
“Bagaimana kalau aku menemanimu berkunjung ke makam mereka, Kek?” tawar gadis itu, sembari menanyai pendapat kepada kakeknya.
“Apakah kamu tidak kuliah, dan bekerja, Nak?” Gunawan membalik pertanyaan dengan penuh selidik.
“Aku rindu mama dan nenek, Kek. Untuk masalah pekerjaan biar nanti aku minta izin cuti, dan kalaupun dipecat secara tidak hormat karena aku membolos ... tak masalah bagiku, lagipula aku bisa mencoba menjadi office girl di kantor papa, dan apakah kakek mengizinkannya?”
“Baiklah. Kakek tak akan menanyai kembali tentang pekerjaan, dan mengenai kamu bekerja di kantornya ... apa kamu tak masalah menjadi office girl di kantor itu, secara dari yang kakek dengar mereka hanya mengenal Sonya sebagai putrinya. Lagipula apa sudah siap dengan risiko yang kamu ambil?”
“Aku tak peduli, Kek. Karena bagiku kemewahan tak perlu diperlihatkan, dan aku lebih suka menjadi seseorang yang sederhana, seperti dilakukan oleh mendiang mamaku.” Tanpa ragu gadis itu, memantapkan diri menjadi bagian dari dirinya sendiri.
“Inilah yang kakek suka dari mendiang mamamu, dan ternyata sifatmu tak jauh berbeda dengannya. Ada alasan lain mengapa dulu kakek menjodohkan mama dan papamu, semua itu karena sifat yang kamu bawa didalam dirinya. Meskipun kenyataannya ka —”
“Mau mengatakan bahwa aku sangat membencinya begitu, Kek?” selanya cepat.
“Ya, dan itu sangat terlihat jelas diraut wajahmu ... apakah kakekmu salah menilai?”
“Tidak.”
Karena apa yang dikatakan oleh kakeknya, benar-benar nyata tentang kebenciannya, dan selama ini tumbuh sendiri, saat sang papa menorehkan luka lara seumur hidup gadis tersebut.
“Kamu benar, Kek. Aku memang membencinya karena luka lara yang ditorehkan, dan untuk mendapatkan maaf dari mungkin itu tak akan terjadi. Karena luka itu telah mengajarkanku banyak hal, termasuk menjadi seseorang yang diinginkan oleh mendiang mamaku.”
Gunawan yang mendengar suara hati dari sang cucu, tak kuasa menahan tangis didalam batinnya, mengutuk atas perbuatan selama ini dilakukan oleh putranya. “Kemarilah, dan peluklah kakekmu ini, untuk meredamkan luka yang ada didalam sana.”
Meskipun gadis itu begitu terlihat tegar, tapi pada kenyataan ada luka sedang berusaha disembuhkan, dengan menerima garis takdir yang telah menjadi jalannya.
Setelah hatinya tenang hanya memeluk, dan mendekap erat tubuh pria senja yang cintanya tak lekang oleh waktu, sembari menghapus jejak air mata gadis itu berpamitan pada sang kakek, untuk berangkat ke kampus dan menyerahkan tugas skripsi kepada dosennya. “Terima kasih banyak untuk cintamu, Kek ... kalau begitu aku pamit untuk berangkat ke kampus!”
“Naik apa ke kampus?”
“Taksi, Kek.”
“Pakai motor, atau mau diantar, dengan penjaga bayanganmu?”
Gadis itu menolak dengan menggeleng kepala. Karena dirinya benar-benar tak ingin menjadi konsumsi publik. “Oh, ayolah jangan begini, Kek. Tahu sendiri bukan sifat cucumu ini seperti apa?”
“Baiklah kakek mengalah, tapi untuk penjaga bayangan jangan menolak, dan itu mutlak untuk menjaga serta mengawasimu dari kejauhan. Paham!”
__ADS_1
Tanpa membalasnya, gadis itu memberi kecupan lembut dikedua pipi sang kakek, dan setelah itu ia berlari, untuk memesan taksi yang sedang menunggunya.
Setelah masuk ke dalam sebuah taksi yang dipesan, dan memerintahkan sang sopir menjalankan mobilnya sedang mengarah ke kampus, sembari meminta maaf kepada sopir taksi tersebut. “Maaf telah membuatmu menunggu, Pak.”
“Anda tak perlu meminta maaf, Non.”
Tak ada yang diobrolkan oleh mereka, hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit kemudian, taksi yang ditumpangi gadis itu telah sampai didepan gerbang kampus, setelah membayar cargo tanpa meminta kembalian.
Araela Ayudia Gayatri Smith melangkah kakinya masuk ke dalam kampus tersebut, tanpa memedulikan tatapan sinis dari mahasiswa/siswi di kampusnya, dan tujuan gadis itu mendatangi kampus hanya untuk menyerahkan tugas skripsinya.
Dosen killer yang telah menerima dan memeriksa tugas skripsi dari mahasiswinya, tanpa membuang waktu banyak ia meminta Araela, untuk menunggu sebentar sebelum dipanggil kembali, lalu tak lama kemudian dosen tersebut memberikan selamat atas kelulusannya, yang telah menyelesaikan skripsi tanpa ada kesalahan sedikit pun.
“Terima kasih banyak, Pak.”
“Apa kamu tidak tertarik dengan beasiswa s2?” tawar dosen itu, sembari memastikan mahasiswi kesayangannya.
“Nanti aku akan mengabarimu, Pak. Maaf bukan bermaksud menolaknya. Kalau begitu aku pamit ya, Pak.” Tak lupa gadis itu, mencium punggung tangan dosennya, sebagai bentuk rasa hormat disaat teman-teman lainnya merasa malu menunjukkan rasa hormat tersebut.
Siapa pun dirimu, tetaplah menjadi seperti ini. Karena sikapmu mengingatkanku pada seseorang, dan sampai sekarang aku tak pernah sedikit pun, mendengar kabar tentang mahasiswiku dulu.
Jauh sebelumnya dosen dan terkenal killer itu pun, merasa de javu dengan tindakan dilakukan oleh mahasiswinya yang bernama Araela, hal tersebut membuat pria itu teringat dengan seseorang.
“Apa yang sedang kalian lakukan?”
“Wah-wah sepertinya ada pahlawan di sore hari ini.” Salah satu pembully mengejek, dan menatap sinis ke arah dirinya.
Akan tetapi gadis itu tak memedulikan ejekan yang dilontarkan oleh pembully itu, dan sebaliknya dirinya dibuat geram ketika melihat para pembully tak mempunyai perasaan.
“Jangan mentang-mentang orang tua kalian pengusaha sukses, bisa memperlakukannya seperti mainan.”
Pemimpin pembully itu pun maju, dan menantang balik pernyataan yang dilontarkan oleh dirinya. “Siapa sebenarnya kau? Apa kau tak tahu siapa aku di kampus ini, hah!”
“Tak ada untungnya aku mengetahuimu, dan sebaiknya urungkan niatmu membully dia. Karena aku tak akan tinggal diam, saat kalian bisa berbuat semena-mena.”
“Kau ....” Sembari menunjuk dengan jari telunjuk, pemimpin pembully berusaha menamparnya.
Akan tetapi, dengan cepat ia menangkis, dan menampar balik, tak lupa gadis itu mendorong, hingga jatuh terjerembat ke tanah, sembari menolong seseorang yang dibully itu.
__ADS_1
Karena tak terima mendapat bullyan balik, para pembully menyerang gadis itu, dan siapa yang menyangka mereka pun kalah telak dengan, seorang gadis tiba-tiba datang menolong korban.
Setelah membawa korban bullyan di tempat yang aman, dan ketika ia mengangkat wajah dirinya dikejutkan, dengan kenyataan bahwa wajah gadis menolongnya begitu merasa familier diingatannya.
Kenapa wajahnya mirip dengan seseorang? Apakah mataku tak salah melihat? Tak mungkin dia yang menolongku, anak dari ....
“Ada apa dengan wajahku?” Araela menanyai, sembari menatap lekat mata gadis yang ia tolong.
“Maaf aku tak sopan menatapmu terlalu lama.” Dalam batinnya, ia mengumpati tingkah lakunya. Karena terlalu lama menatap gadis yang menolongnya.
.
.
.
.
.
Blurb
Disarankan untuk membaca novel My Wife SUGAR MOMMY terlebih dahulu ya gaes.
Setelah melewati malam panas dalam keadaan mabuk, dengan seorang pria yang usianya sudah sangat matang. Hazel Carter memutuskan untuk menjadi sugar baby dari pria tersebut.
Meskipun Hazel Carter sangat mengenal siapa sosok pria tersebut. Bukan hanya mengenalnya, Hazel Carter juga sangat mengenal baik keluarganya termasuk istrinya.
Apa sebenarnya yang Hazel inginkan dengan menjadi sugar baby? Sedangkan dia sudah memiliki segalanya.
Tak mungkin bila hanya untuk mencari kesenangan? Mungkinkah ada maksud lain?
Penasaran? Cus silakan di baca.
Warning
__ADS_1
Hanya cerita fiksi, yang tidak suka silakan skip ya gaes. Semua pemeran yang ada di dalamnya, tidak patut di contoh!!!!!!!!!!