
Tanpa menjawab titah dari Tuannya, ia yang sebagai asisten pribadi itu melakukan tugasnya, dan Tuannya pun tak ingin gagal dalam sebuah rencana yang telah di susun oleh Ayah kandung dari Sonya.
Keesokan hari di siang yang begitu cerah, ia yang kini telah duduk berseberangan dengan Morgan Gayatri Smith.
“Bagaimana kabarmu, Gan?” Pria itu yang tak lain ayah kandung Sonya, tanpa berbasa-basi menanyakan kabar yang di ajukan untuk dirinya.
“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, Bas,” jawab Morgan dingin. “Maaf telah menghubungi, dan memanggilmu datang kemari karena, ada yang ingin aku bahas denganmu.”
“Katakan apa yang ingin kau katakan, dan aku akan mendengarnya,” ujar Bastian dengan raut wajah yang sangat serius.
“Ini tentang putri kandungmu itu, Bas.” Tak lupa sebelum membicarakan tentang Sonya. Morgan menyesap kopi yang dipesan oleh dirinya, dan kemudian dia membuka obrolan untuk berdiskusi tentang rencana yang akan mereka bahas karena, sebelumnya Bastian sendiri telah menyiapkan kejutan yang akan ia lakukan pada wanita yang tela melahirkan putrinya tercinta.
“Ada apa dengannya, Gan? Tak mungkin ‘kan terjadi sesuatu pada putriku?” Bastian sendiri terlihat bingung dengan raut wajah dari Morgan. Meskipun pada kenyataannya ia lebih dulu mengetahui perihal tentang Sonya.
“Aku sudah tak tahan lagi dengan tingkah laku dari putrimu itu, Bas. Kau tahu ‘kan semalam aku mendapat laporan mata-mata yang ku tugaskan mengawasi Ara, dia hampir saja diculik oleh preman-preman yang sekarang ada di tempat markas persembunyianku. Sudah pasti tebakkanku mengarah ke putrimu itu.”
Tanpa ragu Morgan menceritakan perihal putri kandung sang sahabat yang hampir saja menculik Araela. Namun, Bastian belum terlalu memercayai penjelasan yang dilontarkan oleh pria duduk berseberangan itu.
Sebelum Bastian membuka suara Morgan lebih dulu menyela karena ia dapat menerka bila sang sahabat belum percaya sebelum menemukan bukti yang dapat memberatkan Sonya.
__ADS_1
“Kalau kau masih meragu dengan terkaanku, lebih baik ikut aku sekarang,” sela Morgan sambil mengajak Bastian ke tempat markas persembunyiannya.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Morgan meninggalkan cafe yang tak di sampingnya itu ada sang sahabat tercinta.
Akan tetapi sebelumnya Bastian menyuruh asisten untuk mengikutinya di dalam mobil lain untuk berjaga-jaga supaya pergerakannya tak menimbulkan suara wartawan yang selama ini terus mencari keberadaannya.
Tak membutuhkan waktu yang lama kedua pria paruh baya itu pun telah sampai di markas persembunyian milik Morgan Gayatri Smith. Hal tersebut membuat Morgan menatap dingin ke arah beberapa preman-preman yang hampir berhasil menculik sang keponakan tercinta.
“Kau lihat mereka semua ‘kan, Bas?” Nada dingin Morgan menegaskan bahwa ia akan membuktikan terkaan tentang rencana Sonya yang selalu berusaha melenyapkan keponakannya tercinta Araela Ayudia Gayatri Smith.
“Kalau begitu lakukan tugasmu. Aku ingin membuktikan terkaanmu itu!” Bastian tak kalah dingin memberi titah pada sang sahabat.
Begitu air dingin mengguuyur tubuh preman-preman itu pun terbangun dengan sekujur tubuh para preman itu menggigil kedinginan yang mana membuat mereka menatap ke arah sekeliling tempat tersebut, dan ingatan semuanya tertuju pada gadis yang berhasil membuat salah satu di antara rekannya meringis kesakitan karena tendangan maut yang diterima oleh rekan preman itu.
Begitu air dingin mengguuyur tubuh preman-preman itu pun terbangun dengan sekujur tubuh para preman itu menggigil kedinginan yang mana membuat mereka menatap ke arah sekeliling tempat tersebut, dan ingatan semuanya tertuju pada gadis yang berhasil membuat salah satu di antara rekannya meringis kesakitan karena tendangan maut yang diterima oleh rekan preman itu.
Morgan tanpa berbasa-basi menanyakan langsung pada para preman-preman tersebut. Tentang seseorang yang telah menyuruhnya menculik Araela. “Siapa menyuruh kalian menculik gadis yang membuat salah satu rekanmu mendapat tendangan mautnya?”
Seketika ruangan itu menjadi sunyi karena para preman-preman itu pun terkejut ketika mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Morgan Gayatri Smith.
__ADS_1
Kesal tak mendapat jawaban dari preman itu. Morgan menggebrak sebuah meja dengan keras, dan membuat para preman tersebut mendadak takut dengan sorot mata yang dingin itu. “Jadi, kalian lebih memilih bungkam dengan melindungi Tuan atau Nona itu, ya!”
Siapa yang menyangka para preman-preman itu pun justru tak takut berhadapan langsung dengan dirinya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa mampir ya
See you next time
Love you all 💕💕
__ADS_1