
Ia pun berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki, dan menyembuhkan luka hati sang Putra, dengan berhenti melakukan sesuatu yang selama ini membuatnya melupakan kewajibannya sebagai seorang Ayah.
“Aku tak ingin kau hanya mengucap janji palsu, Dad! Buktikan semuanya dengan perbuatanmu secara nyata di hadapanku!” Rolando menegaskan pada sang Dady untuk membuktikan semua perbuatannya itu, agar ia sendiri dapat menghapus pelan-pelan rasa benci yang telah lama tertanam di dalam dirinya.
“Apa itu berarti kamu akan memaafkan Dady, Boy?” Rewindra memastikan diri bahwa sang Putra telah memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Enggan menjawab pertanyaan dari Dadynya. Ia pun melepaskan dekapan yang selama ini dirindukan, seraya membalik tubuh dengan berucap ketus dan dingin. “Buktikan itu dulu, Dad.”
“Boy, mau ke mana kamu?” Rewindra sedikit terkejut dengan perilaku sang Putra yang tak bisa ditebak tentang emosinya.
“Mau ke dalam menemui, Kakak cantik. Aku akan pulang dengannya!” kata Rolando tanpa menolehkan ke belakang sambil melangkahkan kakinya.
“Pulang dengan Dady ya, Boy,” pinta Rewindra sambil mengekor sang Putra.
“Tidak mau, Dad. Aku maunya pulang dengan Kakak cantik!” Rolando juga tak mau kalah keras kepala dari Rewindra. “Kakak cantik telah berjanji denganku yang akan mengantarku pulang, Dad. Jadi, aku tak ingin pulang denganmu.”
Bukan tanpa alasan Rewindra bersikeras menolak permintaan Putranya, hanya saja ia sedikit malu dan canggung berhadapan dengan gadis itu. Apalagi rasa perih itu masih terus terasa di belalai gajah miliknya karena tendangan maut yang begitu keras.
Akan tetapi, melihat raut wajah sang Putra yang begitu nyaman dengan gadis itu membuat ia tak bisa berkutik. Dilema itulah yang dirasakan oleh dirinya.
Terpaksa ia menuruti permintaan sang Putra, dengan ia yang mati-matian menahan malu bercampur aduk. Namun, tak disangka gadis itu seperti berpengaruh apa-apa ketika berhadapan langsung dengannya.
Apa artinya kamu benar-benar nyaman berdekatan dengannya, Boy? Dady akan melakukan berbagai macam cara untuk membuatmu bahagia. Termasuk mengizinkannya menjadi bagian kehidupan kita nanti.
__ADS_1
***
Menerima pesan singkat yang berisi tentang permintaan Morgan untuk memunculkan diri di hadapan wanita yang telah memberinya seorang Putri. Bastian memanggil asistennya untuk melakukan rencana lain dan memberinya tugas dengan sebuah rencana yang telah ia susun dengan matang.
“Apa bukti tes DNA yang kau simpan masih aman?” Bastian memastikan sebelum ia memulai aksinya.
“Semua yang Anda pinta sudah selalu saya simpan dengan aman, Tuan.” Asistennya tak kalah tegas dengan Bastian sendiri.
“Aku suka cara kerjamu!” Bastian memuji sang asisten karena ia selalu puas dengan kerja keras yang selalu membuatnya puas.
Selangkah lagi ia akan bertemu dengan putri kandungnya. Namun, pertanyaan dari asistennya sendiri secara tak langsung membuatnya meradang.
“Tuan, apa Anda yakin rencana ini akan berhasil?”
“Maksud saya begini, Tuan.” Lalu sang asisten pun memberi saran untuk mengubah setidaknya rencana yang telah ia susun itu harus benar-benar berhasil untuk bertemu dengan putri kandungnya.
“Baiklah, aku akan memakai saran yang kau pakai! Namun, harus ingat jika gagal kau sudah siap dengan hukumanmu?” ucap Bastian sambil memberinya ancaman tentang hukuman itu.
Obrolan keduanya pun terus berlanjut, sampai ia menanyakan tentang laporan beberapa berkas yang perlu di tanda tangani oleh dirinya. “Apa ada masalah dengan kantor pusat?”
“Tidak ada, Tuan.”
“Oke, fokus kita kali ini pada rencana yang tersusun harus berhasil karena sekian lama aku selalu merindukan dan ingin segera memeluknya.”
__ADS_1
Sudah sejak lama Bastian menahan rindu yang menggebu-gebu untuk Putrinya karena sejak di dalam kandungan ia di pisah oleh seorang wanita yang pernah mengisi hatinya.
Hal tersebut membuatnya membenci seseorang yang telah melahirkan seorang Putri, bahkan dulu saat ingin bertemu saja harus secara sembunyi-sembunyi karena ancaman begitu mematikan.
“Apa ada lagi perintah yang ingin Anda sampaikan, tuan?” asisten pribadi Bastian kembali bertanya pada tuannya itu.
“Kembali-lah ke tempatmu! Aku ingin menenangkan diri, dan jangan ada seorang pun yang menggangguku. Paham!” titah Bastian dingin.
Setelah tak melihat asistennya ia pun kembali melamunkan tentang rencana yang telah di susun rapi untuk memberi kejutan pada wanita itu.
Aku sangat yakin kau tak akan bisa berkutik Kembali, dan rasanya tak sabar untuk bertemu dengan putriku. Kalaupun dia menolak kehadiranku, aku akan memberinya sebuah bukti yang selama ini disembunyikan tanpa ada seorang mengetahuinya. Tunggu kejutan dariku Mayang!
.
.
.
.
.
__ADS_1