
“Tak masalah karena kau telah meracuni pikirannya dengan membuat Prasetya sebagai ayah kandungnya, padahal sejatinya ada seorang anak yang tak dianggap keberadaannya, dan tentu saja itu pasti ulahmu.” Bastian mencebik sinis, karena sudah dipastikan wanita itu meracuni pikiran putri kandungnya sendiri.
Akan tetapi, ia sebagai ayah kandungnya tak akan tinggal diam, ketika melihat tingkah laku putrinya yang tak pernah berhenti melakukan apa yang selalu dilakukan oleh sang putri tersebut.
Saat sang putri meminta untuk melakukan hal yang buruk pun, ia tak akan pernah mau melakukannya, bahkan menginginkan sebuah perjodohan pun tak akan dilakukan, karena Bastian sangat mengetahui tabiat asli putri kandungnya sendiri, dan ternyata menurun dari wanita yang telah melahirkannya.
“Ternyata kecantikanmu sama sekali, tak dapat mengubah apa pun termasuk luka hati yang kau torehkan.” Bastian tanpa sengaja membuka luka lamanya, yang diakibatkan oleh keserakahan seorang Mayang.
“Aku sudah memberimu izin untuk bertemu dengannya, dan bukan untuk membahas hal yang tak ada hubungannya denganmu. Lalu untuk luka, itu juga lukamu sendiri yang terlalu dalam mencintaiku. Padahal sejatinya aku sendiri hanya mencintai Prasetya Gayatri Smith.” Bagi Mayang sendiri cintanya pun juga sama, hanya untuk seorang pria bodoh yang mau saja memenuhi semua permintaannya selama ini. “Kalau kau masih terus mengungkit itu, jangan harap untuk bisa bertemu dengan putrimu. Ingat dan camkan baik-baik.”
Lebih baik ia mengalah, daripada tak dapat bertemu dengan putri kandungnya. Bastian akan melakukan sebuah cara, untuk selalu membuat wanita yang melahirkan putrinya tak berkutik.
Demi persahabatannya dengan Morgan. Ia akan selalu menghentikan sebuah cara yang selalu dilakukan oleh putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
Sekuat apa pun kau bertahan dengan pria bodoh itu, suatu saat nanti pria yang kau cintai itu sendiri-lah, kan memberimu luka tak akan mungkin bisa kau lupakan.
Tak lupa sebagai sahabat ia akan membantu Morgan untuk menyadarkan perasaan arti cinta yang seharusnya untuk Prasetya Gayatri Smith, selama ini ditutupi oleh rasa kebencian yang mendalam di dalam diri pria itu.
Selesai bertemu dengan wanita yang telah melahirkan putrinya, ia akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kelicikan yang bisa saja membuatnya lengah, dan hal itu tak akan pernah biarkan, mengingat ambisi Mayang yang terus meracuni Sonya tak main-main.
***
Sepi sekali! Ke mana mereka semua? Saking terlalu asyik membatin, Rewindra tak menyadari ada pengasuh sang putra tak sengaja menegurnya.
“Permisi, Den. Nggak baik Aden melamun seperti ini.” Mbok Inem menegur yang juga kebetulan melewati ruangan tersebut.
“Mansion sepi sekali, Mbok. Ke mana mama dan papaku?” tanpa membalas teguran, ia justru menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Tuan Besar sedang ada keperluan di luar, dan untuk Nyonya beliau ada di dalam kamar, Den.” Jawaban dari Mbok Inem membuatnya mengerut kening, yang mana ia sedang berpikir keras dengan kedua orang tuanya.
“Pantas saja. Mansion sepi ternyata karena ini.” Rewindra membeo.
Akan tetapi, suara dari Louser yang sedari tadi menguping itu mengejutkannya. “Kata-nya ada yang ingin kau bahas denganku, Ndra?”
“Kau masuklah dulu ke dalam ruang kerjaku. Tunggu aku di sana!” titah Rewindra dingin.
Setelah tak melihat punggung Louser, ia pun menanyakan kembali keberadaan sang putra. “Di mana Ando? Mengapa dia tak ada di sini juga, Mbok?”
“Aden kecil ada di kamarnya, Den.” Kurang puas dengan jawaban pengasuh sang putra, ia akan mencari tahu sendiri setelah urusan dengan Louser selesai.
“Nanti aku ke kamarnya sendiri, Mbok.” Setelah mengatakan hal tersebut, ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja, untuk membahas perihal yang berhubungan dengan dirinya sendiri.
__ADS_1