Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Malaikat kecil hadiah dari Momy


__ADS_3

“Tidak juga, tapi setelah kau menyelidiki identitasnya ... apakah akses bayi mungilku sudah kau tutup kembali?”


“Ck, Morgan, kau ini ... dari dulu sampai sekarang tak ada ubahnya ... ketika menyangkut tentang wanita yang dicintai olehmu ... jangan terlalu posesif nanti dia mulai ilfil bagaimana?”


“Aku tak pernah memusingkan hal itu, Kak. Terpenting bayi mungilku selalu bahagia, dan kedatanganku berkunjung kemari, untuk meminta bantuan memberi peringatan pada putramu.”


Pramana tak mengerti dengan penjelasan yang dilontarkan oleh Morgan. “Hah. Apa yang kau maksud, Gan?”


Mendengkus kasar karena sahabat sang kakak, tak begitu tanggap dengan tujuannya ke kantor ini. “Katakan langsung kepada putramu, untuk tak menyentuh bayi mungilku, dan kau pikir aku tak tahu peringai dirinya, yang mendapat julukan duda casanova terkenal dimana-mana? Mendengarnya julukan untuk putramu membuat telingaku merasa geli.”


“Jadi, kau datang kemari hanya karena ini, Morgan?” tergelak lucu ketika melihat adik sahabatnya, yang tiba-tiba datang meminta bantuan untuk memberi peringatan pada putranya. “Kau benar ... semenjak kematian istrinya ... putraku benar-benar menjadi pribadi yang kau sebutkan itu. Namun, satu hal yang harus kamu ketahui ... dia melakukan atas dasar rasa suka, bukan mengedepankan perasaan kepada semua wanita yang menjadi patner ranjangnya, dan untuk itulah mengapa dia mendapat julukan duda casanova, si penakluk para wanita.”


Kemudian sahabat sang kakak pun, tanpa menceritakan sebuah kisah perjalanan rumah tangga putranya, dan kisah yang didengar langsung oleh dirinya, membuat Morgan merasa tertampar karena dari cerita tersebut.


Nasib cucu dari sahabat kakaknya, mengalami kisah yang sama dengan bayi mungilnya. “Kak, kau tak sedang mencandaiku bukan?”


“Tanyakan langsung pada istriku, Morgan. Jika kau masih penasaran dengan apa yang ku-ceritakan denganmu.” Pramana enggan membahas cerita itu karena semua yang dialami cucunya, dialami oleh mendiang sahabat istrinya. “Lagipula para orang tua kita sebenarnya sudah menjodohkan mereka sejak lama, dan sayangnya putraku harus menikahi wanita yang dicintainya. Jadi, bagaimana menurutmu?”


“Aku tak akan menolak permintaan mendiang ibuku, dan juga mendiang kakak iparku sepertinya sudah lama merencanakan hal ini.”


“Kalau begitu mengapa kau masih belum menerima hal ini?”


Pramana berdecak kesal karena dirinya tak mendapat langsung dari adik sahabatnya, yang seperti belum menerima perjodohan dilakukan kedua orang tuanya. “Lama sekali kau menjawab pertanyaanku, Morgan. Lagipula aku tak bisa berlama-lama mengobrol banyak denganmu karena beberapa menit lagi, aku mau menghadari rapat dan bisakah kau menyelesaikan urusanmu?”


“Kau mengusirku, Kak?” protesnya dengan bibir mencebik kesal.


“Anggap saja begitu,” sahut Pramana, sembari tangannya menggenggam sebuah introform, dan tak lama kemudian terdengar ruangannya diketuk dari luar. “Masuk!” Menitah dengan suara teriakan dari dalam.


Hal tersebut membuat sekretarisnya masuk ke dalam ruangan, dan begitu selesai membungkuk hormat dengan menyerahkan beberapa berkas, saat itulah Morgan yang merasa diacuhkan mengundurkan diri tanpa berpamitan dengannya.


“Kenapa kau menatapnya seperti itu?” Pramana membuka suara, saat dirinya tak sengaja mengarahkan pandangan pada sekretaris, yang sedang menatap punggung Morgan menghilang dibalik pintu.


“Anu, Pak. Itu, sa —” merutuki kebodohannya karena ketahuan sedang menatap seorang pria, yang membuatnya heran karena pria itu sama sekali tak memedulikan beberapa wanita berlalu lalang, dan ia sendiri pun enggan bertemu dengan sorot mata dingin itu.

__ADS_1


“Karena dia main pergi begitu maksudmu, hm?” tanyanya penuh selidik.


“Ya, Pak,” jawabnya dengan mengangguk kepala.


Pramana terkekeh lucu ketika melihat ekspresi raut wajah bingung sekretarisnya. “Jangan kau pikirkan, dia memang seperti itu, dengan wanita yang menatapnya, dan aku rasa kau pasti tak tertarik dengannya bukan?”


“Maaf, Pak. Anda benar saya ....” Suara sekretaris Pramana itu berganti nada datar karena enggan membahas perihal tentang pria yang pergi tanpa berpamitan. “Saya tak ingin agenda rapat ini tertunda.” Berkata demikian untuk mengalihkan obrolan agar atasannya tak lagi membahas sesuatu yang tak ada hubungan dengannya.


“Kau pergilah ke ruangan sebelah, dan katakan pada dewan direksi, serta divisi lain untuk segera hadir didalam rapat kali. Paham!”


Kembali membungkuk hormat seraya berpamitan undur diri, untuk mempersiapkan rapat yang akan dipimpin langsung oleh atasannya itu.


*


*


*


Sementara itu di sisi lain, dengan Rolando Wiratama yang saat ini sedang melamun sembari menyusun rencana misi selanjutnya, yang mana misi pertama itu digagalkan oleh dady-nya. Hal tersebut menarik perhatian Dahlia kebetulan sedang membuka pintu kamar, dan terkejut melihat keadaannya yang sedang melamun itu.


Anak lelaki itu pun terkejut, ketika mendengar pertanyaan dilontarkan oleh sang oma, yang tiba-tiba sudah berada didalam kamar pribadi. “Oma ....


“Ya, Sayang. Kenapa?” Kemudian ia mengulang pertanyaan yang sama. “Sedang melamunkan apa sih kamu ini, Nak?”


“Dady nakal, Oma,” adunya dengan bibir mengerucut tajam. “Dia menggagalkan rencanaku untuk mendekati kakak cantik.”


“Jadi, kakak cantikmu tadi tak sempat ikut sarapan pagi, dan memilih berpamitan denganmu untuk disampaikan kepada oma karena ada Dady-mu begitu, hm?”


“Ya, Oma. Maafkan aku yang tak bisa mengajaknya sarapan bersama kita, dan ini semua karena dady menggagalkan misi pertamaku.”


Dahlia yang mendengar keluhan dari sang cucu, tak kuasa menahan tawa berusaha diledakan, tapi setidaknya ada kemajuan yang sedang dilakukan oleh cucunya tersebut. “Jangan berkecil hati karena masih ada waktu yang bisa dipergunakan olehmu, untuk melanjutkan misi yang digagalkan dady-mu.”


Anak lelaki itu pun tersenyum semringah, ketika mendapatkan semangat yang membara, untuk membawa dan menyatukan kakak cantik dengan dady-nya. “Terima kasih, Oma. Aku jadi semakin bersemangat untuk membawa kakak cantik ke dalam kehidupan pribadiku, dan maaf jika aku meminta bantuan kepadamu.”

__ADS_1


“Sudah sewajarnya kamu meminta hal ini, Sayang. Karena sejak menjadi bayi merah sampai sekarang, tak pernah sedikit pun kamu mendapatkan kasih sayang dari dady-mu. Namun, setidaknya ada Oma dan Opamu yang tak pernah berhenti mencintai dan menyayangimu tanpa syarat. Karena kamu adalah malaikat kecil yang dititipkan oleh momy-mu untuk menjadi pelipur lara hatinya.”


Air mata anak lelaki yang diabaikan selama tujuh tahun itu, tanpa terasa mengalir dengan sendiri ketika mendengar kenyataan, kelahirannya ke dunia sebagai pengobat pelipur lara, untuk dady-nya itu sendiri. “Apa, Oma tak memarahiku karena, a —”


“Oma tak pernah sedikit pun mempermasalahkan kebencianmu untuk dirinya, tapi satu hal yang harus kamu ingat dengan baik-baik, seburuk apa pun perlakuannya kepada dirimu, dan sebenci apa pun kamu dengannya ... jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya karena dia tak akan bisa hidup tanpamu.” Dahlia berhati-hati memberi nasehat untuk sang cucu karena wanita itu sangat yakin, bahwa cucunya tersebut benar-benar sangat merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


“Baik, Oma.” Membalas dekapan erat, anak lelaki itu sama sekali tak pernah sedikit pun, memendam kebencian yang mendalam karena dihati kecilnya masih tersimpan harapan, untuk dady-nya dengan menyatukan kakak cantik, dan menjadi keluarga yang seperti didalam mimpinya.


Untukmu wahai sahabatku, aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi putrimu tercinta, dan setidaknya sampai mereka benar-benar berjodoh. Aku hanya bisa menjadi pelindung bayangan untuknya, dan kupastikan suami bodohmu itu menyesal telah membuangmu demi memungut sampah yang tak berguna.


Wahai putriku tersayang sejujurnya mama tak tega melihat raut wajah putramu ini, dan tenang saja dia tak akan kekurangan kasih sayang karena nanti mereka akan bersatu dengan seorang wanita yang begitu sangat tulus mencintai putramu dan juga suamimu tercinta.


.


.


.


.


.



Flavia Gu, adalah anak dari selir kesayangan Tuan Gu. Dibawa olehnya masuk ke dalam keluarga Gu. Ketika ibunya meninggal


Namun, tidak pernah dianggap sebagia anggota keluarga Gu.


Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri dari keahlian yang dia miliki. Keahlian yang dia sembunyikan dengan baik.


Tidak hanya itu saja, bahkan Flavia dijadikan tumbal malam pertama untuk menggantikan peran Olivia Gu yang ingin menjadi menantu utama keluarga Lin


Siapa sangka Flavia yang selama ini diam akan menyerang balik mereka semua, yang pernah mencelakainya. sampai pada akhirnya takdir membawa Flavia ke pangkuan Eryk Lin, seorang Mysophobia yang sengaja memilih menjadi dokter Forensik demi mengatasi rasa takutnya yang berlebihan.

__ADS_1


Akankah ketika konflik bersemi, justru malah akan membuat keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan satu sama Iain?


          


__ADS_2