
Bahkan gadis itu benar-benar dibuat heran dengan tingkah laku dua pria yang tidak ingin membahas tentang aib memalukan disembunyikan rapi oleh keduanya, sehingga dia harus menyelidiki dengan sendiri apa yang membuat mereka menyembunyikan hal itu di hadapan gadis tersebut.
Sementara itu, pria senja yang tengah menarik daun telinga sang putra telah melepaskan tarikan tersebut, sambil tersenyum semringah melihat wajah memerah Prasetya yang meringis sakit karena ulahnya.
“Sekali lagi kau mengungkit aibku itu ... aku tidak akan segan-segan menendang bokongmu dengan tongkatku!” Tidak main-main pria senja duduk di kursi roda itu memberi ancaman, mematikan tertuju untuk putra sulungnya sampai membuat sang putra mengerucutkan bibir.
Ketika dia mendengar ancaman dari sang ayah bahkan daun telinganya terasa kebas karena sang ayah, terlalu kencang menariknya sampai membuat pria baya itu tidak berkutik di hadapan ayahnya tercinta.
“Kakek, Papa!” Seruan dari gadis bertubuh mungil membuat dua pria berbeda generasi menoleh secara bersamaan sampai, membuat jakun masing-masing bergerak naik-turun karena sorot mata dingin yang tertuju untuk keduanya.
“Astaga gawat! Ada singa betina yang bersiap mengaum keras,” sahut Gunawan pelan dengan menepuk dahi karena dia melupakan jika cucu kesayangannya ini bukanlah seorang anak yang mudah dibohongi.
__ADS_1
Bahkan pria senja itu merasa jika sang cucu akan mencari dengan sendiri tentang sebuah aib yang tidak ingin, diungkit dan dirinya pun sudah pasrah jika aib tersebut terbongkar di hadapan gadis tersebut. “Baiklah lakukan apa yang membuatmu penasaran tapi setelah itu jangan terkejut, dengan aib memalukan yang membuat Kakekmu ini enggan mengungkit kejadian tersebut,” lanjut Gunawan dengan mimik wajah yang terlihat pasrah.
“Untuk apa aku mengungkit aibmu itu, Kek! Seperti tidak ada kerjaan saja mengungkit aib memalukan yang bukan ranahku. Namun, aku menyeru kalian untuk menghentikan perdebatnmu dengan Papa, tidak lihatkah Kakek membuatku menunggu tentang arah pembahasan kita untuk kerajaan sana!” balas gadis itu yang tidak ingin dua pria mengabaikan dirinya. “Aku ingin bertemu dengan ayah David, tapi keadaan raja di sana sedang mengalami kekacauan ... bolehkah aku berkunjung secara diam-diam sekaligus menemuinya? Aku juga akan menyelidiki kejadian yang menimpa raja, sampai membuat seluruh rakyat kalang kabut karena ulah orang tersebut.”
Mimik wajah pria senja itu berganti serius ketika mendengar penuturan yang terucap dari cucu kesayangannya, sehingga dia bisa melihat dengan sendiri amarah terpendam oleh gadis tersebut siap meledak.
Dia sangat memahami karakter di dalam diri cucu kesayangannya yang sama sekali tidak takut berhadapan orang-orang tamak jika, nanti gadis itu akan berhadapan langsung dengan beberapa pemberontak di kerajaan milik besannya.
“Kalau begitu biarkan Papa menemanimu ke sana, Ra!” tukas Prasetya yang tiba-tiba ikut menimbrung. “Papa tidak akan membiarkanmu sendirian berangkat ke sana.”
Terdengar nada dengkus kesal dari gadis barbar yang tidak ingin kedatangannya di kerajaan sana dalam keadaan mencolok, karena dia berkunjung untuk melihat-lihat seberapa luas kerajaan yang dipimpin oleh kakeknya tersebut.
__ADS_1
“Aku tidak ingin terlihat mencolok!”
“Lalu mengapa kamu bersikukuh ingin datang ke sana dengan sendiri?” Gunawan menyela dengan cepat karena pria senja itu ingin, mengetahui apa yang membuat sang cucu datang sendiri tanpa ada pun menemaninya. “Bukankah ada dia kamu bisa menghabiskan waktu sebagian dari impianmu?”
“Nanti ada waktunya sendiri, Kek. Namun, untuk kali ini aku benar-benar ingin menyelidiki dengan sendiri, apa yang membuat rakyat di sana mau menerima segala hasutan dari para pemberontak itu.” Jawaban dengan tekad bulat membuat dua pria berbeda generasi mengembuskan napas gusar.
Atas kegigihan yang dilakukan oleh gadis tersebut membuatnya mendapat izin dari dua pria kesayangannya dengan syarat, ada satu orang yang menemani Araela dan dia pun tidak dapat menolak keputusan dengan Millo sebagai syarat tersebut.
“Apa kalian puas?”
__ADS_1