
“Proses kerja sama kita, aku serahkan pada asistenku. Kau pasti akan menyukai hal ini, Bro.” David memberi penjelasan yang membuat, Rewindra tersenyum puas mendengarnya. “Selain ini apa ada yang ingin kau bahas lagi, Ndra?”
Rewindra menggeleng hingga tak lama kemudian mereka membahas tentang masa lalu, sedangkan di Mall tempat Araela menyenangkan sang putra sampai membuat gadis itu, tersenyum dipaksakan untuk menutup sebagaian perasaan gelisah yang sedang dirasakannya.
Sampai tak menyadari jika sang putra telah selesai bermain di time zone, bersama beberapa anak jalanan dengan Rolando membuatnya tersentak.
“Kenapa Mama melamun? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Ma?”
Bukan itu saja, salah satu dari anak-anak juga melontarkan pertanyaan yang sama. “Kakak melamunkan apa? Apa karena kami?”
“Tentu saja bukan dong, Sayang. Maaf, telah membuat kalian khawatir.” Gadis itu berujar sembari mempersiapkan diri, dan enggan membagi bebannya pada siapa pun. “Kalian tak perlu khawatir, setelah ini Kakak akan menyewakan angkotan, untuk mengantarkan kalian ke tempat rumah singgah milikku! Apa ada yang mau tinggal di sana?”
Mereka kompak mengangguk, hingga tak lama kemudian usai menyewakan angkotan tersebut, saatnya gadis itu mengajak sang putra kembali ke rumah sederhana miliknya.
Hanya berselang sekitar empat puluh lima menit kemudian, motor sport milik Araela sampai di pintu gerbang rumah sederhana, dan masuklah sepasang ibu — anak ke dalam rumah sederhana dengan ketambahan penghuni.
__ADS_1
“Bolehkah aku membuka kadoku di kamar, Ma?” Rolando meragu dan sedikit takut, hingga gadis itu langsung tanggap dengan ketakutannya.
“Tidak apa-apa buka saja, jangan takut untuk melihatnya.” Lontaran kata sembari mengelus pucuk kepala sang putra. “Kamu pasti tak akan menyesal melihat isi dari kado yang Mama berikan untukmu!”
Usai memberi kecupan singkat di kedua pipi gadis itu, Rolando bergegas masuk ke dalam pribadi untuk melihat isi dari kado tersebut, sedangkan pandangan Araela menjadi dingin sembari melangkah kaki ke kamarnya, untuk melakukan apa yang harus dilakukan sebelum kursi singgasana sang kakek di duduki oleh gadis itu.
Memasuki kamar pribadi Rolando meletakan tas, bersamaan melepas sepatu tapi enggan mengganti pakaian, pria kecil itu begitu penasaran dengan isi kado dari sang mama tercinta.
Merobek kertas kado yang terbungkus rapi sampailah terpampang nyata sebuah figura bersama, foto seorang wanita cantik tengah menggendong bayi merah di dalamnya.
Lama menatap wajah sang mommy tercinta membuat pria kecil itu teringat, dengan surat yang ditulis oleh mama-nya, bersamaan itu ia pun menemukan dua buah surat yang tertulis rapi.
Memegang dua surat yang membuatnya bingung untuk membacanya, sampailah pada tulisan rapi yang tertuang oleh mendiang mommy tercinta.
Seseorang yang membuat pria kecil itu terlahir ke dunia sampai-sampai, ia mengabaikan surat yang berasal dari mama Araela.
__ADS_1
“Jangan marah dulu ya jika aku membaca surat dari mommyku dulu ma.”
'To : Rolando Wiratama.'
'From : Mommy.'
'Halo, Nak? Apa kabarmu hari ini? Tentunya anak ganteng mommy selalu sehat, ya. Selamat ulang tahun, semoga apa yang kamu inginkan disegerakan. Mommy tak bisa memberimu kado indah selain surat, yang sudah sangat lama tertuang oleh tulisan ini. Melalui tulisan ini mommy tak minta banyak darimu, Nak. Mommy hanya ingin putra tersayangku jadi anak yang kuat, tanpa menangis maupun mengeluh pada takdir ini. Mommy pergi karena sudah habis masa di dunia, tapi percayalah cintaku akan selalu melekat di hatimu! Sampaikan pada daddymu, untuk tak terlalu bersedih atas kepergian mommy. Kalian harta berharga yang pernah mommy punya dan terima kasih, telah hadir untuk menjadi penyemangat hidupnya. Cukup sekian surat yang mommy tulis, moga-moga di lain waktu kita bertemu di suatu tempat.'
Tanpa terasa air mata pria kecil itu meluruh sendiri, bersamaan lidahnya menjadi kelu.
Tak dapat diungkapkan oleh kata-kata ketika ia membaca isi surat dari mendiang mommynya, tetap tak bisa membuatnya dekat dengan sang daddy karena hatinya masih terluka.
“Aku tetap tak bisa memaafkan luka yang ditorehkan oleh daddy. Namun, untuk kali ini aku akan mengupayakan berdamai pada takdir yang mommy katakan disurat iti.”
Kemudian pria kecil itu membaca isi surat dari mama Araela bahkan isinya, tidaklah sama dengan surat yang baru saja dibaca.
__ADS_1