
Araela yang masih berada di rumah sang kakek, saat ini gadis tersebut sedang mengerjakan tugas skripsi yang tertunda, tapi pikirannya melayang kejadian dimana ia tertidur terlelap dengan didekap mesra oleh seorang pria, tak lain tak bukan si duda messum yang haus belalaian.
Ketika ia akan menggeram sembari mengumpat, tanpa sadar deringan ponsel tiba-tiba berbunyi yang mengejutkan dirinya, dan mau tak mau terpaksa gadis itu pun mengangkat panggilan, dimana sang sahabat sedang menghubunginya. “Ada apa, Fa?”
“Kemana saja kamu, Ra? Sudah berhari-hari tak melihatmu di kampus ... apa kamu sedang ada masalah?”
“Aku tak ada masalah apa pun, tapi memang sengaja mangkir dari dosen, dan kamu seperti tak tahu sifatku saja. Kenapa memangnya?” jawab gadis itu, sembari balik bertanya.
“Aku kesepian di kampus, Ra,” dari arah seberang ponsel dengan Asyifa, saat ini sedang membagi cerita kepada sahabatnya. “Tahu tidak kemarin malam aku hampir saja mendapat perundungan.”
“Hah! Maksudnya apa?” bagaimana tidak terkejut mendengar penuturan dari sahabatnya itu. “Katakan dengan jelas, dan jangan membuatku bingung dengan penuturan itu, Fa.”
“Ck, aku lupa bercerita denganmu membuatku ingin mengumpati saja.” Gadis dari arah seberang mengeluhkan tingkah laku dirinya. “Aku akan mengulang kembali, tapi setelah itu tak ada siaran ulang. Oke.”
Terdengar helaan napas panjang dari sang sahabat, yang merasa tak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dari dirinya, sehingga mau tak mau sahabatnya menceritakan kejadian sebenarnya dan ia sendiri menyimak dengan saksama.
“Bagaimana kejadian itu bisa menimpamu, Fa?” setelah mendengarkan semua cerita sekitar lima belas menit berlalu, gadis itu memberanikan diri menanyai kepada sang sahabat tentang kejadian perundungan itu.
“Itu kejadiannya serba mendadak, tapi pada waktu itu juga ... ada seorang pria yang datang menolongku.”
Mendengar penuturan dari sahabatnya, membuat gadis itu mendengkus kasar, dengan sang sahabat yang selalu ceroboh, dalam bertindak. “Lain kali jangan ceroboh, dan bertindak gegabah saat jalan sendiri... kau tahu sendiri-kan kalau saja aku tak ada di sisimu ... sudah pasti tak akan ada yang mau menolongmu kalau bukan pria kau ceritakan itu.”
Lalu gadis itu kembali mengingatkan pada sang sahabat, untuk tak jatuh cinta pandangan pertama, dengan pria yang menolongnya. “ingat satu hal yang harus kau tahu, setelah bertemu dengan pria yang menolongmu, jangan menaruh minat apa pun karena bisa saja, dia menolongmu hanya merasa kasihan saja dan secara kebetulan, tak sengaja melihatmu mendapat perundungan itu. Apa kamu paham, Fa!”
“Maaf, Ra ... aku akan selalu mendengarkan semua nasehat darimu, tapi bagaimana bisa kamu berkata demikian? Apakah kamu pernah bertemu dengannya?”
“Bukan pernah bertemu, Fa ... hanya saja aku tak ingin kamu terlalu cepat mengambil keputusan sepihak ... usahakan mantapkan hatimu jika kamu benar-benar tertarik dengan seorang pria ... atau pria itu yang menarik hatimu terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Baiklah, Ra. Aku akan berhati-hati mengambil keputusan, dan terima kasih sudah mau menjadi sahabatku. Karena kehadiranmu di kampus benar-benar membuatku membuka mata, untuk terus belajar dan menggapai cita-cita yang kuinginkan.”
Kedua gadis tersebut menghabiskan waktu, dengan mengobrol banyak tentang, tugas skripsi yang membuat keduanya dibuat pusing kepala, dan obrolan itu berakhir dengan dirinya yang terlebih dahulu mematikan sambungan secara sepihak.
Karena nanti sorenya, setelah dari rumah sang kakek, gadis itu akan mengunjungi kampus untuk memberikan tugas skripsi yang tertunda, kepada dosen terkenal galak di kampusnya.
Kemudian ia teringat dengan kejadian yang menimpa sang sahabat, dan terpaksa dirinya jugalah melacak kejadian perundungan itu.
Jemari lentiknya begitu sangat lincah ketika menari di atas keyboard laptop, lalu tak lama kemudian saat tengah mengarahkan pandangan matanya pada seseorang pria yang menolong sang sahabat, seketika itu ia terkejut dengan seorang pria dan gadis itu begitu sangat mengenalinya.
Whats! Bagaimana bisa ada dia di tempat itu? Apakah pertemuan mereka cuman kebetulan? Atau jangan-jangan tak disengaja kebetulan bertemu ... menyusahkan!
Bersamaan itu ia memutuskan untuk menghubungi seseorang, dan menyuruhnya menangkap lalu membawa penjahat tersebut, untuk dibawa ke markas tempat persembunyiannya.
*
*
*
Kehidupan pribadinya menjadi berantakan, saat ayahnya dan mendiang ibu, menjodohkan dirinya dengan seorang wanita tak begitu kenal dekat, bahkan sampai sekarang pria paruh baya itu sama sekali enggan mengakui penyesalan didalam relung hati terdalam atas perbuatan, terhadap mendiang istri pertama yang telah memberi seorang malaikat kecil untuk mendapatkan kasih sayang nyata. Namun, justru ia tak menganggap anak kandung sendiri ada karena hasutan dari istri kedua, tak lain wanita yang telah berhasil menggeser posisi mendiang istri pertama Prasetya sendiri.
Apakah kau benar-benar membawa cintamu yang tak pernah mendapat balasan dariku? Mungkinkah aku bisa mendapat kata maaf darinya yang tak pernah ku-anggap? Kau tahu sampai sekarang aku masih tak bisa melupakan rasa nikmat dari tubuhmu, tapi aku enggan mengakuinya karena hatiku yang saat ini mulai bimbang, dan sampai kapan kau tak menghantui rasa bersalahku kepadamu? Aku benar-benar tersiksa dengan rasa bersalah ini, dan jujur saja hatiku benar-benar cemburu saat adikku selalu menyebutmu didepanku. Mengapa harus dia yang mencintaimu terlalu dalam? Bisakah aku memulai kembali kehidupan dengan putrimu meskipun aku terlambat mengakuinya.
Diam-diam pria itu akan memulai kehidupan, untuk menebus kesalahan dengan mendiang istri pertamanya, dengan menunggu sebuah bukti yang sedang dilakukan oleh sang adik tercinta.
Untuk menutupi rasa kekhawatirannya, ia memutuskan akan mencari tahu sendiri, seperti apa peringai wanita yang membuatnya dibutakan cinta palsu, sebab pria itu merasa berbeda dengan tingkah laku dari Sonya, seorang anak yang sama sekali tak mengalir darah didalam tubuhnya.
__ADS_1
Karena ia juga tak ingin perusahaan yang telah melebarkan sayapnya, jatuh ke tangan salah dan untuk itulah pria itu memastikan bukti kebenaran sedang dinantikan.
Tak ingin berlama-lama merenungkan kesalahannya, dengan gerakan cepat tangan kanannya menyambar sebuah introform, dan menghubungi sekretaris untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Ada perlu apa Anda memanggil saya, Pak?” begitu masuk ke dalam dan menutup ruangan atasannya, sekretaris itu membungkuk hormat sembari, menanyakan tujuan sang atasan memanggil dirinya.
“Aku ingin kau mengalihkan beberapa semua aset pribadiku, dengan berganti nama Araela Ayudia Gayatri Smith. Apa kau bisa melakukannya?” Menitah tanpa berbasa-basi.
“Apa Anda yakin melakukan semua ini?” karena dari yang sekretaris itu tahu, selama ini hanya Sonya satu-satunya dielu-elukan, dan ia begitu sangat membenci anak atasannya yang selalu semena-mena, kepada dirinya mau pun karyawan kantor lain.
“Lakukan sekarang!”
.
.
.
.
.
Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?
Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?
__ADS_1
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia