
Kabar pertunangan itu pun sampai ke telinga sahabat Rewindra yang tak lain sepupu sang putri mahkota itu sendiri.
“Kau tidak salah memberiku laporan ini, hah!” Seorang pria muda tengah membentak sang mata-mata yang ditugaskan.
Membutuhkan waktu berminggu-minggu sampai akhirnya pria muda itu, menemukan keberadaan wanita yang telah mengisi hatinya. Namun, siapa yang menyangka pria itu terhubung darah dengan wanita yang selama ini alasannya bertahan dan menunggu.
Setelah sang ayah tercinta menunjukkan sebuah foto kepada dirinya. Sejak saat itulah pria muda itu memendam perasaan terdalam untuk sang sepupu tercinta.
Bahkan kabar pertunangan yang baru saja diterima membuatnya begitu marah, sekaligus kecewa begitu mendalam kepada ia sendiri.
“Semua laporan yang Bos terima, sesuai dengan hasil pantauan dari kami, Bos.”
“Lalu apa ada lagi yang ingin kau laporkan kepadaku?”
“Anda diminta menghadap permaisuri, Bos.”
“Itu berarti ayah sama ibu ada di tempat ini?” David Dominic Pomi, pria muda itu memastikan laporan yang baru saja diterima langsung oleh dirinya.
“Bahkan Raja Goerge selalu menanyakan kabar tentangmu, Bos.”
“Ada di mana mereka sekarang?” Enggan mendengarkan ucapan dari mata-mata, justru pria muda itu menanyakan keberadaan keluarga besar yang selama ini dia tinggalkan.
“Mereka ada di Villa, Bos ... kemarin ada pertemuan dua keluarga membahas pertunangan itu ... namun, yang membuat ayahmu marah dikarenakan ada seseorang begitu kukuh ingin merebut posisi itu.”
“Apa!” Alangkah terkejutnya pria muda itu, ketika mendengar laporan dari sang mata-mata.
Bahwa pertunangan antara sang sepupu dengan sahabatnya tengah berusaha diambil alih, dia pun tak habis pikir dengan jalan pikiran dari seorang wanita yang begitu sangat dibenci oleh David sendiri.
“Sudah cukup, sekarang lakukan tugas yang akan kuʼ perintahkan ... aku akan menemui mereka sendiri.”
Selesai menerima laporan, pria muda itu meninggalkan tempat biasa dia bertemu, untuk menghadap sang ibunya tercinta yang meminta bertemu.
Sampai sekarang pun dia tidak menerima bahwa darahnya, mengalir sama dengan seseorang yang selama dijaga begitu rapi.
Sulit bagiku melepaskanmu, Ra. Kau yang sejak dulu ku memenuhi ruang hatiku. Harus terikat oleh darah yang mengalir! Apakah aku mampu melupakan rasa yang tak pantas ini?
Tanpa sadar mobil yang dikendarai oleh dirinya, telah sampai di Villa milik sang kakek dan dia pun mendapat sapaan, dari pengawal yang tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangannya ke Villa tersebut.
“Apa ibu ada di dalam?”
“Silakan masuk Pan ....
“Jangan pernah memanggilku seperti itu, atau kepalamu yang akan menjadi korban.”
__ADS_1
Perdebatan antara pengawal dengan pria muda itu pun menarik perhatian, sang permaisuri yang begitu senang dengan kedatangannya di Villa.
“Pengawal kau turuti saja maunya anak itu!”
“Apa tidak apa-apa seperti itu, Permaisuri?”
“Lakukan saja.” Kemudian sang permaisuri, berkacak pinggang sambil menatap tajam David, yang dengan senyum tanpa dosa menatap balik sang ibundanya.
“Maafkan putramu ini, Ibu!” ucap David seraya mencium punggung tangan ibunya. “Maaf telah membuat Ibu mencemaskan keadaan putramu ini. Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?”
Mendengar penuturan dari sang putra, membuat wanita baya itu tergelak lucu, sudah lama tak bertatap muka dengan David dan bahkan sekarang pun, tidak pernah lupa menanyakan kabar untuk suaminya sendiri.
“Seperti yang kamu lihat, Sayang ... keadaan Ibu dan Ayah baik-baik saja ... apa kamu masih tetap ingin tinggal di sini?”
David pun mengangguk, bukan karena tidak ingin kembali. Hanya saja perusahan yang selama ini dia bangun, tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Termasuk tempat Bar yang dibangun sendiri, tanpa ada campur tangan dari sang ayah tercinta.
“Lalu bagaimana keadaan hatimu baik-baik sajakah? Maafkan kamu harus menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Meskipun begitu begitu Ibu berterima kasih kepadamu, sudah mau menjaga dan melindunginya.”
“Kenapa harus dia yang terikat darah denganku, Ibu?” keluh David dengan hati yang terluka.
“Ibu sendiri juga tidak tahu, sayang ... bahkan ayahmu sendiri sama-sama terluka karena kehilangan sesosok adik yang selama ini dirindukannya.”
“Baiklah Ibu aku tidak akan memaksakan kehendak hatiku, to dia juga akan bertunangan dengan sahabatku sendiri.”
“Semua tidak ada yang tidak kuʼ ketahui karena putramu ini selalu mengawasi dan memantaunya.”
Tala lama kemudian obrolan mereka pun terhenti, pada saat sang ayah yang tiba-tiba ikut menimbrung karena terkejut, melihat putranya yang sudah berada di Villa sang raja.
“Kenapa baru datang ke mari? Apa masih sibuk dengan Bar milikmu itu?”
“Ck, Apa Ayah anemsia atau lupa? Bukankah selama ini kau sendiri yang memberiku izin atas hak-ku sendiri? Untuk apa menanyakan tempat usahaku?”
“Bertanya saja tidak bolehkah?”
“Tidak ada yang berbeda, Ayah ... aku masih menjaga nama baik kakek, bahkan tidak seorang pun mengetahui identitasku, sebagai pangeran putra mahkota.”
Mendengar penjelasan dari David, membuat Devander merasa lega atas tingkah laku, yang selama ini dilakukan oleh putranya tersebut.
Ketika mereka sedang mengobrol antara ayah dan anak, salah satu dari pengawal pribadi Devander melaporkan, serta menyodorkan sebuah benda pipih yang tak lain ponsel pintar, lalu terdengar suara sang sahabat dari arah seberang ponsel.
“Ada apa, Bas?”
“Kabar buruk, Van.”
__ADS_1
“Katakan ada apa, Bas?” Devander mengulang pertanyaan dengan nada mendesak.
“Secepatnya kau harus bisa mengamankan acara pertunangan itu, Van ... mata-mata yang kuʼ tugaskan melapor jika putriku meminta sebuah obat peranggsang.”
“Kau sedang tidak membual bukan, Bas?” Devander memastikan informasi yang baru saja didengar itu.
“Tidak, Van ... kau jangan cemas, biar anak itu menjadi urusanku. Cukup perketat keamanan di hari acaramu saja!”
“Baiklah kalau begitu. Aku serahkan semua sisanya kepadamu.”
David yang tidak sengaja mencuri dengar itu pun, menanyakan langsung pada sang ayah ketika melihatnya menahan amarah, setelah sambungan tersebut dimatikan secara sepihak.
“Apa ada kabar buruk, Yah?”
“Ya.” Singkat padat dan jelas jawaban dari pangeran Devander, membuat David mengepalkan tangan hingga menonjolkan otot-otot biru.
Bagaimana tidak marah, kabar yang didengar langsung oleh pria muda itu, membuatnya mengarahkan pikiran ke arah seseorang, serta orang tersebut tak lain tak bukan Sonya.
Bahkan pria muda itu pun terkejut mendengar kenyataan, bahwa primadona di Bar miliknya itu yang membuat sang sepupu terluka.
Akibat tingkah lakunya yang tidak pernah puas, merebut semua dipunyai oleh sang sepupu itu sendiri.
Kali ini mau apa lagi sih dia? Jangan kau pikir aku akan diam saja, ketika kau berusaha merebut sesuatu yang bukan milikmu. Jika dulu kau bisa memfitnah dia, tapi sekarang aku tidak akan pernah membiarkan kau berulang kembali. Karena janjiku akan selalu menjaga dan melindunginya selalu.
.
.
.
.
.
Blurb
Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.
Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.
"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.
Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu? apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang.
__ADS_1