
“Maksud Ayah apa?” Morgan begitu terkejut mendengar penuturan dari ayahnya ini.
“Tidak ada maksud apa-apa … Ayah hanya memintamu untuk tidak terlalu mencampuri urusan bayi mungilmu. Pahamilah kesalahan yang telah kau buat dan membuat kami kecewa karena sikapmu.” Tanpa perasaan Gunawan menegaskan bahwa dia ingin bujang lapuk itu menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya.
“Baik-baik aku tidak akan mencampuri yang satu ini, tapi perlu Ayah jika anak sundal itu menyentuhnya … aku tetap akan membuatnya menyesal karena berurusan denganku!”
Selesai mengatakan hal itu, sang bujang lapuk itu pun meninggalkan ayahnya dan membuat pria senja, tak habis pikir dengan jalan pikiran putra bungsunya ini.
Mengapa kau begitu keras kepala. Tidak pernah memikirkan dampak yang kau lakukan benar-benar mendatangkan bahaya besar. Aku sendiri pun tak tahu kapan ajal menjemputku dan berada di sisinya kembali karena selama ini aku sendiri merahasiakan penyakit yang menggerogoti tubuh renta ini.
Pria senja itu pun tak tahu Jika dirinya akan kedatangan keluarga besar kerajaan yang sedang, mengunjungi sang putri mahkota dan sang raja akan menanyakan perihal perjodohan, yang memang telah direncanakan mendiang menantunya.
*
*
*
Sementara itu, selesai memberi kecupan pada putranya Rewindra memutuskan membersihkan diri setelah dirinya menyelesaikan pekerjaan, sambil menunggu kabar dari Louser tentang perusahaan misterius yang ingin menjalin kerjasama dengannya.
Tak berselang lama kemudian, Rolando terbangun dari alam mimpi begitu anak lelaki itu mendengar suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi, keningnya mengernyit heran ketika dia melihat sebuah laptop yang tergeletak di atas nakas.
Membuat anak lelaki bertanya-tanya mengapa sang dady tiba-tiba ada di mansion dan tak biasanya dady-nya itu berada di sisi Rolando. Sebab, selama ini dia sendiri merindukan dekapan hangat di dalam diri Rewindra dan tentu saja semua itu tak lepas, dari campur tangan dari seorang gadis dengan potongan ala mullet yang tak lain sang putri mahkota itu sendiri.
Meskipun luka hatiku masih belum bisa disembuhkan, tapi aku sangat meyakini dady tak akan memberi luka itu kembali. Untuk kakak cantik yang kusebut dalam doa, semoga kita berkumpul menjadi sebuah keluarga dan pertama kali aku akan memanggilmu bunda.
Tak membutuhkan waktu yang begitu banyak. Rewindra telah menyelesaikan ritual di dalam kamar mandinya. Alangkah terkejutnya dia mendapati sang putra tengah melamun terdiam membisu.
Menghampiri putranya sambil menanyakan kepada anak itu. Apa yang membuat dia melamun seperti ini. “Boy .…”
“Kenapa, Dad?” sahut anak itu dengan pura-pura terkejut karena sejatinya dia sedang tidak melamun.
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu lamunkan?”
“Siapa yang juga melamun,” elak Rolando yang begitu lihai menutupi perasaannya.
“Benar kamu tidak sedang melamun, Boy?” Rewindra memastikan dan dia mendapat gelengan dari putranya.
Tanpa merasa malu kepada anak lelakinya, sang duda casanova justru memperlihatkan belalai gajah dan membuat, Rolando terkejut melihat kelakuan dady-nya ini.
“Dady,” geram Rolando marah. “sana pakai bajumu di kamar mandi ... kenapa malah memperlihatkan itu-mu di depanku?”
“Dady malas ke kamar mandi, Boy ... ganti di depanmu tidak masalah bukan?”
Bibir anak lelaki itu, mengerucut kesal dady-nya ini benar-benar tidak tahu malu. “terserahmu, Dad!”
Setelah itu, Rolando memutuskan berlari keluar dari kamar dady-nya karena anak lelaki itu, benar-benar merasa malu dengan tingkah laku sang dady yang tak habis pikir dibuatnya.
Dahlia yang sedang di ruang keluarga, terkejut melihat sang cucu berlarian menapaki anak tangga, dengan setengah berteriak wanita baya itu memberi peringatan untuk berhati-hati naik ke atas, supaya cucu kesayangannya itu tak terjatuh dan membuat wanita itu terkejut mendengar nada sahutan dari cucunya.
“Ada apa dengan dady-mu, Sayang?”
“Dady berpakaian di depanku, bahkan aku harus melihat kebanggaan-nya.” Rolando dengan bibir mengerucut kesal mengadukan perbuatan duda casanova.
Tawa Dahlia pun meledak ketika wanita baya itu mendengar aduan dari cucunya. Aduan dari Rolando membuatnya merasa mendapat hiburan yang begitu menyenangkan.
“Lalu sekarang dady-mu sedang apa?”
“Tidak tahu, Oma,” jawab Rolando seraya menggeleng. “Aku mau mandi dulu ya, Oma ... nanti bantu cucumu ini untuk membuat ....”
Seakan-akan mengerti dengan permintaan dari sang cucu, wanita baya itu menyela ucapan yang dilontarkan oleh cucunya. “Jangan cemaskan hal itu ... nanti biar Oma yang memikirkan rencana ini. Oke.”
Selesai urusannya bersama sang Oma, kaki anak lelaki itu menapaki anak tangga yang di arahkan ke kamar pribadinya, sambil memikirkan rencana untuk mempertemukan dady dengan kakak cantiknya itu.
__ADS_1
*
*
*
Di sisi lain, dengan sang putri mahkota sedang menumpang taksi untuk di arahkan ke rumah sederhana miliknya karena tujuannya, untuk menenangkan diri setelah memberi hukuman yang diberikan kepada sang bujang lapuk tersebut.
Sesampainya tiba di rumah pribadinya, gadis itu melampiaskan amarah di ubun-ubun, dengan berolahraga untuk mengeluarkan semua yang ada di dada-nya.
Satu jam berlalu menetralkan deru napas yang tersengal-sengal, pendengaran gadis itu menangkap ke arah ponselnya yang terdengar begitu nyaring, dengan kaki melangkah gontai dia Menyambar cepat benda pipih dan mengangkat panggilan tersebut.
“Katakan ada apa kau menghubungiku?” tanyanya dingin tanpa berbasa-basi.
“Mohon maaf atas kelancangan saya karena mengganggu waktu Anda, Nona Muda Ara ... saya ingin memberitahukan bahwa Nona Sonya beberapa menit yang lalu menemui tuan besar.”
“Apa sundal itu menyakiti kakek?”
“Mereka membahas perjodohan yang, diperuntukkan untuk Anda sendiri dan saya mendengar kabar, bahwa nona Sonya meminta posisi atas dasar perjodohan ini, Nona Muda Ara.”
“Apa!” Syok itulah yang terjadi kepada gadis tersebut, membuat salah satu tangannya mengepal erat. Sebab, dia sendiri tak terima dengan kabar yang baru saja didengar. “Bagaimana dengan reaksi kakek?”
“Tuan besar membiarkan Nona Sonya memperebutkan posisi ini, tapi dari yang saya dengar langsung tuan besar tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
“Kenapa bisa begitu?” Araela memastikan.
“Sebab, mendiang nyonya bersahabat dengan nyonya Dahlia. Jadi, untuk itu perjodohan yang dilakukan mereka hanya untuk Anda sendiri, serta itu tidak ada kaitannya dengan nona Sonya.”
“Hm, begitu rupanya. Baiklah karena dia ingin memperebutkan posisi itu, biarkan sundal itu melakukan apa yang diinginkannya ... tugasmu cukup mengawasi pergerakan yang dilakukan olehnya. Paham!”
Sambungan itu, dimatikan secara sepihak dengan dia menggeram marah karena sundal itu, sama sekali tak pernah berhenti membuat hatinya terluka.
__ADS_1
Aku pikir setelah dia mendapat pria pengecut itu masih belum cukup untuknya dan sekarang sundal itu menginginkan perjodohan ini? Baiklah sundal aku akan duduk dan berdiam sambil melihat seberapa kuat kau bisa, mengambil posisiku karena keyakinanku kali ini kau tak mungkin bisa menang dariku. Sebab, aku juga tak akan mundur dari perjodohan yang sejak lama menjadi amanah dari mamaku tercinta. Aku akan menghadapi kelicikan dan tak ada rasa takut didalam kamusku.