
“Kau tidak akan bisa membuka pintu itu karena aku sudah membuang kuncinya.”
Bujang lapuk itu pun membalikkan tubuhnya dan di salah satu tangannya, menggenggam sebuah pistol yang ditempelkan ke dagu wanita tersebut.
Sambil menahan gejolak hasrat dengan aura yang begitu gelap pria itu tetap menyuruhnya membukakan pintu, tanpa memedulikan raut wajah ketakutan karena pertama kali melihat sorot mata menakutkan.
Setelah pintu berhasil terbuka Morgan meninggalkan wanita itu dengan menahan amarah karena telah gagal mendapatkan keinginannya.
Sialan! Kenapa memilikimu sesulit ini? Sudah lama aku begitu mengagumimu, mendambamu dan juga hanya kau pria yang kuʼ mau. Namun, mengapa sulit menggapaimu? Aku sudah begitu lama mencintaimu.
Ia membutuhkan tempat untuk melampiaskan amarahnya dengan pergi dari tempat tersebut karena masih ada waktu untuk membuat seorang Morgan bertekuk lutut di hadapannya.
Morgan sang bujang lapuk tak tahan dengan suhu tubuhnya yang terbakar dan pria itu membutuhkan pelepasan karena dirinya merasakan panas yang luar biasa.
Dari arah luar terdapat seorang gadis yang sedang di ajak oleh teman se-kosnya. Namun, gadis itu menolak masuk ke dalam.
“Ayolah, masuk ke dalam.”
__ADS_1
“Tidak terima kasih … lebih baik aku pulang saja.”
“Tidak ada kendaraan yang lewat dan kalau mau kau bisa menungguku.”
Citra gadis yang di ajak oleh teman se-kosnya mengangguk setuju karena dirinya benar-benar tak ingin masuk ke dalam tempat tersebut.
“Jangan kemana-mana sampai aku selesai dengan urusanku.”
Tak lama kemudian sekitar lima belas menit berlalu gadis itu dikejutkan oleh seseorang yang sedikit familier dibenaknya.
Sebab, obat peranggsang dengan dosis tinggi telah menguasai pikiran Morgan Gayatri Smith dan membuat pria itu tidak mengingat apa pun yang sedang menimpanya.
“P … ak. Saya mau dibawa ke mana?”
Enggan menjawab pertanyaan dari gadis tersebut. Bujang lapuk itu menarik tangan dan membawa ke tempat lain.
Setelah sampai di tempat tujuan tanpa membuang waktu banyak pria itu membanting kasar tubuh ramping yang tak disangka-sangka Morgan mendaratkan keccupan di bibir gadis tersebut.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan, Pak!” Citra meronta-ronta dibawah kungkungan bujak lapuk tak lain Morgan Gayatri Smith.
“Diamlah!” bentaknya dengan suara berat. “Inikah yang kau mau dariku, hah?”
Seakan-akan bujang lapuk itu menganggap wanita yang berada dibawah kungkungan adalah seseorang selama ini mengejar dirinya. “Sekarang aku akan mewujudkan keinginanmu dan setelah itu enyahlah dari kehidupanku!”
Malam ini adalah hari buruk buat Citra yang tanpa menahu gadis itu merelakan sebuah harta yang selama ini terjaga terenggut oleh seorang pria tak lain adalah orang hanya sekali bertemu dengannya.
Sementara itu, Morgan tanpa berhenti melakukan hal tersebut bersama seorang gadis tak berdosa. Sebab, pria itu melakukannya karena pengaruh dari peranggsang yang membuatnya tak mengingat apa pun.
Selain sebuah dessahan merdu dan begitu sangat indah ditelinganya dan kedua insan yang dipertemukan secara tak sengaja telah mengantarkan seorang Morgan Gayatri Smith menjadi sesosok yang begitu dingin.
Setelah mencapai puncaknya dengan deru napas yang tersengal-sengal pria itu menggulingkan tubuh kekarnya tanpa memedulikan ratapan tangis dari gadis yang direnggutnya.
Maafkan Citra yang tidak bisa menjaga diri.
Tengah malam gadis itu mengguyur seluruh tubuh rampingnya karena merasa begitu kotor telah ternodai yang juga ia bersumpah tak akan menemui pria tersebut untuk kedua kalinya.
__ADS_1