan mengatakan langsung pada, Anda!” jawab salah satunya sambil menahan sakit karena goresan belati berhasil melukai wajahnya.


Morgan pun menyimpan belati kembali dengan tangan lainnya mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah foto yang ia yakin foto tersebut dapat membuktikan terkaannya. “Apa dia yang menyuruh kalian?”

__ADS_1


Para preman-preman itu kompak mengangguk yang salah satunya menjawab dengan lantang. “Benar, dia yang menyuruh kami, Tuan!”


Tanpa di duga sambil menahan amarah Morgan pun menatap preman-preman itu dengan bengis yang mana ia tak akan memberi ampunan pada siapa pun yang telah berhasil mengusiknya.


“Tak ada ampun untuk kalian yang telah berani mengusikku!” Tanpa menolehkan kepala ke belakang Morgan beranjak dari tempat preman yang ia hampiri itu sambil mengajak sang sahabat tercinta untuk meninggalkan tempat eksekusi untuk seseorang yang telah berhasil membuatnya marah.


“Bagaimana apa kau masih tak percaya dengan terkaanku?” tanya Morgan dingin sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa dengan Bastian duduk bersebelahan dengannya.


“Kau memang tak pernah salah tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau penculikan ini adalah ulah dari Putriku, Gan?” jawab Bastian seraya balik bertanya.


Bastian mendengkus kasar. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan satu fakta tentang bukti kejahatan yang selama hanya beberapa orang mengetahuinya. “Maaf, atas nama putriku. Aku gagal melihat tumbuh kembangnya, dan sekarang dia benar-benar menjadi pribadi yang sangat arogan. Lebih licik dari wanita yang melahirkannya.”


“Terpenting sekarang ini aku membutuhkan bantuanmu untuk menjalankan rencana yang sedang aku susun! Tapi sepertinya kau sendiri pasti sudah menyiapkan rencana bukan?”


“Tanpa kau katakan pun memang benar. Saat ini aku telah menyusun rencana itu untuk memberinya kejutan yang tak terduga dengan kemunculanku secara tiba-tiba.” Bastian tak pernah menutup rahasianya karena kedua pria paruh baya itu pun sudah bersahabat sejak lama.


Akan tetapi Bastian tak menyadari senyum smirk tersungging di wajah Morgan ketika mendengar rencana yang akan dilakukan oleh dirinya.

__ADS_1


Bagaimana dengan reaksi raut wajahmu ketika melihat. Pria yang telah memberi seorang anak muncul di depanmu kali ini Mayang?


.


.


.


.


.


Yuk jangan lupa mampir di sini


See you next time


__ADS_1


__ADS_2