Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Rasa Sesal Morgan


__ADS_3

“Sekarang tahu bukan apa kesalahanmu, Boy?” Setelah sang cucu membawa calon suaminya. Gunawan saat ini benar-benar geram dengan tingkah laku putra bungsunya ini.


“Tapi, Ayah aku melakukannya karena tidak ingin bayi mungilku kenapa-kenapa.”


“Kau telah melakukan kesalahan besar, Boy. Tanpa alasan yang jelas tiba-tiba kau memukul calon menantumu sendiri. Apa nanti kau bisa menjelaskan alasan logismu kepadanya?” Dia yang dimaksud oleh Gunawan putra sahabatnya yang tak lain William Wiratama.


Apa katanya nanti jika sang sahabat mengetahui cucu kesayangannya mendapat pukulan dari putra bungsunya ini.


“Kesalahanmu juga bisa mendatangkan bahaya besar, Boy … apa kau tidak ingat kejadian lalu? Saat sang putra mahkota yang tak lain pamannya lain mengadu skill denganmu? Sampai mereka mengizinkan kita merawatnya dengan syarat diajukan itu, Boy? Jika mereka mengetahui hal ini tamatlah riwayatmu.”

__ADS_1


Morgan sendiri begitu lupa dengan status bayi mungil-nya yang begitu sangat dirahasiakan keberadaannya, mengingat tidak ada seorang pun mengetahui perihal jati diri Araela Ayudia Gayatri Smith.


“Maaf, Yah.” Rasa sesal menyelimuti di dada Morgan Gayatri Smith karena telah membuat bayi mungil-nya kecewa akan sikapnya.


“Ayah rasa cepat atau lambat mereka akan membawa bayi mungilmu kembali ke negaranya dan pada saat itu, ayahmu ini tidak bisa berbuat banyak karena perjanjian yang kita sepakati tidak bisa diganggu gugat.”


Gunawan kembali melanjutkan ucapan yang dilontarkan dan hal tersebut, membuat sang putra tertegun karena terlalu overprotektif kepada bayi mungil-nya. “Ayahmu ini tahu banyak kegiatan yang dilakukan oleh bayi mungilmu di luar sana dan kau harus ingat, saat ini dia begitu sangat dekat dengan seorang anak lelaki yang telah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri … lalu apa kau tega memisahkannya jika mereka membawa bayi mungilmu?”


“Kau tetap saja membuatnya kecewa dengan sikapmu, Boy.” Gunawan sendiri pun masih tidak terlalu memahami jalan pikiran putra bungsunya, yang terlalu mengengkangi kehidupan sang cucu tercinta.

__ADS_1


Yang kemudian pria senja itu menanyakan tentang perjodohan untuk cucu kesayangannya itu. “apa kau keberatan dengan perjodohan yang Ayah lakukan, Boy?”


Deg –


Lidahnya kembali kelu ketika ayahnya membahas perjodohan yang diperuntukkan bayi mungil-nya bukan karena tidak setuju hanya saja, Morgan belum siap berpisah dengan seorang gadis yang hidupnya selalu dalam dekapan hangat penuh kasih itu.


“Aku bukan tidak keberatan dengan perjodohan yang Ayah lakukan, tapi putramu ini tidak akan sanggup berpisah dengannya … sejak dirinya menjadi bayi merah sampai sebesar ini cinta kasihku hanya untuk dia yang tak pernah dianggap ada.”


“Itu sama saja kau keberatan dengan perjodohan yang sejak lama dilakukan oleh mendiang ibumu, Boy. Kau tahu tidak mereka sudah lama menantikan hal ini dan siap atau, tidak bayi mungilmu akan jatuh ke tangan orang yang tepat. Maka dari itu kami sepakat menjodohkan mereka.”

__ADS_1


Kedua pria berbeda generasi tidak lagi membuka suara, sampai-sampai salah satu diantaranya memutuskan untuk menenangkan diri.


Morgan tidak lagi bersuara dan pria dengan julukan bujang lapuk itu meninggalkan sang ayah sendiri karena tujuannya, hanya tempat itu untuk memikirkan waktu atas perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


__ADS_2