Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Bertanya Tentang Kerajaan


__ADS_3

Sore hari yang ditunggu-tunggu telah tiba meskipun penampilan sang istri lebih mengarah pada penampilan sehari-hari pria tersebut, tidak membuat Rewindra risih melihatnya karena dia lebih percaya pada sang istri untuk soal penampilan yang dipakai oleh gadis tersebut.


"Aku sudah siap!" sahut Araela dingin sambil menyampirkan tas dikedua pundaknya.


"Kita antar Oland ke rumah orang tuaku dan menitipkan dia sebentar di sana. Tidak masalah bukan?" Tidak henti melirik penampilan sang istri, justru pria itu begitu terpesona dengan kecantikan di dalam diri istrinya.


Tanpa membalas pertanyaan dari sang suami gadis itu berjalan menghampiri Rolando yang, telah selesai dengan tugas sekolah dikerjakan oleh anak lelaki tersebut.


"Mama mau ke kampus ya?" tanya Rolando yang juga sama terpesona dengan kecantikan di dalam diri mama-nya.


"Ya, sayang. Kenapa memangnya?" jawabnya dengan raut wajah bingung.


"Itu berarti Mama tidak bisa menemaniku bermain dong?"


"Nanti setelah mata pelajaran di kampus selesai. Mama usahakan untuk pulang tidak terlalu malam, dan bisa menemanimu bermain. Namun, kamu harus ingat jika Mama belum pulang dan kamu terlalu menunggu, usahakan untuk tidur terlebih dahulu atau bisa minta ditemani Daddy bermain?" Tawaran yang diajukan untuk Rolando, seketika sang putra menolaknya.


"Tidak usah, Mama," tolak Rolando sambil menggeleng kepala.


Mengingat anak lelaki tersebut masih belum bisa menerima kehadiran daddynya, dan hal itu membuat Rewindra yang mendengar obrolan mereka pun menahan sesak di dada.


Sedalam inikah? Luka hati dan luka batin yang diterima oleh sang putra, atas sikapnya yang begitu kurang memerhatikan dan selalu tidak menganggap ada. Namun, semua yang telah terjadi merupakan tabur tuai atas apa yang ditanamkan oleh mantan duda casanova tersebut.

__ADS_1


"Aku menunggu kalian di mobil!" sahut pria itu dengan setengah berteriak.


Selang lima menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Rewindra melaju dengan kecepatan tidak terlalu cepat, dengan keheningan tanpa ada obrolan yang terjadi diantara kedua insan tersebut.


Setelah mengantarkan putranya di mansion kedua orang tua Rewindra. Mobil yang dikendarai olehnya pun kembali melaju dan dia pun memulai obrolan, sambil menyampaikan pada sang istri atas permintaan gadis itu telah dipenuhi oleh David.


Sekitar dua puluh menit kemudian mobil itu pun telah tiba, di depan gerbang kampus dan Araela menyuruh sang suami untuk tidak ikut turun. Agar kedatangan pria tersebut tidak membuat gempar seisi para mahasiswa yang berada di kampus tersebut.


Bukan itu saja Rewindra memberikan sebuah kartu hitam tanpa batas dengan dia yang berusaha mencuri-curi kesempatan untuk, mendapatkan asupan nutrisi sebelum bertemu Louser sambil menarik pelan tengkuk sang istri, mencecap bibir mungil yang begitu candu berbahaya dengan mengobrak-abrik serta mengabsen gigi-gigi itu, sampai membuat pria itu mendapat gigitan yang membuat sudut bibirnya mengalir darah segar. Namun, hal itu tidak membuat takut dengan nada yang begitu dingin, pria itu menegaskan apa pun di dalam diri Araela telah menjadi candu untuknya seorang.


Setelah itu dia mendengar suara pintu mobil yang dibanting keras oleh sang istri bahkan dirinya tergelak dengan segala tingkah laku, di dalam diri istri kecilnya begitu terlihat lucu serta menggemaskan dengan bibir mungil yang bengkak karena ulahnya.


Biarkan Dia melihat bibirmu itu, Hon. Aku bahkan sangat tahu jika dia juga menyukaimu, dan dengan bibirmu yang bengkak itu membuktikan. Hanya Rewindra Wiratama yang menjadi pemenangnya, dan aku tidak sabar melihat raut wajahnya. Membatin sambil bersiul-siul pria itu bahkan membiarkan darah hasil gigitan tanpa, dihilangkan karena dia benar-benar bisa membuat gadis itu tidak berkutik dengannya.


Sampai sebuah suara lembut berhasil membuat pria luluh dan berusaha tenang, menyembunyikan rasa cemburu yang begitu menyesak di dada.


"Apa kau yang bernama David Dominic Pomi?"


Si empu nama pun menganggukkan kepala, tidak lupa dia memberi pertanyaan balik dan membuatnya bingung? Mengapa gadis di hadapannya ini, mau bertemu dengannya secara langsung? Hal tersebut yang mengganggu dipikiran pria muda itu. "Ada angin apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?"


"Justru aku menemui karena ada beberapa hal yang ingin ku' tanyakan, tentang kerajaan di sana? Dan mengapa kau tidak menggunakan hal ini, tapi justru kau melepaskan gelar pangeran yang seharusnya disematkan untukmu?"

__ADS_1


Seketika David tertawa terbahak-bahak bahkan pria itu tidak menduga jika dirinya, baru pertama kali mendengar kata panjang yang terucap dari bibir gadis di hadapannya. "Aku baru pertama kali mendengar kata panjang yang terucap darimu, Ra. Apakah ini adalah dirimu sendiri? Bukankah julukkan gadis bar-bar dengan nada dingin itu selalu melekat di dalam dirimu?"


"Jawab saja! Jangan banyak tanya!" cetus gadis itu dengan nada dingin, yang membuat David menelan ludah kasar.


Tanpa membuang waktu, dia menjelaskan secara rinci tentang kehidupan kerajaan di sana tanpa ada yang terlewatkan, dengan gadis itu yang begitu betah menyimak cerita diucapkan dari bibir pria tersebut.


"Bahkan ayahmu tidak mau menggantikan posisi kakek?" Ara memastikan sebelum dia mengambil langkah jauh, untuk menggantikan posisi kakeknya kelak.


"Kalau itu kau bisa tanyakan sendiri pada beliau, Ra. Bukankah setelah pernikahanmu terjadi, kau sendiri sudah bertemu dengan beliau bukan?"


Ara mengangguk dan satu hal yang membuat pikirannya terganggu tentang status, pria di hadapannya yang tidak terikat oleh hubungan darah dengan kembaran mendiang sang mama. Namun, sang paman begitu sangat mencintai dan menerima meskipun bukan anak kandungnya.


"Ada apa, Ra?" tanya David dengan tatapan bingung, ketika melihat raut wajah sendu yang begitu sangat kentara.


Enggan menjawab pertanyaan dari pria itu, dia justru ingin mengetahui tentang kehidupan di kerajaan yang dipimpin oleh sang kakek, bahkan David tanpa segan-segan menceritakan beberapa hal yang harus diketahui untuk gadis itu.


Mengingat dia sendiri tidak berani mencampuri urusan kerajaan, setiap mendengar laporan dari mata-mata yang bertugas, tentang seseorang yang begitu sangat ingin menurunkan sang kakek dari kursinya.


"Seberapa parah pemberontak yang membelot dari kepimpinan kakek?"


"Aku tidak begitu paham tentang hal ini, Ra. Namun, dari laporan mata-mataku ... di sana terdapat beberapa orang licik menggunakan rakyat dengan menekan kekuasaannya dan jika menolak, justru para rakyat itu mendapat siksaan serta ancaman mematikan pimpinan yang licik itu. Mau tidak mau kakek sendiri yang membiarkan hal itu terjadi dikarenakan beliau percaya bahwa, kau pasti bisa membuat kerajaan itu kembali berjaya dengan pemimpin yang benar-benar dicintai oleh mereka."

__ADS_1


"Kenapa harus aku?"


__ADS_2