Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Tak Lagi Menagih


__ADS_3

“Tak perlu ikut campur!” Araela bersuara dingin setelah David melontar tanya, karena tak sengaja melihat tatapan dingin itu. “Kau sudah selesai berdebat dengan putraku?” Gadis itu membalik pertanyaan.


“Aku mengaku kalah, Ra. Putra benar-benar pandai membalik kata-kataku, padahal selama ini aku mengenal dia 11-12 dengan suamimu itu.” David tergelak dengan, mengangkat kedua tangan di atas. “Kapan kau mengunjungi kakek, Ra?”


“Kau tidak lelah menanyakan hal ini berulang-ulang?” Ketus dan dingin terucap dari bibir Araela, menggambarkan bahwa gadis itu berdecak kesal, dengan lontaran tanya yang dilayangkan untuknya. “Kau jangan khawatir aku pasti akan datang ke sana, pastikan apa yang kuminta harus bisa kau lakukan untukku!”


“Oke.” David mengangguk yang tak lama kemudian ia teringat sesuatu, dan kembali melontarkan tanya untuk gadis itu. “Ra, kau mengenal Asyifa?”


“Untuk apa kau menanyakannya?”


“Hanya ingin mengetahui kabarnya saja, apa tak boleh aku menanyakannya?”


“Jangan coba-coba untuk mengusiknya, atau kau akan berurusan denganku!” Araela melayangkan ancaman, untuk pria di hadapannya. “Dia bukanlah seseorang yang bisa kau usik, ada suamiku yang menjaga gadis itu dengan baik.”

__ADS_1


David tergelak mendengar ancaman yang dilayangkan untuknya, meskipun begitu ia sama sekali tak takut ancaman itu. “Apa kau pikir aku akan takut dengan ancaman yang kau layangkan untukku, Ra? Tanpa meminta izin darimu, aku tetap akan mencari tahu sendiri kabarnya!” Tekad bulat dengan menggebu-gebu membuktikan, bahwa ia akan berusaha untuk menjalani hubungan komitmen, dengan seorang gadis yang membuat pria itu mati penasaran.


Tak takut akan oleh ancaman itu, Araela membiarkan sang sepupu untuk serius dengan ucapan yang diungkapkan, bersamaan seringai dingin tersungging di wajah cantiknya. “Lakukan apa yang menurutmu baik! Jangan coba-coba untuk menyakitinya karena dia, seseorang yang spesial di dalam kehidupanku.” Araela berkata tegas, sembari mengusir pria itu tanpa perasaan. “Sekarang aku tak butuh kehadiranmu di sini, kau bisa kembali ke tempatmu sana! Ingat jangan coba-coba untuk menagih, apa yang kulakukan hari ini di hadapannya.”


David pasrah karena ia tak berani melawan perintah, yang terucap dari calon ratu kerajaan itu.


Memutuskan untuk memenuhi permintaan karena ia memang sudah tak dibutuhkan lagi. Namun, pria itu memang tak akan menagih apa pun pada sang sahabat, tapi David tetap ingin bertemu Rewindra karena mereka akan membahas, tumpukan dokumen yang telah menjadi kerja sama di antara mereka.


*


*


*

__ADS_1


“Astaga bisa tidak, kau mempersilakan aku duduk lebih dulu, Ndra? semprot David sembari melontar, pertanyaan balik dengan mendengkus kesal. “Tak di mana-mana kalian, selalu bisa membuatku terpojok.” Ocehan bernada sungut itu pun, enggan digubris oleh Rewindra. “Tak tahukah kau, aku diancam oleh istri barbar-mu untuk tak menagih, persoalan tagihan yang menguras isi dompetku.”


Rewindra menyimak sembari tetap, mengulang lontaran tanya itu. “Lalu apa yang kalian bahas?”


“Tidak ada yang kami bahas, Ndra.” Elakan yang terjawab oleh David, tak membuat Rewindra puas mendengarnya. “Masalah ini aku sudah berjanji pada istrimu, untuk tak mengungkit apa pun di hadapanmu.”


“Kenapa, Dav?” Rasa penasaran pria itu menggebu-gebu ketika ia mengetahui, jika sang istri lebih nyaman terbuka bersama David yang merupakan, sahabat terdekatnya dibandingkan dengan pria itu sendiri. “Apa benar-benar tak ingin mengungkit itu di hadapanku?”


David menggeleng dan bersikukuh untuk tak, mengungkit apa pun yang berhubungan dengan masalah kerajaan. Biarlah ia dianggap pengkhianat asalkan pria itu, bisa mendapatkan kepercayaan dari gadis barbar tersebut.


“Kalau kau memang ingin mengetahuinya, bahas sendiri dengan istrimu!” David memberi saran.


Hal tersebut membuat Rewindra pasrah dan tak lagi mengungkit pertemuan mereka. “Nanti malam aku akan membahas hal ini dengannya.” Seketika ia teringat dengan dokumen kerja sama itu. “Bagaimana dengan proses pembangunan itu? Apa ada yang ingin kau bahas?”

__ADS_1



__ADS_2