
Tak lama kemudian dia melihat sang cucu berdiri dan bersiap-siap meninggalkan makam dengan sang bujang lapuk terus mengekor di belakang. Namun, dia masih melihat perang dingin diantara cucunya dengan si bujang lapuk.
Begitu sampai di parkiran mobil pria senja itu berdehem keras untuk meredakan peperangan di dalam diri keduanya, yang membuat sang cucu pandai bersilat lidah karena gadis itu ingin membicarakan sesuatu dengan om-nya itu.
"Yakin kalian berdua tidak ada masalah?" Gunawan memastikan.
Membuat Araela mengangguk kepala karena dirinya tak ingin kabar buruk menimpa sang kakek. "Ya, Kek ... kami tidak ada masalah apa pun dan bisakah Kakek memberiku waktu untuk mengobrol dengannya?"
"Baik-baik, Kakek tidak akan mengganggu dan jangan lupa setelah urusan kalian selesai segera pulang ... bukankah kamu juga akan kembali ke rumah?" sahut Gunawan seraya balik bertanya.
"Terima kasih." Setelah memberi kecupan hangat di kedua pipi keriput itu.
Gadis itu menarik kasih tangan kekar yang sedari tadi ingin dilampiaskan oleh sebuah amarahnya di ubun-ubun.
Setelah sampai ke tempat sepi yang tak ada seorang pun mendengar obrolan mereka gadis itu benar-benar melampiaskan amarahnya dengan memberi tamparan keras yang diberikan kepada om-nya.
Membuat bujang lapuk itu terkejut ketika dirinya mendapati sebuah tamparan mendarat di kedua pipinya. "Ba ... by, mengapa kamu menamparku?"
"Kau telah membuat kesalahan besar yang tak akan pernah kumaafkan."
"Lalu ada di mana letak kesalahan Om-mu ini, Baby?" tanya bujang lapuk itu seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Bertanyalah sendiri pada hatimu dan aku benar-benar kecewa denganmu." Gadis itu enggan memberitahukan alasan dia menampar om-nya sendiri. Hal itu dilakukan agar sang bujang lapuk menyadari kesalahannya.
"Apa itu karena Om yang tidak rela dengan perjodohanmu?" Morgan memastikan.
Gelengan kepala menandakan bukan itu penyebab, tapi apa yang membuat bayi mungil-nya begitu marah.
Apakah dia? Itu tak mungkin ... bahkan aku sendiri tak mengenali gadis yang ku' renggut. Lalu bagaimana dia bisa mengetahuinya?
"Maaf aku khilaf, Baby." Menyesal itulah yang terucap dari bibir bujang lapuk itu.
"Mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah mencampuri urusan pribadiku sebelum kau menemukan kesalahanmu dan membawanya ke hadapanku! Kau tak akan mendapat maaf sebelum permintaanku dikabulkan dan itu berawal dari kesalahanmu."
Selesai mengatakan itu, Araela melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu dengan meninggalkan Morgan yang sedang melampiaskan amarahnya memukul dada.
Sebab, pertama kali bagi sang bujang lapuk melihat kekecawaan dari sorot mata bayi mungil-nya karena dia terpengaruh oleh sebuah tempat yang dibenci oleh sang bayi mungil.
Setelah itu, tatapan sang bujang lapuk menjadi dingin dengan gerakan cepat dirinya mengambil ponsel untuk menghubungi mata-mata dan meminta melakukan sesuatu untuk dirinya.
"Kau dan rekanmu sudah meletakkan barangku di sana?" Nada dingin dari Morgan, membuat arah seberang ponsel merinding.
"Semua sudah kami letakkan sesuai intruksi dari Anda, tuan muda."
"Lalu hasil darahnya bagaimana?"
__ADS_1
"Untuk hasil darah itu seratus persen berasal dari gadis baik-baik, tuan muda."
"Kalau begitu kau minta bantuan rekanmu untuk mendapatkan rekaman, yang terhapus dan aku akan membayar mahal untuk kerja kerasmu ini. Bisakah kau melakukannya?"
"Ta ....
"Jangan membantah apa pun itu ... kau harus bisa mendapatkan rekaman itu!"
Morgan mematikan panggilan dengan raut wajah dinginnya tanpa memedulikan rasa kebas di kedua pipi sang bujang lapuk, memutuskan kembali ke rumah untuk menyimpan sebuah benda yang ternyata membuat bayi mungil-nya marah.
Aku pasti akan menemukan keberadaanmu dan membayar mahal atas tamparan yang kudapatkan dari bayi mungilku ... wahai kau gadis yang ku' renggut aku tak akan berhenti mencari keberadaanmu.
*
*
*
Sementara itu, di sebuah apartemen dengan Citra terbangun siang hari dikejutkan oleh suara bel yang berasa dari arah luar.
Selesai mencuci wajah tanpa memedulikan penampilannya dia mengarahkan langkahnya ke depan dan terkejut melihat kedatangan seseorang di apartemen tersebut.
"Kau, Alexa?" tanya Citra.
"Maaf dia bukan Alexa," sahut seorang pria berparas tampan dan gadis sebelah tak kalah jauh tampan darinya.
"Kami datang kemari atas perintah Kak Ivone dan juga Alexa ... apa kau sahabat yang diceritakan oleh dia?"
"Aku, Citra dan kalian siapa?"
"Albert dan ini kekasihku Araxi ... maaf sikap dinginnya."
Setelah mengetahui nama tamunya, Citra mempersilakan sang tamu masuk ke dalam apartemen.
"Mau minum apa?"
"Tak perlu aku langsung saja tujuanku ke sini!" Araxi yang sedari tadi bungkam, mengutarakan tujuannya datang ke apartemen tersebut.
Dia benar-benar gadis yang dingin sama dinginnya seseorang yang baru kukenal. Apa kabar dia? Maafkan aku yang harus menghilang Ra.
Seringai tipis tersungging di wajah paras tampan gadis itu ketika mendengar sesuatu yang membuatnya berdiam sejenak sebelum melakukan permintaan dari kakak angkatnya.
"Jangan terlalu dingin dong, Yank ... biarkan aku saja yang merasakan hawa dinginmu." Albert yang berada di sampingnya melontarkan sebuah gombalan.
"Pulang sana mengganggu saja!" Tanpa perasaan Araxi mengusir sang kekasih.
__ADS_1
"Tidak mau."
"Diam dan jangan mengganggu konsentrasiku. Paham!"
Obrolan kedua tamu membuat si pemilik apartemen menggeleng kepala yang seumur hidup pertama kali melihat pertengkaran antara tamunya itu.
"Jadi, bagaimana kalian benaran tidak ingin kubuatkan minum?"
"Tak perlu repot karena aku tidak akan lama-lama." Gadis berparas tampan itu, tetap menolak halus dibuatkan minum.
Sebab, ia dengan sang kekasih tak ingin berlama-lama di tempat asing.
Bersamaan itu, Araxi melakukan sebuah permintaan yang berasal dari sang kakak dan juga kembarannya dan dengan energi di dalam diri, dia melakukan semua tanpa terkecuali karena sebelum melakukan hal itu.
Di dalam bayangan dimensi gadis berparas tampan itu melihat seseorang yang begitu gigih ingin bertemu dan meminta maaf, atas kekhilafan dilakukan oleh keluarganya dan untuk itulah dia memberikan sisa aroma pemilik tubuh sebelum benar-benar tertutup sempurna.
Bahkan Araxi yang membiarkan dan hanya orang itu bisa bebas bertemu dengan sahabat kakak angkatnya.
"Maaf lama dan semua sudah selesai kulakukan dan bisakah kami pergi sekarang?"
"Baiklah aku tak akan memaksamu dan terima kasih atas bantuannya." Citra tak lagi memaksa kehendak karena dia sendiri tak terlalu mengenal kedua tamunya.
Albert melihat kebungkaman sang kekasih memutuskan untuk mewakili dengan berpamitan kepada pemilik apartemen. "Maafkan atas sikapnya, Kak ... maklum dia hanya dingin ketika bertemu orang baru. Kami pamit dulu. Ayo, Yank atau mau kugendong?"
Kedua tamu itu menghilang dari balik pintu, dengan dia begitu lega karena berhasil menghilang dari pandangan mata. Namun, dirinya tak menyadari suatu hal gadis berparas tampan itu tidak menghilangkan aroma semua. Sebab, ia melakukan itu karena tak ingin membuat seseorang dilanda rasa bersalah.
*
*
*
"Bisa tidak jangan menggombal seperti ini ... aku heran denganmu semenjak kau me ....
Albert tak ingin orang lain mengetahui asal-usulnya dengan melu'mat bibir sang kekasih dan, pria itu tak memberi jeda sampai dia merasa pukulan keras mendarat di dada bidangnya.
"Jangan keras-keras dong, Yank ... nanti yang ada orang lain pingsan mendengar ucapanmu."
"Kau sungguh sangat menyebalkan!"
"Lihat dan tatap mataku. Kamu akan menemukan semuanya di sana. Sejak berada di dalam kandungan mendiang mamamu ... aku sudah menaruh hati kepadamu."
"Kau harus berhadapan dengan dia. Tahu sendiri bukan aku masih belum bisa menerimanya."
Tak kuasa melihat gadis berparas tampan rapuh. Albert merengkuh dan membawanya ke dalam dekapan. Sambil memberinya kekuatan agar sang kekasih bisa melewati sekian cobaan menghampiri ketiga kembar tersebut.
__ADS_1
Mereka pun memutuskan menghabiskan waktu berdua dan hanya kedua berbeda jenis mengetahui tempat yang di datangi oleh kedua insan tersebut.