
“Kelopo nang pasar!” Sudah sangat lama gadis itu tidak menjahili siapa pun, seperti saat dilakukan pada kakak angkat-nya.
Bahkan suaminya itu pun benar-benar tidak memahami bahasa yang terucap dari bibir mungilnya sebagai bentuk rasa kesal, pada duda casanova karena telah melanggar hukuman dengan mencicipi tubuhnya secara diam-diam.
“Aku benar tidak memahami bahasa apa yang kamu katakan, Honey?” Rewindra membalas dengan raut wajah melas tapi gadis itu beranjak turun dari ranjang karena dia tiba-tiba merasakan nyeri melilit.
Sampai gadis itu terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi yang membuat pria itu,
menatap heran dengan tingkah laku yang dilakukan oleh sang istri.
“Ada apa dengan, gadis itu? Ckk! Bahasa yang diucapkan-nya pun benar-benar tidak dapat kupahami,” kesalnya dengan bibir mencebik kesal.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamar mandi Araela kesal sendiri dengan siklus tamu bulanan yang datang tidak tepat, sampai membuat dia meminta bantuan pada suaminya untuk dibelikan roti kempit beserta katok njero.
Akan tetapi, dia justru bingung bagaimana caranya memanggil pria itu? Mengingat dirinya masih belum terlalu dekat meskipun itu suaminya sendiri.
Berlama-lama di dalam kamar mandi adalah jalan satu-satunya yang bisa membuat gadis itu memanggil sang suami tanpa harus berteriak hanya untuk sekadar meminta bantuan.
Dan sesuai dugaan dari arah luar kamar mandi terdengar suara ketuk pintu yang membuatnya membuka sedikit dan kesempatan inilah dia gunakan untuk meminta bantuannya.
“Kenapa kamu selama ini di dalam sana, Hon?” tanya pria itu dengan mimik raut wajah panik karena dia terkejut mendapati bahwa sang istri tidak kunjung keluar, dari kamar mandi dan kini untuk pertama dirinya dikejutkan semburat merona di kedua pipi gadis itu. “Ada apa dengan raut wajahmu, Nyonya?”
“Aku apa, Nyonya?” Rewindra berganti menjahili sang istri jika tadi dia sampai dibuat, tidak memahami bahasa yang belum pernah terdengar oleh dirinya. Namun, sorot mata mematikan membuatnya tidak berani menjahili lagi gadis tersebut. “Baiklah maafkan aku, Nyonya ... sekarang apa yang kamu inginkan dari suamimu ini?”
__ADS_1
“Belikan aku roti kempit dan katok njero mau, ya?” Bahkan ini pertama kali juga gadis itu menunjukkan sisi lain yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pada siapa pun.
“Hah, maksudnya bagaimana?” Rewindra bingung dengan permintaan tidak masuk akal yang terucap dari bibir gadis itu. “Bisakah kamu jelaskan lebih detail tentang permintaanmu ini? Aku benar-benar tidak paham dengan bahasa yang kamu ucapkan, Nyonya.”
“Ckk! Kapan-kapan aku akan mengajarimu bahasa yang kuucapkan untukmu!” gadis itu menyentak tidak lupa menjelaskan dalam hal lain agar segera dipahami oleh suaminya tersebut. “Siklus bulananku datang tidak tepat ... jadi karena itu, aku memintamu membelikan apa yang kuminta dengan bahasa lain,” papar Araela bermimik raut wajah kesal.
Mendengar paparan yang terucap dari istrinya membuat Rewindra terkejut dengan ucapan disampaikan dan karena itu sang istri, menyebut dua benda tersebut dalam bahasa lain yang sangat tikal masuk akal menurut pria itu.
“Baiklah, Nyonya ... tunggulah di sini! Aku aku membelikan apa yang kamu pintakan pada suamimu ini!”
Meninggalkan sang istri dengan terburu-buru sampai membuat Prasetya terkejut melihat raut wajahnya yang sengaja ditekuk. “Ada apa dengan raut wajahmu? Apakah dia sudah bangun?”
__ADS_1
“Justru karena raut wajahku begini putrimu itu menyuruhku membelikan, kebutuhannya pada saat siklus bulanan datang seperti sekarang ini!” Rewindra mengeluhkan tingkah laku sang istri pada mertua-nya dengan membalik pertanyaan. “Bahkan dia membuatku tidak memahami dengan bahasa yang diucapkan oleh dia ... apa kau mengerti istilah roti kempit, Papa?”