Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Dingin di luar, hangat di dalam


__ADS_3

Kedatangan Araela mendapat sambutan hangat, dari dua wanita paruh baya yang begitu sangat senang dengannya.


Gadis itu datang karena tengah mencari anak lelaki yang sekarang telah terikat sebagai anaknya sendiri.


“Maaf membuat kalian menunggu." Meskipun bernada dingin, tapi di dalam sorot mata gadis itu, tersimpan kehangatan yang dilihatkan pada, dua wanita baya yang tersenyum tulus mendengarnya.


“Sudah selesai urusanmu dengan wanita sundal itu, Sayang?" sahut Dahlia to the point.


“Aku tidak yakin anaknya berhenti mengusik kehidupanku setelah ini, Ta …."


Ucapan itu disela oleh Dahlia yang tidak menyukai panggilan tante disematkan, padahal gadis bar-bar tersebut telah menjadi menantu kesayangannya, “panggil, Mama! Jangan, Tante lagi. Bisa?"


Araela mengangguk, dia pun kembali melanjutkan ucapan yang sempat tertunda, “mengingat anak sundal itu jauh lebih licik dari induknya."


“Apa kamu masih trauma dengan kelicikan mereka? Bahkan papamu sampai dihasut … aku justru tidak menyangka, pernikahan kedua papamu selama ini … tidak 'sah' karena sundal itu begitu rapi memanipulasi, semua yang berhubungannya dengan dia termasuk anak kandungnya itu."


“Sudah berapa mengetahuinya? Hm, Ta … Ma …."


Terbata-bata mengucap panggilan 'mama' membuat, Dahlia tergelak lucu saat mendengar panggilan dari gadis itu, “Mama agak lupa soal itu, tapi yang pasti sudah lama Mama mengetahui, tentang pernikahan kedua papamu dengan sundal itu."


“Pantas saja ada yang berbeda dari pertemuan mereka tadi," sahutnya dengan nada dingin.


Dahlia yang mendengar sahutan itu, mengernyit dahi sambil bertanya-tanya, tentang maksud perbedaan pertemuan, dua orang yang selama tak pernah bertemu. “Maksudnya bagaimana, Sayang?"


“Dia bersikukuh mengakui anak yang tak diakui kakek, darah daging papa … sudah sangat jelas darah kental papaku, hanya ada di dalam diriku yang tak pernah diakui."


Kilatan kebencian di dalam sorot mata dingin begitu terlihat jelas, seorang anak yang selama ini tidak diakui sebagaimana mestinya.


Diam-diam Araela merasakan elusan lembut dan pelukan hangat, dari Permaisuri Pangeran yang selama ini merindukan gadis itu.


“Jangan merasa sendirian di sini … ada kami yang menyayangimu, Sayang!"


“Terima kasih." Ini pertama kali, gadis itu merasakan pelukan hangat, bahkan dia sendiri telah lupa rasa pelukan yang tidak pernah didapatkan, sejak hadir ke dunia sampai ajal menjemput sang mama.


“Ternyata kamu tidak sedingin seperti, yang dibicarakan oleh sepupumu itu," sahut Permaisuri yang masih, betah mendekap erat tubuh mungil itu.


“Sepupu?"

__ADS_1


“Apa kamu ingat David? Dialah sepupumu, anak kandung Tante."


Hal tersebut membuat gadis itu terkejut mendengar kenyataan, sesosok yang ternyata diam-diam menyimpan rasa pada Ara, terikat oleh sebuah hubungan darah dan sejak lama dia mengetahui perasaan tersebut.


“Tante saja terkejut mendengar pernyataan anak itu, bahkan sejak dulu dia juga melepas gelar pangeran. Semua yang dilakukannya untuk menjagamu dari jauh, rasa bersalah semakin besar saat David tidak bisa menyelamatkanmu, dari fitnahan yang menggemparkan publik karena ulah seseorang."


Gadis itu terdiam membisu cerita dari, sang permaisuri membuka luka lama yang dipendamnya."


“Bahkan Tante tidak habis pikir bagaimana bisa anak itu, menyimpan perasaan pada sepupunya sendiri?" Sambil tersenyum kecut, permaisuri tak lain Tante Araela, merasa bersalah pada sang putra.


Sebab putranya lebih memilih melepas semua gelar bangsawan, lalu menjadi seseorang yang berdiri di bawah kaki sendiri, tanpa terbayang-bayang oleh statusnya sebagai pangeran mahkota.


“Lalu bagaimana denganmu yang mengetahui, bahwa mamaku adalah anak kandung raja?" Pertanyaan itu, membuat permaisuri tersenyum.


Ingatannya tertuju pada saat pertama kali ia bertemu dengan sang suami dalam kondisi, sudut bibir terluka sehingga membuat gadis itu mengernyit heran dengan senyuman tersebut.


“Mereka bertemu sebelum kamu lahir ke dunia, tapi kakekmu terlambat membawanya pergi dari neraka diciptakan papamu, sampai kabar kematian itu membuat mereka merasa terpukul, putri mahkota yang seharusnya menggantikan kakekmu berpulang."


Cerita itu terjeda, saat permaisuri mengembuskan napas berat, biar bagaimanapun luka ini tidak seharusnya ia buka, di hadapan sorot mata yang begitu dingin lalu dilanjutkan kembali cerita itu.


“Setelah kematian mendiang adik kembar suamiku, tak lain Pangeran Devander. Mereka mendatangi kediaman kakek untuk membawamu kembali, ke asal tempat mamamu di lahirkan. Namun, justru kedua pria itu saling memukul karena tidak ada yang mau mengalah, tapi atas keyakinan itu suamiku mengizinkan mereka merawatmu kembali. Pertemuan itu membuatku terkesan dengan semua cerita, yang dia bawa karena tidak bisa memeluk kembarannya."


Bukan itu saja diam-diam Araela telah menyelidiki latar belakang David, dan membuatnya terkejut ternyata status yang dilepas adalah karena hal itu.


“Apa kamu marah? Selama ini hanya suamiku sendiri yang mengetahui jati diri David, bahkan sebenarnya raja saat itu merasa kecewa karena aku sudah mempunyai anak. Namun, ada alasan lain yang membuat beliau menerima kehadiran kami."


“Kalaupun dia menyimpan perasaan itu, tidak perlu membuatnya melupakan rasa itu. Aku tidak peduli dengan semua yang dia lakukan. Namun, aku hanya menganggapnya sebagai teman. Ada di mana sekarang?" tegas Ara dingin sambil menanyakan, keberadaan orang yang selama ini membantunya


“Tante sendiri tidak tahu anak itu ada di mana, Sayang. Mengingat semalam dia membantu menggagalkan rencana itu," sahutnya sembari menelisik tubuh mungil, ditambah leher terpampang nyata sebuah tanda keunguan.


Belum sempat membalas karena telah menelisik tubuh mungil itu, Dahlia yang sedari tadi diam menyimak membuka suara karena dia sendiri, merasa turut andil dalam pernikahan dadakan antara Rewindra dan gadis di hadapannya.


“Maaf telah membuatmu dalam posisi seperti ini … apakah anak itu membuatmu kelelahan?"


Tentu saja pertanyaan itu membuat kedua pipinya menyembul semburat merona, tapi gadis itu begitu pandai menyembunyikan kejadian menimpanya.


“Tidak perlu meminta maaf," sahut gadis itu, sembari mengalihkan topik obrolan. “aku hanya melakukan apa yang menjadi amanah dari mama."

__ADS_1


Kedua wanita baya itu mengangguk, Dahlia kembali menanyakan hal lain, tentang mereka semua menyembunyikan status dari sang putra.“Dia masih tidak mengetahui status kalian yang sudah menjadi suami-istri?"


“Aku hanya ingin dia mengetahuinya dari usahanya menyelidiki kejadian semalam, seharusnya aku meminta maaf karena tidak mencintainya."


Tawa Dahlia meledak saat mendengar pernyataan yang membuat sang putra, berusaha lebih keras untuk menaklukan gadis bar-bar dingin itu.


Astaga maafkan mamamu Nak. Jika biasanya semua wanita bisa ditaklukkan, tapi untuk kali dia berbeda dan jauh, lebih sulit mencairkan kebekuan hati dinginnya.


*


*


*


Sesampainya di mansion, tubuh Sonya yang pingsan dipindahkan ke kamar pribadi, tidak asisten Bastian memberi peringatan pada pelayan, untuk tidak terlalu takut dengan nona muda dan tunduk atas perintah, seseorang yang dibawa oleh asisten tersebut.


Hanya Tuan Bastian yang mengizinkan mereka untuk menerima perintah.


.


.


.


.


.


**Gadis Kesayangan Tuan Agra


Author: Nurmay


Bagaimana rasanya di tinggalkan untuk selamanya di hari pernikahan. Hari yang harusnya membuat bahagia, namun itu membuat luka.


Dan gadis cantik itu pun harus menerima cacian dan makian, dan di cap sebagai gadis pembawa sial.


Lalu tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang bersedia menikahinya agar membuang kesialan itu. Laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali, tiba-tiba menjadi suaminya.

__ADS_1


Siapakah Laki-laki itu? Dan bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka? Apakah cinta akan tumbuh di hati mereka**?



__ADS_2