Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Pemandangan yang menyiksa


__ADS_3

Sementara itu, di sisi lain dengan Araela selesai membersihkan diri dan penampilan gadis itu, terlihat begitu ceria dengan pakaian yang dipakai oleh dirinya.


Dia mengenakan kaos oblong tanpa lengan yang menampilkan aura kecantikan di dalam dirinya tak lupa potongan rambut ala mullet, menambah kadar maskulin dibalik senyum palsu yang selama ini begitu rapi disembunyikan.


Oleh karena itu, setelah bertemu dengan mendiang sang mama tercinta di alam mimpi, gadis itu memutuskan keluar dari rumah untuk meredam kerinduan tak terbendung, dengan mencari udara segar di malam hari yang telah datang menyambut.


Tanpa memedulikan penampilan yang terlihat seperti anak punk, tapi pada dasarnya gadis itu lebih mencintai penampilannya yang sekarang, bahkan dia tidak pernah menggubris orang-orang mencibir pakaian dikenakannya itu.


Mengayunkan langkah kaki ke tempat tujuan gadis itu keluar rumah, setelah dia melampiaskan semua rasa kecewa yang begitu menyiksa di dada.


Mendongakkan ke atas sambil wajah cantiknya menatap pantulan langit, serta membayangkan awan-awan hitam menghiasinya itu, merupakan wajah tersenyum mendiang sang mama tercinta.


Menyemangati diri sendiri dan membuktikan bahwa dia adalah gadis kuat tanpa ada rasa takut apa pun tentang bahaya yang selalu menghampiri gadis tersebut.


Hari ini aku akan membuktikan kepada dunia. Aku bukanlah seorang pengecut yang selalu bersembunyi di bawah ketiak seseorang karena itu akan kubuat mereka menyesal telah berurusan dengan seseorang sepertiku. Bantulah putrimu untuk mempertahankan apa semua yang menjadi milikku.


Di malam hari yang bersinar tenang gadis itu meneruskan, langkah kaki dan menunggu sebuah taksi yang telah dipesan oleh dia. Sebab, tujuannya hanya satu tempat dan di sana tentu saja tempat itu, akan membuatnya melupakan rasa sakit sekaligus kecewa.


“Antarkan saya ke tempat itu ya, Pak!“


Tempat yang menjadi tujuan gadis itu adalah sebuah pasar malam dan di sana dia akan, berbagi dengan beberapa anak jalanan yang biasanya dilakukan oleh dirinya.


Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu taksi yang ditumpanginya telah sampai di tempat tujuan, di depan pintu taksi ada beberapa gerombolan anak jalanan menunggu kedatangannya.


“Apa ini tidak terlalu kebanyakan dari cargo yang tertulis, Nona?“ Sopir taksi merasa bingung dengan segeok uang diterimanya dari seorang gadis yang menyewa jasanya.


“Ambil dan jangan menolak rezeki, Pak.“


“Terima kasih banyak, Nona.“ Setelah mengucapkan rasa syukur, sang sopir kembali menancapkan pedal gas dan meninggalkan gadis itu, dengan beberapa segerombol anak-anak yang berada di sisanya.


“Lihat bukan Kakak datang kemari untuk menghibur kalian semua ... bagaimana apa suka?”


Semuanya kompak mengangguk.


“Good! Sekarang biar aku memesan tiket untuk kalian semua dan jangan berebut setelah ini. Oke.”


Jika gadis itu sedang memesan beberapa tiket untuk dia dan segerombolan anak jalanan tersebut, di sisi lain halnya dilakukan oleh Rewindra Wiratama memutuskan tidak berangkat ke kantor, serta membiarkan dirinya meliburkan diri sampai malam hari tiba ketika hendak mengganti pakaian.


Ponsel duda beranak-satu itu berdering nyaring menandakan ada sebuah panggilan masuk dan membuatnya mengangkat, serta menanyakan tujuan si penelpon dari arah seberang benda pipih dengan logo apel tergigit.


“Kalau menghubungiku bukan kabar penting jangan sekarang karena aku akan keluar dengan putraku.”

__ADS_1


“Anu, Bro ... ada kabar bagus untukmu.”


“Cepat katakan, Ser!”


“Aku telah berhasil melacak data-data dari perusahaan yang mengajukan proposal kerja sama dan pasti kau akan terkejut mendengar kabar ini.”


“Jangan bertele-tele ce .…


“Dia adalah perusahaan kecil yang bernaung dengan sebuah kerajaan besar di negara sebelah, Bro.”


“Kau tidak bercanda, Ser?”


“Mana mungkin aku mencandaimu, Bro.”


“Lalu apa kau mendapat beberapa data informasi tentang perusahaan itu?”


“Maaf, Bro … aku tidak menemukan nama apa pun di sana, selain nama inisial yang tertulis didata kucuri.”


“Baiklah tarik hacker yang mencuri data-data itu, sebab aku tidak ingin tercium jika kita yang membobol aksesnya.”


“Tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, Bro? Mi ....


Malas meladeni ocehan dari arah seberang ponsel, sang duda itu mematikan sambungan secara sepihak, tanpa memedulikan umpatan yang ditujukan untuk dirinya.


Tanpa memedulikan sebuah data informasi yang berhubungan seseorang begitu dikenalnya sang duda beranak tersebut, meninggalkan kamar pribadi dengan melangkah kaki ke tempat di mana Rolando belajar di dalam kamarnya.


“Apa Dady mengganggumu, Boy?” Setelah berada di samping sang putra, tanpa berbasa-basi Rewindra dengan cepat menyapa sang anak.


Yang membuat anak lelaki itu, terkejut dengan kebaradaan sang dady-nya yang tiba-tiba, sudah ada di samping tempat dia duduk.


“Kenapa menggangguku!” ketus anak lelaki itu dengan bibir mengerucut kesal.


Duda casanova itu tergelak keras, saat dia benar-benar tidak kuasa menahan tawa melihat raut wajah, sang putra yang begitu sangat menggemaskan ketika sedang marah.


“Jangan seperti ini, Boy ... Marah 'kah kamu soal tadi pagi di kamar sebelah?”


“Sudah jelas-jelas kenapa harus bertanya lagi sih, Dad.” Anak lelaki itu, tak ingin kalah berargumen mengingat dia tidak terima dengan tingkah dady-nya.


Memamerkan sebuah aset kebanggaan yang membuat bibir anak lelaki itu menggerutu tidak jelas.


“Hei, Boy ... bahkan punya-mu saja masih kecil ... lalu kenapa kamu marah dengan dady?”

__ADS_1


“Malulah dengan putramu sendiri, Dad.” Kesal itulah yang dirasakan, oleh anak lelaki tersebut karena sang dady, benar-benar tidak peka dengan keadaannya.


“Kenapa tidak boleh di depanmu?” Raut wajah sang duda casanova itu, semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran sang putra.


Apa salahnya dia berganti baju dengan memamerkan aset kebanggaan alias si belalai gajah? Hal tersebut membuat duda itu memijit pelipis yang tiba-tiba berdenyut sendiri.


“Sebagai ganti permintaan maaf, Dady karena membuatmu marah ... apa mau ikut Dady mencari udara segar di luar?” tawarnya yang ditujukan untuk sang putra.


“Sudah malam, Dad dan di luar juga dingin.”


Rewindra enggan menanggapi sang putra, justru duda itu beranjak dari tempat duduk, dia arahkan ke arah tempat lemari di mana dirinya mencari-cari sebuah jaket, agar anak lelaki itu tidak terlalu kedinginan di luar karena mereka akan menghabiskan waktu kembali.


“Sudah tidak dingin bukan, Boy?” Rewindra memastikan Keadaan sang anak, setelah dia selesai memakaikan jaket yang diambilnya dari lemari.


“Kita mau ke mana?”


“Ikut saja dengan, Dady dan jangan banyak tanya lagi. Oke, Boy.”


Anggukan kecil membuat duda casanova mengulum senyum, sebab malam ini dia benar-benar ingin mewujudkan rasa rindu yang selama ini, selalu menjadi bayang-bayangan mimpi di dalam diri anak lelaki tersebut.


Tak lama kemudian mobil yang dikemudikannya melaju meninggalkan, mansion dengan senyuman kecil menghiasi sudut bibir anak lelaki itu.


Menjejelajahi tempat dengan mobil yang melaju, tanpa sadar sang anak lelaki itu meminta berhenti di sebuah tempat dan pandangan matanya, mengarah pada seseorang yang begitu sangat dikenal oleh sang putra.


“Dad, coba lihat ke arah sana?” sahut Rolando tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Sebab, dia sedang memindai seorang target yang sedang ditatap.


Bersamaan itu, sang duda dibuat terkejut dengan pemandangan yang mana seketika seluruh badannya mendidih, serta mengumpat geram karena hanya sekilas menatapnya si belalai gajah tiba-tiba menjadi sesak.


What the fuucckk!


*


*


*


***Othor_Si_tomboi : lapo mengumpat, Dad?


Duda messumo : Kau apakan dia?


Othor_Si_tomboi : halah kan memang itu gayanya.

__ADS_1


Duda messumo : sialan, Lu. Belalai gajahku enggak nahan panas dingin.


Othor_Si_tomboi : itu Deritamu, Dad***.


__ADS_2