
Prasetya yang mendengar arah pembahasan mereka terkejut mengetahui kenyataan jika adik kesayangannya itu melakukan kesalahan, pada seseorang dan lebih parah menganggapnya sebagai wanita dicintai oleh pria tersebut.
Bolehkah hati pria itu senang mendengar kabar dari adik kesayangannya? Kabar seperti sekarang tidak harus membuat dia dan juga sang adik saling berebut hati karena, Prasetya sendirilah yang menjadi pemenang pemilik hati tanpa harus berbagi dengan Morgan.
Tidak ingin membuat putri kesayangannya marah karena selalu mencampuri urusan antara mereka, dengan terpaksa pria itu diam menyimak sambil menunggu arah pembahasan mereka tentang sang adik usai.
“Kenapa kamu tidak menegurnya, Kek? Kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh ....” Ucapan gadis itu sengaja dia jeda sambil melirik ke arah pria baya yang sedang, mengernyit dahi karena pria itu merasa disindir oleh putri kesayangannya sendiri.
Sampai membuat Gunawan tergelak karena cucu kesayangan tercinta dengan terang-terangan seperti ingin menyindir putra sulungnya. “Bukankah mereka sepasang kakak — adik? Wajar saja dia dan om kesayanganmu melakukan kesalahan yang sama ... hanya saja pada saat Morgan melakukannya sudah pasti dia menganggapnya seperti cinta pertama dari anak itu.”
“Tapi, aku tetap memberi hukuman untuk bujang lapuk itu, Kek!” Gadis itu menegaskan hukuman tanpa ada yang bisa membantahnya.
“Semua itu bisa kamu lakukan apa pun pada dia!” balas pria senja dengan netra matanya memicing ke arah Prasetya yang tengah, menahan tawa hingga membuatnya melontarkan pertanyaan. “Kau mau menertawakan nasib adikmu ya, Pras?”
__ADS_1
Bahkan putri kesayangannya mengarahkan sorot mata mematikan yang membuat Prasetya, menunduk takut karena sudah sekian banyak dia merasakan sorot mata dari gadis tersebut.
“Ma ... af!”
Sampai membuat pria senja itu menggelengkan kepala dengan tingkah laku kedua putranya yang selalu tunduk di hadapan cucu kesayangannya.
“Kau dan dia sama-sama memalukan bahkan membuatku pusing dengan tingkah laku kalian!” decak Gunawan dengan bibir mencebik kesal.
“Bukan kau sama dengan kami, Ayah?” balas Prasetya yang sengaja membuka aib tidak ingin diingat oleh pria senja tersebut.
“Apa maksudmu, Pras?” Gunawan menyentak dengan kedua mata melototi sang putra yang begitu berani menantang dirinya. “Jangan katakan kau ingin membuka aibku yang tidak ingin kuingat itu, ya!”
Prasetya mengangguk hingga gadis itu merasa heran dengan tingkah laku papa dan, juga kakeknya sampai membuat dia melontarkan pertanyaan untuk mereka. “Memangnya aib apa yang tidak ingin diingat oleh Kakek, Papa?”
__ADS_1
“Kamu bisa tanyakan dengan sendiri pada Kakekmu, Ara ... Papa tidak akan ikut campur karena aib itu membuatnya ....”
Tidak ingin aib yang tertutup diungkit oleh putranya Gunawan mendorong kursi roda untuk menghampiri sang putra yang begitu, berani mengejek dirinya hingga dia berhasil meraih tubuh tinggi tegap Prasetya menyuruh mensejajarkan dengan kursi roda.
Menarik daun telinga Prasetya tanpa memberinya ampun karena dia tidak ingin cucu kesayangannya itu, mengetahui aib yang bagi pria senja itu sangat memalukan jika mengingatnya.
“Ayah!”
“Kau tidak pantas merengek seperti itu, Pras.” Tidak kalah sengit Gunawan membalasnya dengan jemari tidak lepas dari telinga putra sulungnya tersebut. “Jangan sesekali untuk mengungkit aib itu, atau kau akan menerima akibatnya!” ancamnya tidak main-main.
“Ampun, Ayah! Aku tidak akan mengungkitnya dan bisakah melepaskan tarikan jemarimu di telingaku, Yah?”
__ADS_1