
Tak lupa manik matanya menatap ke arah sekeliling kamar sang Putra, sampai pandangannya jatuh pada sebuah gambar yang membuatnya penasaran.
Di dorong rasa penasarannya, Rewindra menghampiri tempat meja belajar sang putra yang terlihat sedikit berantakan. Namun, tujuannya ialah gambar yng ada di depan matanya.
Ketika sampai di meja belajar milik Rolando, tangannya terulur mengambil gambar tersebut, dan dadanya terasa begitu sesk ketika melihat sebuah gambar yang telah berhasil menamparnya.
Gambar tangan mungil yang selama ini merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Meskipun terlihat sederhana tapi gambar itu pun mampu membaut Rewindra tak bisa berbuat banyak. Selain penyesalan yang tengah melanda relung hati terdalam.
Boy, apa kamu benar-benar merindukan kasih sayang dari seorang ibu? Apa artinya Dady yang memberimu luka ini? Dady harus bagaimana untuk menyembuhkan luka hatimu itu, Nak? Mungkin kata maaf pun tak akan pernah bisa membuatmu memanggilku Dady. Namun, satu hal yang pasti selamanya kamu adalah putra kesayangan mendiang Momymu.
Rewindra kembali meletakkan gambar yang membuat siapa pun melihatnya tersentuh dengan goresan tangan kecil Rolando, dan ia pun terpaksa kembali ke dalam kamar pribadinya untuk menenangkan diri, sambil pikiran dan hatinya tiba-tiba teringat dengan gadis yang telah menolong sang Putra tercinta.
Kini Rewindra di depan balkon kamar pribadinya sembari menggenggam segelas wine, tak lupa ingatannya itu terus tertuju pada seorang gadis yang entah mengapa ia pernah melihat tatapan mata itu. Namun ia sendiri sedikit lupa di mana pernah bertemu.
Akan tetapi tiba-tiba saja gadis itu telah membuat salah satu bagian tubuhnya yang berharga berdiri dengan gagah, dan hal tersebut membuat dirinya mengumpat kesal dengan tubuhnya sendiri yang tak lain belalai gajah miliknya berdiri dengan gagah.
“S!alan bagaimana kau bisa berdiri gagah seperti ini, hanya karena teringat dengan wajah gadis itu? Kalau seperti ini terus bisa-bisa aku tak bernapsu lagi dengan mereka. Oh Ayolah kenapa harus kalah sebelum berperang. Terpaksa aku harus menidurkanmu kembali.”
Benar-benar s!Al, dirinya pun tak menyangka belalai gajah yang selama ini lebih suka jajan di luar itu pun harus kalah, dan ia sendiri harus menidurkannya kembali dengan berendam di dalam air yang begitu dingin di malam hari.
__ADS_1
Bila saat ini Rewindra sedang menidurkan belalai gajah yang tengah mengamuk itu. Lain halnya yang dilakukan oleh Rolando di dalam kamar mansion milik Opa Buyutnya itu sedang memikirkan gambar yang sengaja ia letakkan di atas meja belajar miliknya.
Lalu tak lama kemudian terdengar suara yang sangat Ando kenal, dan ternyata suara itu merupakan milik Opa Buyut yang sedang berjalan menghampirinya.
“Sudah malam Boy, kenapa masih bangun?” Sambil mendudukkan bokongnya William menatap lekat manik mata milik Rolando yang selama ini menutup sebuah luka ditorehkan oleh Rewindra itu sendiri.
“Ada apa dengan wajahku, Opa Buyut?” Rolando terlihat heran dengan sang Opa Buyut yang sedang menatapnya.
“Tidak ada, Boy,” elak William. Namun, ia tak kehilangan akal. Sebisa mungkin dirinya mengakrabkan diri pada sang Cicit tercinta yang semakin bertambah tinggi dari usianya.
Untuk mencairkan suasana yang sunyi. William mengajak Cicitnya mwngobrolkan sesuatu hal tentang kehidupan pribadinya.
“Dari mana Opa tahu hal ini?” tanya Rolando balik yang enggan menjawab pertanyaan dari Opa Buyutnya.
William terkekeh lucu saat ia mendengar pertanyaan yang di ajukan dari sang Cicit tercinta. Namun, sebisa mungkin dirinya tak mengatakan hal apa pun pada Cicitnya tersebut. Mengingat dari mata-mata yang ditugaskan itu ia mendapat kabar, bahwa selama ini Rolando keberadaannya diabaikan oleh Cucunya sendiri Rewindra Wiratama.
“Kamu tak perlu bertanya dari mana Opamu tahu semua tentangmu tapi, Boy apa kamu benar-benar membencinya?” William memastikan sendiri pernyataan dari sang Cicit tercinta.
“Maaf Opa kalaupun harus jujur, lebih baik aku mengeluarkan semua yang membuat hati ini terluka. Antara jujur atau tidak hatiku terlanjur sakit dengan perilaku Dady yang tak pernah mau melihat wajahku. Aku berpikir apakah aku pantas ada di dunia ini? Membencinya pun tak bisa ku lakukan karena aku hanya bisa menunggu Dady menyadari bahwa aku begitu berharga untuk kehidupannya.”
__ADS_1
Penjelasan dari sang Cicit membuat William yakin, jika Rolando tengah terbebani antara kebenciaan atau karena hal lain. Itu yang saat ini mengganggu pikirannya.
.
.
.
.
.
Sudah lunas ya jangan lupa tetap dukung karya othor_sii_tomboi
See you next time
Mampir juga di karya temanku ya
__ADS_1