
Bahkan pria itu tidak menyadari jika pergerakannya di rak bagian kebutuhan wanita diawasi oleh karyawan yang terlihat heran dengan tingkah lakunya.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Terpaksa ia menghampiri dengan melontarkan pertanyaan.
Membuat Rewindra terkejut dengan karyawan yang melihatnya di tempat tersebut. “Apakah ini yang dinamakan roti kempit?” Tanpa membalas pertanyaan justru dia melontarkan, pertanyaan balik dengan raut wajah polos dan malu yang tertahan.
Karyawan itu pun menahan tawa karena ia baru pertama kali melihat raut wajah pria tampan yang tengah menahan malu dengan istilah roti kempit sering dibicarakan oleh rekannya yang berasal dari jawa timur.
“Anda menginginkannya seperti apa dan bagaimana, Tuan?”
Pria itu benar-benar kesal karena tidak yang mau menjawab pertanyaan sama tentang istilah tidak dipahami, dengan sorot mata dinginnya dia meminta karyawan tersebut membungkus semua yang ada di rak, membuat karyawan itu terkejut mendengar perintah dari costumer dan tanpa membantah ia pun melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Hanya berselang dua puluh lima menit kemudian Rewindra memborong semua kebutuhan yang diminta oleh sang istri, hingga sekembalinya pria itu ke kantor Prasetya membuat beberapa karyawan di sana terkejut, melihat dia membawa beberapa kantong di tas yang berisi sesuatu dibutuhkan oleh gadis tersebut.
“Kau borong semuanya?” Prasetya tergelak lucu melihat raut wajah sang menantu saat dirinya, mendapati sang menantu menjadi gunjingan karyawan kantor karena ulah putrinya. “Bukankah kau dulu juga terbiasa dengan semua yang dilakukan olehmu?”
“Jangan bandingkan masa laluku dengan putrimu, Papa ... biarkan aku menahan malu demi bisa membuat hati dinginnya mencair, sama hal-nya hatimu yang terlalu dingin untuk digapai oleh putrimu sendiri.” Tanpa takut pria muda itu pun sangat berani menyindir mertua-nya sendiri hingga membuat Prasetya tertohok hatinya.
“Aku yang akan menjadi pengobat luka lara di hati putrimu!” imbuhnya bernada dingin dan bersamaan itu dia kembali masuk ke dalam, ruang rahasia sang mertua yang membuat istrinya mencebik kesal karena terlalu lama menunggu.
“Kamu bisa memilihnya sesuka hatimu, Nyonyaku!” Menyodorkan satu kantong agar sang istri memilih dengan sendiri tanpa, disangka gadis itu mengambil satu dari sekian roti kempit yang yang terpilih. “Mau aku bantu memakainya?” Tiba-tiba terlintas dipikiran pria itu untuk menggoda sang istri.
Akan tetapi, dia mendapati sorot mata dingin mematikan yang membuat pria itu tidak jadi untuk menggoda gadis itu tapi ternyata dirinya, mendapat tugas untuk membereskan barang-barang yang tidak terpakai dengan meninggalkan beberapa bungkus dan meletakkannya di atas nakas.
__ADS_1
Tidak berselang lama kemudian, gadis itu selesai berganti dengan dia dikejutkan atas tingkah laku sang suami, dan Araela diam-diam tersenyum tipis tanpa disadari oleh Rewindra itu sendiri.
“Tidak apa-apa kuʼ letakkan di atas sana, Nyonya?” Dagu pria itu mengarah pada benda yang tergeletak di atas nakas, hingga gadis itu menganggukkan tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Rewindra mengerucut bibir karena gadis itu masih enggan mengobrol banyak bersamanya. “Nyonya ....” Memanggil sang istri yang membuat gadis itu menggelengkan kepala atas tingkah lakunya.
“Kamu tidak menjawab pertanyaan yang kuajukan ... lalu aku harus apa dan bagaimana untuk bisa mengobrol banyak denganmu?” lanjut pria itu sambil merajuk mencari perhatian tertuju untuk sang istri.
“Sssttt! Jangan banyak protes karena aku sekarang tidak ingin mengobrol apa pun!”
“Why, Nyonya?”
__ADS_1