
“Apa kau melihat keberadaan keponakanku?” Berpapasan dengan seorang pelayan di mansion. Morgan yang masih sedikit merasakan mual itu melontarkan tanya.
Membuat ia mendengkus kesal begitu mendengar sahutan jika keponakannya itu sedang beristirahat di dalam kamar pribadi yang memang diperuntukkan untuk Araela. Tanpa bertanya kembali Morgan bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar sang keponakan yang membuat dahinya mengernyit.
Ketika ia menyadari jika kamar pribadi keponakannya itu terkunci dari dalam, sehingga membuat Morgan tidak bisa leluasa masuk ke dalam kamar tersebut.
“Baby! Apa kamu ada di dalam? Kenapa kamarmu dikunci dari dalam? Buka pintunya! Om tidak bisa masuk ke dalam.” Menggedor daun pintu begitu keras seraya melontarkan todongan yang membuat sepasang dua insan terlelap nyenyak terganggu, hingga salah satu di antara sepasang suami — istri itu terbangun begitu mendengar suara keras dari luar kamar.
Rewindra berdecak kesal ketika tidur lelapnya terganggu yang membuat pria itu menurunkan tubuh mungil, sang istri dan merebahkannya dengan pelan tanpa mengganggu tidur lelap gadis itu.
Mengenakan kembali boxer dengan sedikit mengumpat geram karena rasa sakit gigitan itu masih terbayang-bayang dipikiran pria itu. Namun, ia mengabaikan sakit itu sambil mengenakan celana panjang dan menyelimuti tubuh mungil yang tanpa selehai benang, hingga kaki Rewindra melangkah ke arah daun pintu dan membukanya dari dalam setelah pria itu memberi sahutan.
“Ada apa, Om?” Rasa kantuk Rewindra menghilang ketika mendapati raut wajah, tidak bersahabat dari pria yang mengarahkan tatapan datar untuknya. “Dia masih tertidur pulas, Om!”
“Apa kau baru saja membuat bayi mungil-ku kelelahan melayanimu?” Sebaliknya Morgan terlihat enggan berbasa-basi dengan pria muda di depannya. Namun, ia mengumpat geram dengan beberapa tanda keunguan terpampang nyata di tubuh Rewindra yang sedang bertelanjang dada. 'Sialan! Duda satu ini meresahkan sekali ... apa dia sengaja ingin pamer di hadapanku? Aku bahkan tidak bisa masuk ke dalam! Kalau sudah begini aku hanya bisa menunggunya.'
“Aku ingin bertemu dengannya!” Tanpa mengarahkan kembali tatapan datarnya. Morgan memerintahkan kepada pria muda di hadapannya, untuk memberikan jalan agar ia bisa masuk ke dalam kamar tersebut.
Siapa yang bisa menduga jika pria muda itu, menolak ia masuk ke dalam kamar sang keponakan. “Aku sangat paham kau ingin bertemu dengan istriku, Om ... di dalam sana dia sedang tidak mengenakan apa pun, ditambah dia benar-benar tertidur pulas dan aku tidak berani mengganggu maupun membangunkannya! Apa kau ingin dimarahi oleh dia?” Dalam hati Rewindra bersorak karena ia bisa mengusir dengan halus, seorang pria yang selalu ingin berdebat hanya karena masalah sepele.
__ADS_1
Menariknya kedua pria itu sama-sama memperebutkan perhatian tertuju kepada Araela. Gadis barbar yang begitu lihai membuat mereka bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Morgan yang sedari tadi menahan rasa mual menyerangnya kembali membalas pertanyaan yang dilontarkan dengan memberikan pernyataan, tentang peluh keringat Rewindra yang seperti kotoran sapi dan pria itu benar-benar tidak tahan berdekatan dengan pria di hadapannya.
“Apa kau tidak sedang membual, Om? Bau keringatku ini ... tentu saja karena habis berbagi kenikmatan dengan keponakanmu itu! Tahu tidak, Om ... giginya begitu ganas sampai membuat si belalai gajahku meradang karena ulahnya.” Rewindra bercerita tentang kenikmatan tiada tara yang membuat mimik raut wajah Morgan semakin tertekuk.
Bagaimana mungkin mantan duda casanova itu begitu santai dan lancar menceritakan, sesuatu yang berbau hal kemessuman seperti tidak punya urat malu.
“Sialan, kau! Aku adukan kau padanya nanti ... apalagi pakai menamai belalai gajah segala.” Mengumpat dengan memberi cibiran yang membuat Rewindra tersenyum-senyum sendiri.
Mengingat pria itu masih terbayang-bayang oleh permainan yang dilakukan istri kecilnya, dan membayangkan saja membuat si belalai gajah mengacung dengan sendiri.
Morgan bergidik ngeri melihat tingkah laku tidak tahu malu dilakukan oleh pria muda itu dengan terpaksa, ia membalik tubuhnya tanpa berkata lagi kakinya di arahkan ke kamar pribadi seraya bersungut-sungut.
“Apa yang kau membuatmu tertawa seperti ini, hah?”
Membalik tubuh tinggi tegap dan terkejut melihat raut wajah dingin yang membuat jakun pria itu bergerak naik-turun ketika ia disuguhkan, pemandangan yang membuat napasnya ikut naik-turun karena dua benda kesayangan itu terpampang nyata di hadapan mata.
“Hon, kamu sudah bangun?”
__ADS_1
“Lalu kau ingin aku apa dan bagaimana? Suara tawamu yang membuatku terbangun.” Gadis itu mengernyit heran dengan raut wajah sang suami, hingga membuatnya mengikuti arah pandangan pria itu.
Alangkah terkejutnya ia mengetahui apa yang membuat sang suami terbengong-bengong karena mendapati, dua benda kesayangan dengan beberapa jejak keunguan di sana. 'Pantas saja raut wajah itu terbengong-bengong, rupanya karena ini dan juga jejak-jejak ungu apa bisa hilang? Aku selalu kalah melawan tenaganya, tapi itu juga membuatku senang. Sekian lama aku belum pernah melakukan hal seliar ini untuknya, dan itu membuktikan kau hanyalah milikku seorang! Meskipun aku tidak mengetahui kapan badai besar itu datang.'
Masih melihat raut wajah bengong sang suami. Araela melontarkan nada sarkas, “Tutup mulutmu! Mereka tidak akan direbut oleh siapa pun darimu. Seperti tidak pernah puas bermain-main dengan mereka!”
“Bukankah aku hanya milikmu seorang? Aku tadi seperti mendengar suara bujang lapuk memanggilku? Apa kau sengaja pamer padanya?” lanjutnya dengan lontaran tanya.
Nyali Rewindra menciut lontaran tanya tidak dapat membuatnya menjawab, apa yang terucap di bibir ranum candu berbahaya. “Hon, a ... ku ....
“Dasar duda casanova!” Memberi umpatan serta menaikkan sedikit selimut untuk menutupi, dua benda yang sedari tadi dicuri pandang oleh sang suami. “Kenakan lagi ini dan bergegaslah ke kamar bujang lapuk!”
“Mengapa harus ke kamarnya, Honey?”
“Bersihkan dirimu di kamar itu! Aku tidak mau kau mengganggu waktuku di kamar mandi ini. Mengingat isi pikiranmu sudah pasti, tidak jauh dari bagian inci tubuh ini!” Mengarahkan jari telunjuk seraya menyuruh sang suami keluar dari kamar pribadinya, hingga pria itu tidak berkutik dengan keputusan yang dilakukan oleh Araela Ayudia Gayatri Smith.
Tidak berselang lama kemudian sepasang suami — istri itu, telah menyelesaikan urusan masing-masing dan dua insan tersebut, sedang menghadap si empu mansion yang mengarah tatapan dingin untuk mereka.
Gadis itu, tidak memedulikan tatapan dingin dari bujang lapuk itu. Namun, ia dibuat pusing oleh dua pria berbeda generasi yang sibuk berdebat, hingga nada sarkas itu pun terlontar dari bibirnya yang membuat nyali dua pria itu menciut.
__ADS_1
“Teruslah sampai mulut kalian berbusa. Selalu saja membuatku pusing!”