
“Ada apa?” Pertanyaan yang diucapkan oleh sang raja, membuat Permaisuri Devander terkejut mendengarnya.
“Tidak ada apa pun, Ayahanda.”
“Benar begitu, Nak?” Raja Goerge memastikan, sebelum melanjutkan kembali aktivitasnya.
“Benar, Ayahanda.”
“Ya, sudah kalau begitu. Ayah akan kembali ke ruang kerja. Untuk mengecek keadaan di sana dan untuk lain kali jika ingin menginap, setidaknya berpamitan pada istrimu. Mengerti, Nak!”
Selesai mengatakan hal tersebut, sang raja meninggalkan sepasang suami istri. Sebab, raja itu memberikan ruang waktu untuk keduanya menyelesaikan urusan mereka, tanpa menyadari Pangeran Devander telah mendapatkan hukuman dari istrinya itu sendiri.
*
*
*
Pertemuan dua keluarga besar, yaitu Keluarga Smith dengan Keluarga Wiratama itu pun terjadi pada sore hari, di sebuah tempat yang telah diminta oleh William Wiratama itu sendiri.
Tanpa menyadari akan kedatangan Sang Raja Goerge yang merasa kesal karena Gunawan menyembunyikan perjodohan tersebut.
“Ada angin apa kau memintaku bertemu denganmu, Wil?” Tanpa menyapa sang sahabat. Gunawan langsung menodong pertanyaan untuk, pria yang duduk berseberangan dengannya.
“Aku hanya ingin membahas tentang kedekatan cucu kita … bukannya mereka sudah digariskan berjodoh?”
Gunawan mengangguk setuju, tentang perjodohan kedua insan tersebut, telah terjadi dengan sendiri meskipun, ada campur tangan sedikit dari seorang anak lekaki yang berusaha menyatukan keduanya.
“Aku sependapat denganmu, Wil … Jadi, pertemuan kita kali ini pasti ada hubungannya dengan mereka bukan?”
“Ya, untuk itulah mengapa aku memintamu bertemu dengan di sini.”
Kemudian William pun menunjukkan beberapa foto yang diambil oleh mata-mata miliknya. Foto kedekatan antara Rewindra dan juga Araela Ayudia Gayatri Smith.
“Itu berarti mereka memutuskan menerima perjodohan ini? Benar begitu, Wil?” Gunawan pun memastikan apa yang ingin didengar langsung dari sang sahabat.
“Kenapa kau tidak menanyakan hal ini secara langsung kepadanya, Wan?” sahut William seraya membalik pertanyaan.
“Dia lagi marah dengan bujang lapuk itu,” jawab Gunawan dingin.
William menyerngit bingung ketika mendengar nada dingin yang diucapkan oleh sahabatnya.
“Ada apa, Wan?”
“Kau bisa tanyakan langsung pada dia.” Gunawan mengarahkan dagu yang tengah menunjuk sang putra bungsu.
“Apa tidak ada yang kuʼ ketahui?”
“Maaf, Om Willi … mengenai itu, dia marah kepadaku karena aku habis memukul cucumu.” Bujang lapuk itu mengutarakan, kekecewaan di dalam diri bayi mungil-nya tercinta.
__ADS_1
“Lalu untuk apa kau memukulnya? Tidak mungkin kau punya alasan lain bukan?”
Menggaruk tengkuk yang tak gatal, bujang lapuk alias Morgan Gayatri Smith, tak bisa menjawab pertanyaan dari sahabat sanh ayah.
“Ya, sudah jika memang kau tidak ingin menjawab pertanyaan yang kuʼ ajukan.”
Lalu William kembali melanjutkan ucapan, yang ditujukan untuk sang sahabat sendiri, “sekarang kita ke pokok pembahasan mengenai perjodohan mereka, Wan … apa kau ingin mengutarakannya?”
“Semuanya kuʼ serahkan kepada dirimu, Wil … lebih baik secepatnya kita umumkan pertunangan mereka. Hei, kau bujang lapuk! Apa tidak keberatan Ayahmu bersama dia membahas soal pertunangan mereka?” sahut Gunawan.
“Ta … pi, Wan!”
“Kenapa?”
“Soal cucu yang tak kau akui … mengapa membiarkannya merebut posisi perjodohan ini?”
“Kau jangan risau dan cemas, Wil. Dia memang terang-terangan ingin merebut posisi yang seharusnya menjadi milik cucuku, lalu aku membiarkannya supaya cucumu mampu menyelesaikan urusan, di antara mereka bahkan aku sangat mengetahui cucumu menghabiskan malam dengannya.”
Penjelasan yang diucapkan Gunawan, membuat William menggelengkan kepala.
“Jadi, kapan kita mengumumkan pertunangan mereka?” lanjut Gunawan dengan tidak sabar.
“Bagaimana dua minggu depan, pada saat ulang tahun perusahaan yang kuʼ dirikan? Sekalian nanti kita bisa mengumumkan pertunangan mereka? Kau setuju tidak?”
“Baiklah aku setuju apa yang kau sampaikan, lalu soal dia biar aku yang mengurus.”
“Ayah, Om … kalian tenang saja! Selama ada aku di sana … tidak akan kuʼ biarkan anak dari sundal itu merebut kebahagiaan bayi mungilku.”
“Haruslah seperti karena aku sendiri pun tidak akan, pernah membiarkan dia mengusik keponakanku tercinta.” Pangeran Devander menyahut ucapan sang bujang lapuk.
Hal tersebut membuat semua yang berada di dalam ruangan itu terkejut melihat, kedatangan seseorang yang tiba-tiba menimbrung pembicaraan sedang dibahas.
“Kau!”
“Long time no see, Bung. Apa kabarmu wahai bujang lapuk? Maaf menimbrung pembicaraan kalian karena Ayahanda, ingin mengetahui kabar tentang cucunya.”
“Ajak Ayahmu masuk!” Gunawan pun memberikan izin, untuk sang sahabat karena kedatangannya yang tiba-tiba. Sungguh membuat pria senja itu terkejut dengan kedatangan sang raja.
Setelah membawa sang ayah masuk ke dalam ruang pertemuan antara kedua keluarga. Akhirnya sang raja itu pun mencecar banyak pertanyaan, mengapa tidak membawakan kabar tentang keadaan sang cucu tercinta.
“Maafkan aku, Ge … bukan maksudku tidak memberimu kabar, tapi aku tidak ingin kau terbebani masalah ini. Lagipula ….”
“Tak perlu sampai seperti, Wan … lalu kedatanganku ke mari karena mendengar laporan mengenai dia yang diusik kembali, serta memastikan secepatnya dia harus mengetahui identitas sebagai putri mahkota yang sebenarnya. Apa kau sudah memberitahukan hal ini kepada dia?” Memotong ucapan seraya membalikkan pertanyaan.
Hal tersebut mendapat gelengan kepala dari Gunawan sendiri. “M … af!”
“Kalau begitu bagaimana aku mengumumkannya, pada saat acara pertunangan itu … apa kau keberatan dengan permintaan dariku, Wan?”
“Tidak masalah dan kau yang mengatur permintaanmu itu, Ge.”
__ADS_1
“Aku mendengar ada perebutan posisi perjodohan mereka … lalu apa kau akan diam begitu saja?”
“Dia tidak akan mendapatkan posisi itu. Kau tak perlu mencemaskan keadaannya.”
William yang sedari diam menyimak obrolan antara sang sahabat, dengan sang raja yang tidak kenalnya akhirnya berdehem kuat, serta tidak lupa menanyakan perihal maksud kedatangan raja tersebut.
“Kau dan dia serius sekali. Apa yang sedang kalian bahas? Dan juga siapa dia, Wan?”
“Dia besanku, Wil. Apa kau benar-benar tidak mengenalnya?” jawab Gunawan seraya balik bertanya.
Lama berpikir membuat William Wiratama, terkejut ketika mengetahui seseorang itu, merupakan sang raja dari negara sebelah siapa lagi jika bukan Raja Goerge.
“Bagaimana bisa?”
“Apanya yang bisa?”
“Kau dengan dia-lah, Wan,” decak William dengan bibir mencebik.
“Kau bisa tanyakan langsung kepada yang bersangkutan.”
Ketiga pria senja itu pun mengobrol, serta tak lupa dengan sang raja yang sedang melepas rindu, bersama sang sahabat sekaligus besan serta tidak lupa menanyakan kabar, tentang cucu kesayangannya tercinta ditambah mereka membahas kembali, tentang pertunangan yang akan dimulai dua minggu ke depan.
Sementara itu, sang pangeran memulai obrolan dengan si bujang lapuk, dengan menanyakan perihal kekecewaan yang terjadi di dalam diri keponakannya tercinta.
“Mengapa kau membuatnya kecewa?”
.
.
.
.
.
Ini adalah kisah dari anak-anak Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka, boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku.
Salsabila Erlangga. Gadis cantik berumur delapan belas tahun, yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun. Mereka berdua menikah karena di jebak oleh seseorang.
Kenzo merupakan musuh kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga. Lalu bisakah Kenzo dan Arsya berdamai, untuk Salsa?
Siapa yang akan Salsa pilih, kakak tersayang atau suaminya?
Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya? Mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla.
Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.🤗
__ADS_1