
“Untuk apa kau ke sana, Sam? Tak mungkin mengenang masa lalu itu, hm?” Alex meledek Samuel dengan bibir mencebik.
“Jangan kepo, Lex!” jawabnya dengan setengah menghardik.
Kemudian kedua orang itu terlarut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Alex menanyakan mengapai Samuel menutupi kebohongan tentang jabatan kantor yang saat ini diemban oleh Samuel.
“Mengapa kau bilang menjabat sebagai wakil di kantormu sendiri, Sam?” Alex membuka suara sekaligus heran dengan tingkah laku dari sahabatnya sendiri.
“Seharusnya tanpa aku menjawab, kau sudah tahu alasanku ‘kan? Mengapa aku menyembunyikan hal ini pada dia!” Samuel enggan menjawab pertanyaan tak penting yang membuat hatinya semakin terluka.
“Pantas saja dia tadi bilang rapat di kantor lain karena sedang melakukan hal menji’jikkan itu ‘kan, Sam?” Alex menanyai sembari menahan tawa melihat respons sahabatnya tersebut tak habis pikir tentang Sonya yang telah mempermainkan perasaan Samuel.
“Jangan menertawaiku!”
Akan tetapi siapa menyangka tawa Alex begitu meledak keras. Ia sungguh tak bisa membayangkan raut wajah Samuel yang begitu frustrasi menghadapi ulat busuk tersebut.
Yang tak lama kemudian deringan panggilan masuk ke dalam ponsel milik Samuel, tanpa membaca nama yang menghubunginya ia mengangkat panggilan tersebut dengan raut wajah yang begitu dingin.
“Ya, Sayang!”
“Aku sudah sampai di parkiran, Sayang.”
“Baiklah aku akan turun ke bawah.”
__ADS_1
Panggilan tersebut di matikan sepihak oleh Sonya, dan mau tak mau dengan bergegas Samuel turun ke bawah untuk menemui Sonya, sembari tak lupa ia memberi perintah untuk Alex mengikutinya secara diam-diam.
Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Samuel telah duduk di samping Sonya yang telah berpindah tempat di depan dekat sang kekasih yang sedang memegang setir kemudi.
Yang tak lama kemudian Alex mengikutinya di belakang untuk berjaga-jaga dari tindakan ulat bulu tersebut.
Selama dalam perjalanan baik Samuel mau pun Sonya lebih memilih diam tanpa ada pembicaraan yang dilakukan oleh keduanya.
Sampai di tempat parkiran Samuel memutar pintu mobil depan untuk membukakan agar Sonya keluar dari mobil yang di kendarai oleh dirinya.
“Mengapa harus ke tempat seperti ini, Sayang?” begitu keluar dari mobil Sonya bertanya pada sang kekasih mengapa mengajaknya ke tempat yang paling dibenci oleh dirinya.
“Sudah-sudah jangan bawel atau kamu ingin aku membatalkan menemanimu belanja?” jawab Samuel dingin dengan sarat nada ancaman.
Aku sangat yakin pria bo.doh di depanku ini sedang mencurigaiku tapi untuk apa? Bukankah selama ini aku menghancurkan hati mereka karena anak pembawa sial itu selalu di eluk-elukan oleh pria tua bangka itu? Bahkan sendiri yang membunuh istri pria tua bangka itu kalau saja dia bisa menerima pernikahan Mamaku dengan anaknya yang bo.doh itu. Tak mungkin aku akan meracuni tubuh rentanya dan membuat cucu kesayangannya di usir dari mansion bahkan menjadi pemburu berita sampai sekarang.
Lamunannya buyar saat Samuel memanggil dan mengajaknya masuk ke taman yang benar-benar Sonya benci karena ada satu alasan yang membuat ia enggan menginjakkan kakinya di tempat tersebut.
Memasukkan kedua tangan di saku celana yang dipakai oleh Samuel tak lupa satu tangannya di apit oleh Sonya sambil berjalan menelurusi taman bermain yang begitu sangat luas sekaligus untuk mengenang masa kelamnya bersama Ela.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?
__ADS_1