
“Ada lagi yang ingin Anda sampaikan, Nyonya?” Lontaran tanya itu meluncur yang sengaja dilayangkan untuk Kristal, sembari memastikan permintaan dari wanita di hadapannya. “Saya belum masih mempersiapkan kebutuhan Rasya, Nyonya.”
Kristal mendengkus kesal mendengarnya. “Kenapa masih belum beres semuanya? Bukankah aku selalu memberimu peringatan, masalah Rasya harusnya sudah kau bereskan sebelum ke rencana utama, aku tak mau urusan anakku tersisih karena kelalaianmu menangani masalah ini!” Nada ancaman yang terlontar dari bibir wanita itu, membuat lidah pria di hadapannya tanpa berani bersuara.
Beberapa menit keduanya bungkam dengan Kristal memberi perintah, untuk tetap melakukan semua rencana matang itu. “Jalankan rencana itu, dan ingat jangan sampaikan gagal!”
“Baik, Nyonya.”
*
*
*
Kembali pada sepasang ibu — anak begitu asyik mengobrol, setelah menghabiskan makan malam bersama mereka memutuskan untuk membahas, perihal sebuah foto yang menjadi kado tak terlupakan untuk Rolando seorang.
“Kapan Mama menemukan foto itu?” Tanpa ragu Rolando melontarkan pertanyaan karena pria kecil itu, begitu penasaran yang terlihat sangat jelas di raut wajahnya. “Padahal selama ini daddy sendiri tak pernah mau, menunjukkan foto mommy di hadapanku.”
__ADS_1
Araela tergelak melihat raut wajah menggemaskan Rolando. “Mama menemukannya bersama, isi surat yang tertuang pada laptopmu yang rusak itu.” Ada kelegaan di dalam sorot mata dingin gadis itu ketika mengetahui, jika sang putra sangat menyukai hadiah sederhana darinya. “Jangan khawatir, Sayang! Virus-virus itu sudah diperbaiki, dan kamu bisa pakai untuk mengasah bakatmu.”
“Serius sudah bisa kupakai lagi, Ma?” Rolando memastikan.
“Ya, Sayang.” Araela dapat merasakan belitan tangan kecil yang mendekap erat tubuh mungilnya, dengan ia sedikit ragu menyampaikan perasaan gelisah pada sang putra. “Bolehkah Mama bertanya padamu suatu hal, Sayang?”
Rolando mengangguk. “Silakan Mamaku, Sayang.”
“Apa yang akan kamu lakukan, jika ada seseorang yang menyerobot hak bukan miliknya?”
Pria kecil itu pun tak memahami maksud, dari pertanyaan yang baru saja terdengar.
“Mama hanya bertanya saja, Sayang.” Araela mundur karena ia tak ingin Rolando sedih. “Sudah malam waktunya beristirahat, kamu juga sudah memeriksa kembali tugas sekolahmu?” Gadis itu mengingatkan dengan melontarkan pertanyaan.
Anggukan kecil dari Rolando membuat Araela puas mendengarnya. “Jangan lupa untuk cuci muka, gosok gigimu juga! Mama akan menunggumu sampai tertidur pulas.”
Hanya berselang dua puluh menit berlalu terdengar suara dengkuran halus menandakan sang putra telah terlelap ke alam mimpi, bersamaan dengan ia yang akan beranjak dari sisi ranjang tempatnya duduk di tepian gadis itu tak pernah lupa, memberi kecupan manis di kening Rolando sembari menyalurkan perasaan kasih sayangnya pada pria kecil tersebut.
__ADS_1
*
*
*
Sesampainya di kamar pribadi, gadis itu disambut raut wajah masam Rewindra, dengan lontaran tanya terucap dari bibirnya. “Kenapa lama sekali, Hon? Hadiah apa ‘sih yang kalian bahas? Membuatku penasaran saja.”
Tanpa takut raut wajah masam dilayangkan untuknya, Araela melangkahkan kaki untuk menghampiri bayi besar yang sedang merajuk, dengan melontarkan pertanyaan balik untuk pria itu. “Memangnya jika aku memberitahukan hal ini, apa kau akan marah atas tindakanku?” Mendudukkan b0k0ng di atas tepian ranjang kecil miliknya sembari, mencuri kecupan tipis di bibir sang suami yang terkejut dengan serangan tersebut. “Jangan terlalu kaget, kau harus terbiasa dengan apa yang kulakukan ini!”
“Bagaimana aku tak kaget, kamu selalu membuatku mati penasaran saja, seperti sikap dinginmu kadang kala hangat seperti ini, lalu tindakan apa yang kamu lakukan tentang kado Oland?”
“Kado Oland ada hubungannya dengan ibu yang melahirkannya, kenapa tak pernah memberitahukan wajah asli mommynya?” Araela begitu terang-terangan melontarkan pertanyaan.
Hal tersebut membuat Rewindra bungkam dengan lidahnya mendadak kelu, ketika ia mendapat pertanyaan tak terduga tentang sebuah foto yang dibahas oleh suami — istri.
__ADS_1