
Hanya berselang lima menit kemudian setelah mengobrol sebentar dengan Niken, taksi yang di tumpangi oleh dirinya itu pun melaju ke tempat akhir tujuan yaitu rumah sederhana yang di tempati oleh dirinya.
Di tengah perjalanan taksi yang di tumpangi Araela pun melaju dengan kecepatan sedang sampai terdengar bunyi keroncongan yang berasal dari dalam perutnya dan tak lupa ia meminta sang sopir taksi untuk menepikan mobilnya ke arah supermarket dengan membeli makanan untuk menjadi pengganjal perut yang terus berbunyi itu.
“Maaf, Pak, bisakah saya turun sebentar untuk membeli roti pengganjal perut?”
Tanpa membantah sopir taksi tersebut mengarahkan mobilnya ke arah supermarket yang di minta oleh dirinya. Hanya berselang lima belas menit mobil taksi itu pun mengantarkannya ke tempat tujuan Araela.
“Tunggu sebentar ya, Pak. Aku tidak akan lama.”
Tanpa menunggu jawaban ia masuk ke dalam supermarket tersebut untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang terus berbunyi. Tak lupa ia juga membelikan makanan untuk sopir taksi karena dirinya sendiri sangat tak menyukai memakan dengan keadaan sendiri.
Berselang lima menit Araela keluar dari supermarket dengan membawa beberapa potong roti untuk ia bagikan pada sopir taksi tersebut. Tak lupa menyuruhnya memakan sebentar untuk mengganjal perut.
“Di makan ya, Pak!” Araela menyodorkan makanan yang dibeli untuk di makan oleh sopir taksi yang mengantarkannya.
“Maaf, Neng, sa–”
Akan tetapi Araela tak suka di bantah karena dirinya sangat memaklumi bahwa sopir taksi tersebut berusaha menahan lapar yang mendera perutnya.
“Kerja seperti ini butuh tenaga, Pak! Di makan, ya.”
Tanpa membantah sopir taksi tersebut pun memakan dengan air mata yang berkaca-kaca ia bersyukur bisa dipertemukan oleh seorang gadis yang tak begitu dikenalnya tapi mempunyai tutur kata dan sopan santun menjunjung tinggi.
Dari arah lain ketiga suruhan Sonya itu pun mulai beraksi setelah mendapat perintah dari Nona mereka untuk menculik seseorang yang masih membuat salah satu di antaranya pun terlihat sangat bingung dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh Sonya.
Sebenarnya siapa yang ingin di culik oleh Nona Muda?
Bukan tanpa alasan, hanya saja ia sedikit bingung dengan penjelasan dari Sonya tentang seseorang yang akan menjadi target mereka. Namun semua itu tak menjadi alasan mereka untuk tak melakukan perintah dari Nonanya.
Akan tetapi di luar tempat persembunyian mereka saat ini sedang mengintai target yang di maksud oleh Nona Muda mereka.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk ketiganya yang memastikan satu-persatu target incarannya sampai di mana mereka dibuat kaget dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh Sonya.
“Apa kalian lihat itu?” Salah satu dari mereka bertanya sambil menunjuk ke arah seorang target yang menjadi incarannya.
__ADS_1
“Aku harap kau tak salah mengenalinya! Bukankah Nona mengatakan pada kita untuk bisa membedakan orang yang menjadi target kita.”
Sebab mereka terlihat berhati-hati ketika akan menculik target tersebut karena ancaman taruhan nyawa Sonya tak main-main.
“Pastikan dulu sebelum kita melangkah. Ingat nyawa kita taruhannya!” Rekannya yang berdiam membisu pun membuka suara seraya memberi peringatan agar kedua rekannya itu memastikan sebelum melakukan tugas tersebut.
Ketiganya mencocok sebuah foto dengan target yang sedang mereka incar, menyadari kemiripan dari target itu pun ketiga suruhan Sonya mengangguk lalu saling berbalas tatapan mata.
Bahwa target berhasil di temukan dan mereka pun bersiap untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Sonya dengan menculik lalu di bawa ke hadapan sang Nona Muda.
Kembali lagi dengan Araela telah menghabiskan beberapa roti yang mengganjal perutnya ia pun meneguk air mineral di dalam botol hingga tandas.
Tak lupa ia membayar taksi yang di tumpangi dengan memberi sedikit rezeki banyak untuk sopir tak yang akan mengantarkannya kembali ke rumah sederhana tempat tinggal dirinya.
“Maaf, Neng, apa ini tak terlalu berlebihan?”
“Ambil saja, Pak. Hitung-hitung buat keluarga Bapak di rumah.” Araela tersenyum tipis ketika selalu merasa tenang bisa saling membantu orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya.
“Terima kasih banyak, Neng.”
Tiada hentinya rasa syukur yang dipanjatkan oleh sopir taksi tersebut atas rezeki tak ternilai harganya dibandingkan yang lain.
Akan tetapi tiba-tiba mobil taksi yang di tumpangi oleh dirinya diberhentikan secara mendadak oleh sebuah mobil yang telah ada di depannya.
Ulah siapa lagi yang mengganggu jalanku! Araela membatin dengan geram karena ia sangat tak menyukai cara kuno seperti itu.
Mau tak mau terpaksa ia meladeni orang-orang yang tengah menghentikan laju mobil taksi tersebut.
“Bapak bisa jalankan taksi beberapa meter dari sini? Biar mereka menjadi urusanku!” titahnya dengan nada dingin. Namun ia juga memahami sorot mata kecemasan di dalam diri pria paruh baya tersebut. “Tak perlu cemas aku pasti baik-baik saja!”
Setelah keluar dari taksi yang di tumpangi oleh dirinya, ia pun menatap orang-orang suruhan Sonya dengan tatapan yang begitu dingin.
Tanpa disangka ketiga suruhan Sonya terkejut ketika melihat wajah asli targetnya dari dekat. Namun hal tersebut tak membuat mereka takut dengan tatapan dingin tersebut.
“Apa yang kau inginkan dariku? tanya Araela dingin.
__ADS_1
“Tentu saja menculikmu! Memangnya kau mau apa, hah!” salah satu dari suruhan Sonya menantangnya.
Tak lama kemudian seketika Araela mendapat pukulan dari salah satu suruhan Sonya, dan membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Menyebabkan perkelahian antara ketiga suruhan Sonya dengan Araela tak terhindari yang sedang berusaha menangkis serangan demi serangan di terima oleh dirinya.
Lalu kemudian dari arah lain terdapat sebuah mobil yang melintas dan berhenti menyaksikan perkelahian tersebut menarik perhatian Rewindra Wiratama kebetulan tak sengaja mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari mereka.
“Kau coba tanya sama Pak sopir itu sepertinya dia terlihat mencemaskan penumpangnya, Ser!” titah Rewindra dingin sambil terus menatap ke arah seseorang yang sedang berkelahi.
Begitu Louser keluar dari mobil seketika ia pun menyusul dengan mengendap-endap menyaksikan lebih dekat dan bola mata membulat sempurna ketika melihat seseorang yang berkelahi membuat darahnya mendidih.
Mengapa dia berkelahi dengan para preman itu? Dia juga yang telah membawa putraku pergi!
Bergumam dalam batin tanpa disangka ia terus memperhatikan cara pembelaan diri yang ada di dalam tubuh gadis tersebut.
Sampai fokusnya tersadar ketika gadis itu mendaratkan sebuah pukulan di salah titik syaraf yang membuatnya menutup bagian arah sekitar paha sambil meringis pelan karena tak menyangka bisa bertemu kembali dengan gadis bar-bar yang telah membuat seorang Rolando menjadi penurut.
Sampai tepukan pelan mendarat di pundaknya dengan menatap dingin ke arah Louser yang tengah menahan tawa karena ia sedikit takut dengan tendangan mematikan yang dilakukan oleh gadis tersebut.
.
.
.
.
.
Pertanyaanku adalah kalian mau team mana?
David \= Araela
Rewindra \= Araela
__ADS_1
Apakah sudah siap bila nanti ada bau kebucinan di dalam diri Rewindra?
See you next time