Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Siapa gadis itu mengapa aku tak bisa melacak identitasnya dengan mudah? Bahkan aku merasakan aura di dalam dirinya penuh misteri dan satu hal lagi wajahnya begitu tak asing tapi siapa?


Setelah memutuskan panggilan itu. Sambil menyetir Pramana terus memikirkan tentang seorang gadis yang telah menolong sang Cucu tercinta. Hal tersebut terus membuatnya merasa bingung dan pusing tentang keberadaannya yang tak bisa dilacak dengan mudah.


***


Kembali di dalam ruangan pribadi milik Rewindra yang melihat sorot mata napsu milik Sonya. Membuat ia tersenyum tipis dan pasti bisa menebak bahwa dipikiran wanita tersebut. Bahwa dirinya akan tergoda kembali tapi yang ada justru hal itu pun membuatnya merasa hilang napsu.


Mengingat sebagai seorang pemain wanita ia sebenarnya enggan menikmati tubuh yang sama dan kali ini terpaksa menerima agar Rewindra mengetahui tujuan asli dari wanita yang bernama Sonya.


Tanpa berbasa-basi Sonya berjalan menghampiri Rewindra yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan melenggak-lenggok sambil terus memperhatikan raut wajah dingin pria tersebut.


Tepat di depan kursi kebesaran milik Rewindra. Sonya mendudukkan bokong di atas pangkuan pria itu. Ketika bibirnya hendak di dekatkan Rewindra enggan bercium dengannya dan mengatakan bahwa pria itu menolak bibir bersentuhan.


“Kau boleh menikmati semua tubuh ini tapi tidak dengan bibirku. Paham!”


Batin Sonya mengumpat geram karena ia tak bisa menikmati bibir tersebut tersebut kedua kalinya. 'Tunggu pembalasanku.'


Tak lupa jemari lentiknya mengusap pelan da.da bidang Rewindra Wiratama sampai membuat pria tersebut terbakar gairah.

__ADS_1


Menge.cup pelan sebuah ke.cup4n yang Sonya daratkan di da.da bidang terbuka dengan menampilkan tubuh berotot terdapat sebuah tato milik Rewindra.


Permainan semakin memanas manakala bibir Sonya melahap begitu liar benda panjang yang telah berdiri tegak tanpa menyadari bahwa Rewindra telah terbakar karena permainan dari wanita tersebut.


Tak lupa ia Rewindra telah menyiapkan sebuah benda yang akan digunakan untuk menutup kepunyaannya. Namun, Sonya yang melihat itu pun mendengkus kesal, ketika ia harus menerima kenyataan bahwa pria itu, tak akan pernah mau bercinta tanpa menggunakan suatu pembungkus untuk menutup benda panjang kepunyaan Rewindra.


Ketika Rewindra telah mencapai suara khas basah dan berat, setelah membungkus benda yang berdiri tegak ia pun berbalik memulai permainan yang sedang dimainkan oleh dirinya.


Sambil terus menge.cup setiap inci tubuh ramping tersebut. Tak lupa Rewindra mengeluarkan kelincahan bercinta selama ia bermain-main di atas tubuh wanita yang selalu menghangatkan napsunya.


Tubuh ramping itu menggeliat dengan hebat saat Rewindra berhasil membuatnya terbang di atas awan yang kini akan berganti memasuki ke dalamnya.


Racauan demi racauan membuat Rewindra semakin bersemangat dan terus membuat Sonya melayang-layang di atas awan.


Jadi, bila di atas ruangan milik Rewindra sedang ada dua sejoli yang saling memuaskan hasrat. Lain halnya yang dilakukan oleh Araela setelah masuk ke dalam gedung kantor dan membalas sapaan orang-orang.


Ia melanjutkan langkah ke arah tempat menggantikan kemeja putih dengan seragam khas milik kantor tersebut. Niken yang datang lebih dulu menyapa dan menanyakan mengapa bisa terlambat ke kantor. “Mengapa telat, La?”


“Oh itu aku tadi ada urusan sebentar, makanya telat datang ke kantor. Kenapa, Nik?” jawab Araela dengan balik tanya.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, La tapi ....” Niken sedikit ragu untuk mengatakan hal ini pada rekannya.


“Ada apa, Nik?” Araela pun sama dengan rekannya dari raut wajah Niken.


Mengembuskan napas gusar Niken pun menceritakan sedikit tentang pembicaraan karyawan yang masuk ke dalam pendengarannya.


“Jangan naik ke lantai atas, La!” pinta Niken dengan tegas. “Aku tadi enggak sengaja dengar semua orang sedang membicarakan wanita yang masuk ke kantor ini dan naik ke atas lantai itu.”


“Kau ini, Nik, suka sekali mendengar gosip orang-orang.” Diam-diam ia ingin memastikan sesuatu karena tugasnya adalah membersihkan ruangan di lantai paling atas.


“Please, La!” Raut wajah Niken yang terbaca di mata Araela tak membuat nyalinya menciut.


Yang terpikirkan oleh dirinya saat ini adalah untuk menegur seorang wanita yang tak mempunyai sopan santun masuk ke dalam kantor. Tanpa di sadari oleh Araela bahwa wanita yang dimaksud itu merupakan saudara tirinya.


“Kalau enggak ditegur nanti tempat ini bukan kantor namanya, Nik. Akan tetapi, malah dibuat aneh-aneh nanti.” Bukan jiwa kepo yang ia tegakkan tapi jiwa lain di dalam diri Araela yang tak ingin kantor tersebut menjadi tempat menji'jikkan.


Apalagi masih teringat dengan jelas diingatannya yang menemukan benda dengan isian di dalamnya. Membuat Araela begitu ji'jik dengan benda tersebut.


Si'alan kenapa pikiranku masih teringat dengan benda itu, ya? Sungguh sangat menji'jikkan untuk ukuran seorang pemimpin yang sama sekali tak memberikan contoh yang baik

__ADS_1


__ADS_2