Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Memastikan Beban Yang Membelenggu Hati


__ADS_3

“Bisakah antarkan aku ke kantornya, Kak? Ada sesuatu hal yang ingin kupastikan dari dia?” Nada suara bergetar memerintahkan pria tampan dengan mengantarnya ke gedung perkantoran, di mana dia memastikan maksud dua foto yang terpasang pada gantungan bermotif love tersebut.


Tanpa membuang banyak waktu setelah dia melewati sebuah lorong rahasia agar bisa keluar dari gedung kantor miliknya, di dalam mobil tengah dikendarai oleh sang kakak angkat dengan gadis itu lebih memilih bungkam.


Tidak pernah dibayangkan oleh gadis itu bahwa papanya sama sekali tidak seperti yang dituduhkan selama ini. Namun, satu hal tidak dia pahami mengapa sang papa mengorbankan kehidupannya hanya untuk dua wanita dicintai oleh pria itu?


Oleh karena itu, dia memastikan semua itu dengan sendiri tanpa ada beban kebencian yang membelenggu relung hati terdalamnya.


“Kita, sudah sampai!” sahut Millo yang membuat gadis itu terhenyak kaget sambil mengarahkan, manik mata kecokelatan di sekeliling yang tidak sadar bahwa mobil itu telah sampai.


Bahkan gadis itu, enggan memedulikan raut wajah kesal Millo karena pintu mobil mewahnya sendiri terbanting keras mengingat dia jadi, mengetahui jika Araela merasa dikecewakan dan dirinya pun dapat memahami perasaan gadis itu.

__ADS_1


Mengekori langkah kaki gadis itu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung perkantoran dengan eksperi dingin hingga membuat karyawan di kantor itu, terkejut melihat kedatangan seorang pria tampan yang menjejaki gedung perkantoran bahkan mereka baru pertama melihanya masuk ke dalamnya.


Sementara Araela lebih dulu sampai di lantai paling atas tempat ruang kerja pribadi papanya dan tanpa mengetuk pintu serta mengabaikan panggilan dari sekretaris, gadis itu berhasil menerobos masuk sampai membuat pria baya sedang termenung dikejutkan dengan kedatangannya ke kantor.


“Mohon maaf, Pak ... saya berusaha mengingatkan, tapi —” Ucapan yang belum sempat disampaikan terpotong oleh, Presdir yang menyuruhnya kembali ke ruangan sekretaris itu sendiri. “Kalau begitu saya permisi, Pak!”


“Jadi, apa yang membuatmu datang ke kantor Papamu ini, hm?” Setelah sekretaris menghilang dari balik pintu, pria baya itu mengarahkan manik mata hitam yang sedang berhadapan dengan sorot mata dingin.


Mengeluarkan benda yang tergenggam erat disodorkan pada pria di hadapannya. “Jelaskan maksud dari dua foto di dalam bandul ini? Mengapa tidak pernah mengungkapkan perasaanmu sebenarnya pada kami?” todongnya menyelidik.


Membuat gadis itu menubrukkan tubuh mungilnya dan memberi pukulan keras mendarat di dada itu, sehingga Prasetya meringis pelan karena tidak kuat menerima pukulan sampai dadanya benar-benar terasa sakit. Namun, dia tidak akan memperlihatkan rasa sakit di hadapan putrinya dan membiarkan dada bidang menjadi pelampiasan.

__ADS_1


“Apa hatimu sudah benar-benar puas melampiaskan amarahmu terhadapku?” tanya pria itu lembut yang tidak berselang lama kemudian pintu ruangannya kembali terbuka.


Masuklah seorang pria muda yang tidak lain kakak angkatnya sendiri sambil membungkuk hormat karena telah mengemban tugasnya dengan baik.


“Maafkan aku yang harus memberitahukannya tentang kalung yang kau titipkan padaku!” tukas Millo yang sedikit terkejut melihat keadaan Araela, seperti terlihat tidak baik-baik saja setelah mengetahui semua kebenaran itu.


“Apa kau mengatakan semuanya pada dia, Millo?”


Pria muda itu pun mengangguk. “Aku minta maaf telah lancang memberitahukan seharusnya yang tidak dia ketahui,” ulang Millo yang membuat Prasetya mendengkus kesal dengan pria muda itu.


Dua pria tengah mengobrol tidak menyadari suara dengkuran halus yang menandakan gadis itu tertidur dalam dekapan hangat. Sampai membuat Prasetya terkejut karena ini sudah kedua kali melihat putrinya kelelahan menangis dan pasti akan tertidur dalam dekapan seperti yang sekarang.

__ADS_1


Tanpa sadar sudut bibir pria baya itu berkedut melihat tingkah laku putrinya mengingatkan dia akan semua kenangan bersama mendiang cinta pertama pria itu.


“Dia selalu seperti ini, Om? Bahkan sejak dari kantor dia sama sekali tidak mengantuk! Lalu mengapa bisa tertidur pulas di dalam dekapanmu? Mengherankan saja!”


__ADS_2