Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Berekspresi raut wajah yang begitu datar, ia pun tak bisa menolak permintaan dari anak lelaki tersebut. “Kakak tak mungkin mengkhianati janji yang kita buat tadi. Ngomong-ngomong apa kamu lapar lagi?”


Rolando menggeleng dengan mengatakan ia sedang tak ingin makan, tetapi justru ia sangat ingin segera pulang ke mansion opanya. “Kalau begitu bisakah Kakak mengantarku pulang?”


“Tunggu sebentar Kakak mau mengganti baju.”


Masuk kembali ke dalam kamar pribadinya untuk mengganti pakaian dengan pakaian yang biasa ia pakai tanpa ada riasan yang menempel di wajahnya.


Rolando yang menunggu di depan kamar Kakak cantiknya itu menyuruh sang Dady untuk menunggu di ruang tamu karena kecantikan Araela Ayudia Gayatri Smith hanya untuk dilihat oleh Rolando sendiri.


“Jangan ikutan menunggu di sini, Dad. Di ruang tamu harusnya Dady duduk dengan tenang, karena kecantikannya hanya untukku sendiri.”


Rewindra yang baru pertama kali mengetahui sisi lain dari putranya berdecak kesal, karena Rolando begitu posesif dengan wanita yang telah membuat tubuhnya menjadi tak karuan. “Kamu juga, Boy.”


“Tidak mau, Dad.”


Susah membujuk Rolando, terpaksa ia menunggunya di ruang tamu, sambil terus menatap ke arah sekeliling rumah sederhana yang terlihat rapi, tanpa ada beberapa foto yang biasa menggantung di dinding.


Terlalu lama menunggu yang mana ketika akan menyusul ke kamar sebelumnya, di hadapannya sekarang berdiri seseorang yang membuat seluruh tubuh tak bisa bergerak dengan bebas.

__ADS_1


Sampai teguran dari Rolando membuyarkan lamunannya. “Dad, jangan terpesona dulu karena itu akan membuat air liur Dady menetes.”


“S!alan!” umpatnya dengan pelan yang tak di dengar oleh siapa pun.


Sebab, gadis itu telah berada di depan pintu, yang mana ia kembali mendengar suara teriakan dari sang putra. “Jangan melamun terus, Dad. Aku tahu Kakak cantikku bertambah cantik, dan kalau Dady tak segera keluar dari rumah aku akan memintanya untuk menguncimu dari dalam.”


Begitu sampai di luar rumah Rewindra masih tak mengalihkan pandangannya di hadapan seseorang yang mampu membuat sang putra tersenyum kembali.


Meskipun gadis itu berpenampilan layaknya seorang pria. Namun, ada pancaran kecantikan di dalam dirinya, dan hal tersebut membuat ia tak melepaskan pandangan matanya.


Menyebabkan belalai gajah miliknya yang terasa perih itu pun menjadi sesak ketika melihat kecantikan di dalam dirinya.


Mobil yang di kendarai olehnya pun melaju dengan kecepatan sedang setelah sang putra berhasil membuatnya gemas dengan tingkah lakunya.


Melihat wajahnya saja membuat belalai gajahku berdiri gagah. Berbeda dengan mereka yang merangkak naik ke ranjang. Mungkin sepertinya si belalai gajah menyuruhku berhenti bermain-main. Oke kalau begitu aku akan berhenti dan memeriksamu, tidakkah kau merasa sakit karena tendangan itu?


Sambil mengendarai mobil Rewindra terus membatin, untuk berjanji dengan dirinya sendiri berhenti bermain-main lubang, karena ia juga akan memeriksa belalai gajahnya.


Sebab tendangan yang di alamatkan untuk dirinya masih sangat membekas diingatannya.

__ADS_1


Membutuhkan waktu sekitar beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Rewindra sampai di parkiran mansion, terpaksa ia mengekor sang putra dari belakang yang mana putranya tersebut terus menggandeng tangan mungil itu, seperti tak ingin melepaskannya begitu saja.


“Boy, dia tak akan ke mana-mana. Mengapa terus menggandeng tangannya seperti itu?” Ia sengaja memancing rasa penasaran mengapa putranya tak berhenti menggandeng sampai masuk ke dalam mansion.


“Jangan bawel, Dad. Ingat Dady tak boleh mendekati Kakak cantikku, karena dia hanya milik Rolando Wiratama.” Namun, tak di sangka justru Rewindra tertawa ketika mendengar ke – posesif-an di dalam diri putranya.


“Boleh Dady pinjam Kakak cantik untuk berkenalan dengan Dadymu, Boy.”


Sebelum Rolando membuka suara dari arah terdengar suara sang mama yang sedang menyapa Cucunya tercinta.


“Sayang, baru sampai mansion?”


“Apa Opa tak bilang kalau aku sudah meminta izin ke rumah Kakak cantik?” Rolando balik bertanya.


“Oma tidak tahu, Sayang.” Lalu pandangannya tertuju pada Araela yang sedari tadi tak ingin di lepas oleh anak lelaki itu. “Apa kabar untukmu, Nak! Apa dia menyusahkanmu?”


“Tidak, Tante. Dia sangat lucu dan menggemaskan, dan sedari tadi tak mau melepaskan genggaman tangannya.” Araela tergelak lucu dengan tingkah laku dari Rolando. “Kabar saya baik, Tante. Saya meminta maaf karena terlambat mengantarnya pulang.”


“Tak perlu meminta maaf padaku, kalau denganmu Ando begitu nyaman aku tak akan pernah mempermasalahkannya.” melihat putranya yang terus menatap gadis itu tanpa kedip. Ia pun berdehem sambil menyindir dengan terang-terangan. “Penjahat si anu, apa kamu terpesona dengan kecantikannya?”

__ADS_1


__ADS_2