Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Takdir Yang Terikat


__ADS_3

"Sayang, kamu sedang tidak bercanda bukan?" tanya Dahlia sambil mencari kebohongan di sorot mata dingin itu. Namun, tidak ada satu kebohongan apa pun di sana karena gadis itu benar-benar sulit ditebak jalan pikirannya.


"Tidak! Hanya itu saja yang kuinginkan dari dia!" Dia yang dimaksud oleh gadis itu merupakan papa kandungnya. "Mengenai masalah pernikahan ini ... aku sudah memutuskan akan tetap selalu menjaga, bahkan untuk menodainya pun tidak akan pernah kulakukan. Mengingat aku tidak akan mengulang kesalahan yang seperti dilakukan oleh dia."


Air mata wanita baya itu mengalir dengan sendiri tanpa bisa terbendung dirinya pun, memutuskan mendekap erat tubuh mungil yang membuatnya selalu merindukan mendiang sang sahabat tercinta.


"Terima kasih banyak, Sayang! Hatimu begitu sangat lapang dada menerima takdir yang kamu jalani. Tidak itu saja Mama sudah bertekad akan selalu menyayangimu, dan kamu bisa berbagi kesedihan dengan Mamamu ini. Bisa?"


Araela menganggukkan kepala sambil melirik kedua pria berbeda generasi, yang masih sibuk membicarakan sisi lain di dalam dirinya, sehingga membuat gadis itu berdecak kesal dengan tingkah laku dari mereka.


Apa mereka tidak ada pembahasan hal lain — selain membicarakan sisi lainku? Untung saja dia belum mengetahui seluk-beluk tentangku! Bahkan aku seperti merawat dua bayi besar, satu tidak tahu malu, dan satunya benar-benar di luar ekspektasiku.


Lamunan gadis itu buyar ketika dia mendengar ucapan mama-nya yang sedang berpamitan pada dirinya sampai, membuat Araela tidak membalas sambutan pamit-nya Dahlia yang meninggalkan rumah sederhana tersebut.

__ADS_1


Bahkan ketika malam larut tiba selesai menidurkan putranya. Gadis itu menatap dingin ke arah sang suami yang menatapnya dengan sorotan mata memelas. "Ada apa?"


"Bisakah kamu tidak galak-galak seperti ini, Nyonya?" pinta pria itu dengan bibir mencebik kesal.


"Lalu apa urusannya denganku?" sahut Araela bernada galak dan jangan lupakan sorot mata dinginnya.


"Aku hanya tidak senang saja, Nyonya! Bahkan aku tidak mengerti bagaimana caraku menaklukkan kebekuan di dalam dirimu!"


"Sangat penting, Nyonya! Namun, saat kamu menatapku dengan sorot mata dinginmu itu, justru membuatku takut dan tidak berdaya berkutik di hadapanmu tapi tidak untuk ..."


Geram dengan perkataan yang terucap dari bibir pria itu, tanpa berbasa-basi gadis itu mendekatkan diri ke arah tubuh tinggi tegap yang menjulang tinggi, dengan melompat ke dalam gendongan yang membuat si empu terkejut tindakan dilakukan oleh istri kecilnya.


Bukan itu saja yang membuat kedua manik mata hitam Rewindra membulat sempurna, ialah serangan dadakan yang dilakukan oleh istrinya hingga pria itu tidak bisa berkata apa pun.

__ADS_1


"Apakah ini yang kau inginkan dariku?" bisik Araela lembut dengan posisi tetap berada di dalam gendongan sang suami.


"Bagaimana kamu bisa seperti ini, Nyonya? Bahkan aku tidak percaya gadis sepertimu bisa melakukan hal ini! Bukankah selama ini kamu dikenal sebagai gadis berhati dingin bagi siapa pun yang mengenalmu." Mati-matian menahan gejolak hasrat akibat serangan dadakan. Pria itu tanpa sungkan dan takut mengajukan pertanyaan yang membuatnya kembali mengadu dengan mendessah nikmat, akibat gigitan keras yang terasa di dada bidangnya karena ulah gadis yang tidak lama telah resmi menjadi istrinya.


"Aku tidak perlu berkata banyak untuk menjawab semua pertanyaan darimu! Namun, apa yang kulakukan sebagai bentuk sikap yang kulakukan hanya untuk dirimu seorang! Tidak peduli semua orang menganggapku gadis dingin karena itu memang julukkan yang disematkan untukku. Bukankah kita seri? Kamu duda casanova sedangkan aku adalah si gadis bar-bar dan membuatmu maupun aku terikat takdir, dengan kau yang pertama kali terjerat cinta pada gadis bar-bar sepertiku?"


Enggan membalas semua yang diucapkan oleh sang istri, justru pria itu melabuhkan bibirnya sambil mencecap begitu sangat dalam dan menggebu-gebu, untuk melampiaskan perasaan yang terdalam dan semua diucapkan oleh istrinya memang nyata.


Akan tetapi, bagaimana sang istri mengetahui perihal perasaannya yang belakangan ini? Bahkan dia sendiri pun tidak mengerti dengan jalan pikiran dari gadis tersebut.


Pria itu, kembali mendapat pukulan keras di dada bidangnya hingga membuat dia melepaskan labuhan bibirnya, sambil menempelkan keningnya di kening sang istri dengan mengajukan pertanyaan tentang perasaannya itu, "Sejak kapan kamu mengetahui apa yang kurasakan untukmu, Nyonya?"


__ADS_1


__ADS_2