Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Misi pertamanya


__ADS_3

Rolando, anak lelaki itu tak menyadari kehadiran sang oma yang juga sama seperti dirinya, dan tiba-tiba ia terkejut dengan sebuah bisikan lembut yang terdengar ditelinganya. “Apa kamu sangat menginginkan keluarga yang seperti ini, Sayang?”


“Oma!”


“Pelan-pelan ya, Sayang. Jangan sampai membangunkan mereka, yuk ikut oma sebentar.”


Setelah keluar dari kamar pribadi sang cucu. Dahlia kembali menanyai keinginan cucunya, yang sungguh sangat terlihat disorot mata kerinduan itu. “Sayang, apakah kamu benar-benar menginginkan keluarga seperti yang kamu mimpikan?”


Anak lelaki itu mengangguk, sejak lama ia begitu sangat menginginkan sebuah keluarga lengkap, dan saling mencintai, “ya, Oma ... aku benar-benar merindukan suasana seperti yang kupandangi baru saja.”


“Kalau begitu maukah kamu membantu, Oma?”


“Kalau untuk menyangkut tentang Dady ... aku akan melakukannya, Oma!”


“Good, Boy. Kemarilah ... biar Omamu membisikkan sebuah misi, yang harus kamu lakukan dan misimu jangan sampai ada yang tahu. Termasuk pembacamu yang selalu menanyakan kapan Dadymu bersatu. Jadi lakukan misi ini, untuk dirimu dan juga kakak cantikmu itu. Bisa?”


“Baik, Oma!” Tak lupa Rolando menempelkan telinga, yang bersamaan itu omanya membisikkan sebuah misi untuk dilakukan oleh dirinya. “Apakah itu akan berhasil, Oma?”


Dahlia enggan menjawab pertanyaan dari sang cucu, dikarenakan dirinya begitu yakin dan sangat percaya, dengan ini tanpa dijodohkan pun kedua orang yang sedang berpelukan mesra, dapat bersatu dengan sendiri dan ada cucunya yang mengambil kendali.


“Baiklah, Oma. Ando akan melakukan misi ini untukku sendiri, semoga saja mereka mau mendengarkan doaku.” Harapan dan untaian doa, tak pernah luput dari bibir anak lelaki tersebut.


“Amiin, sayang.” Dahlia menyahutnya dengan senyum tulus, dan dilanjutkan memberi semangat pada cucunya. “Semangat dan buatlah, Dadymu menaklukan kakak cantikmu itu. Oke.”


Tanpa membahasnya kembali, dan demi misi yang sedang dilakukan oleh dirinya, terpaksa anak lelaki itu membiarkan kedua insan yang masih berpelukan mesra di kamar pribadinya, tanpa terganggu sedikit pun sampai salah satu diantaranya, mengerjap-ngerjap kelopak mata dan menyesuaikan diri sembari terheran tubuhnya dipeluk mesra.


Siapa yang memeluk tubuhku seperti ini? Tunggu ... bukankah semalam aku —


Begitu mengetahui seorang yang sedang memeluknya, tanpa sengaja gadis itu tak lain Araela, menendang sekuat tenaga yang menyebabkan tubuh kekar Rewindra, jatuh akibat tendangan mematikan darinya. “Oh, shi’t!” umpatnya, sembari memegang pinggangnya, yang sedang meringis sakit.


“Kenapa kau tidur memeluk seperti ini, Om? Apakah aku mengenalmu dari dekat?” tanya gadis itu tanpa memedulikan, pria yang sedang meringis sakit, karena tendangan mematikan darinya.


“Ini kamar putraku, memelukmu atau, tidak itu urusanku,” ujarnya dengan santai, tapi batinnya mengumpat geram, dasar bar-bar sekali, dia. Belum juga ku apa-apain, sudah dua dia kali menendang ku. Terpenting aku puas, dengan ini dirinya sudah ku-tandai sebagai milikku.

__ADS_1


“Om ....” Menggeram marah, karena pria itu terlihat santai, dan juga pandangan matanya menyelidik ke segala arah kamar itu, demi mencari keberadaan seseorang yang sama sekali tak ada didalam kamar tersebut.


“Kau mencari, Ando bukan?” demi bisa akrab dengan gadis itu, Rewindra tanpa banyak kata menyahut pikiran seseorang, yang sedang mencari keberadaan putranya. “Dia mungkin ada, di kamar sebelah, kamar milik oma opanya.”


Begitu mengetahui orang yang dicari Araela, sedang berada di kamar sebelah, tanpa membuang waktu banyak dengan langkah terburu-buru, gadis itu pun beranjak dengan meninggalkan Rewindra seorang diri, tanpa memedulikan teriakan yang memanggilnya. “Hei, kau —”


Langkah kaki gadis itu terhenti, ketika ia melihat wajah teduh nan menggemaskan, dari anak lelaki yang membuatnya kelabakan saat mencarinya. “Kenapa, Kak?” tanya Rolando dengan tatapan mata polosnya.


“Kenapa tadi tak membangunkan kakak, Sayang?” Araela balik bertanya.


“Tidurmu begitu sangat nyenyak, Kak. Jadi, mana tega aku membangunkanmu.”


“Kak —” mendadak tenggorokannya tercekat, ketika dirinya akan mengutarakan perasaan, saat tidurnya dalam posisi berpelukan seperti itu.


“Apa kamu akan mengatakan, bahwa tidurmu tak nyaman, karena dipeluk mesra dengan dady-ku, begitukah?” Rolando memotong, dengan menyeringai licik.


“Jangan keras-keras dong, sayang. Nanti ada yang mendengar obrolan kita, dan membuat kepala-nya jadi besar.” Araela berbisik pelan, sembari menahan sedikit malunya, karena anak lelaki itu justru menanyakan hal yang tak biasa.


“Kepala-nya besar pun tak masalah, Kak,” sahut Rolando, dan misi usaha pertamanya sedang dilakukan oleh dirinya, sedikit membuahkan hasil.


“Ya, Kak.” Rolando pun menyahut, sembari mengarahkan tatapan dingin, ditujukan untuk sang Dady yang tiba-tiba menggagalkan misi pertamanya.


“Maaf untuk hari ini, sepertinya Kakak tak bisa ikut sarapan bersama kalian. Bisakah sampaikan, pesan maaf Kakak, untuk omamu?” pinta gadis itu, dengan tatapan memohon.


“Baiklah. Akan kusampaikan kepada, Oma. Terima kasih, sudah mau bermalam di kamarku.” Memeluk tubuh ramping itu, sembari mengungkapkan rasa bahagia, dan juga tak lupa menjulurkan lidah ke arah Dady-nya, demi bisa mengejek sang Dady karena dirinya sendiri pun bisa bebas memeluk Kakak cantik sesuka hatinya.


Kenapa kau tega sekali, Boy? Tahu tidak pinggang Dady masih sakit, karena dua kali ini ditendang oleh kakak cantikmu itu, dan kamu justru meledekku dengan seperti ini? Dasar! Awas saja tunggu pembalasan dari Dady.


Kedua pria beda generasi itu pun, tak lagi melihat keberadaan punggung gadis cantik, yang membuat keduanya seperti mendapatkan ....


*


*

__ADS_1


*


Araela yang berjalan tergesa-gesa, mengumpat geram dengan tingkah laku, dari pria yang tubuhnya dipeluk mesra seperti itu, dan begitu sampai di depan pintu gerbang yang tanpa menghiraukan sapaan, dari penjaga pintu tersebut sembari menengok ke kanan dan kiri.


Membuat dahi gadis itu mengerut heran, dengan jalanan yang terdengar familier diingatannya.


Bukankah jalan arah ini, menuju rumah kakek? Apa aku ke sana saja? Sudah sangat lama aku tak mengunjungi rumah kakek, dan juga Om yang selalu memanggilku baby.


Setelah menimbang pikirannya. Ia pun memutuskan mengarahkan, sang sopir taksi untuk mengantarkannya, ke tempat rumah kakek dan didalamnya terdapat banyak kenangan, tak akan bisa dilupakan oleh gadis tersebut.


Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi telah sampai ke tempat tujuan, setelah membayar argo tanpa menerima kembalian dari sopir taksi itu, dengan gerakan cepat ia berlari masuk ke dalam rumah sang kakek.


Tak menduga justru sang kakek menyambutnya seperti biasa. “Akhirnya kamu pulang juga cucuku, sayang.”


“Bagaimana kakek bisa tahu, kalau aku akan mengunjungimu?” tanya Araela dengan raut wajah bingung.


“Kemarilah, dan peluklah, pria tua ini. Baru setelahnya, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu itu.”


.


.


.


.



Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang sikapnya begitu dingin namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.


Bagaimanakah sikap mereka di kampus?


Akankah mereka saling mencintai?

__ADS_1


Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?


__ADS_2