Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

“Kau pasti sedang membayangkan ditendang olehnya, kan?” Louser bertanya dengan nada menggoda.


“Sembarangan kau! Siapa juga yang sedang membayangkan.” Rewindra menjawab dengan berkilah.


Tentu saja saat ini tiba-tiba ia sedang membayangkan ....


Akan tetapi Rewindra tak lupa memerintahkan Louser untuk membantu gadis bar-bar tersebut. “Lebih baik kau bantu dia sana!”


“Apa kau tak ikut membantu, Ndra?”


Menulikan pertanyaan dari Louser. Perlahan-lahan dirinya pun maju ke depan untuk membantu dan membuat gadis bar-bar itu pun terkejut bukan main dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


Yang mana ketika itu salah satu dari suruhan Sonya membawa sebuah balok kayu dan bersiap akan memukulnya. Namun Rewindra dengan cepat menendang suruhan Sonya yang ia sebut preman dengan kasar, dan membuatnya terjerembap jatuh ke tanah.


Seketika membuat salah satu di antara mereka mengumpat geram karena tugasnya akan gagal jika tak berhasil menculik targetnya.


“Si@lan kau jangan ikut campur urusan kami!”


Tanpa banyak kata Rewindra kembali menghajar orang-orang suruhan Sonya alias preman yang mengumpatnya tapi dia enggan memedulikan umpatan tersebut.


Perlahan-lahan preman itu pun tersungkur dengan Rewindra mengajak gadis tersebut ke tempat sopir taksi yang menunggunya.


Ketika sampai di depan sopir taksi tersebut, tiba-tiba Rewindra menyuruh sang sopir pulang karena ia sendiri yang akan mengantarkan gadis itu.


“Terima kasih ya, Pak,” ucap Rewindra tapi gadis yang berdiri di belakangnya itu memprotes karena ia menolak mentah ketika akan di antarkan.


“Maaf, Neng, lebih baik ikut saja dengan Tuan ini! Bapak pamit ya, Neng.” Kemudian sopir taksi itu pun melajukan roda besinya yang meninggalkan seorang gadis terdiam membisu.


Beberapa detik kemudian terdengar klakson dengan Louser yang menyembulkan kepala dari arah kanan setir kemudi untuk menyadarkan kedua orang tengah terdiam membisu.


Berdehem dengan terbatuk-batuk membuat Rewindra berdecak kesal ketika mengetahui kebiasaan dari asisten pribadinya tersebut.


“Selain itu apa kau tak bisa, hah. Heran aku!” Rewindra berteriak dengan sedikit membentak Louser. Namun bagi Louser tak ada apa-apanya karena ia sedikit memahami jika sahabatnya itu sedang ....

__ADS_1


“Jangan terpesona dulu, lebih baik kau suruh masuk dan tanyakan alamatnya juga.” Louser berkata demikian karena ia merasa iba dengan sudut bibir dari gadis itu saat ini tengah terluka.


Akan tetapi justru Rewindra Wiratama enggan menggubris sahutan dari Louser karena ia sekarang membuka obrolan untuk menyuruh gadis bar-bar tersebut masuk ke dalam mobilnya. “Maaf, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Apa kau keberatan?”


Araela yang sedari diam itu pun berdecak kesal, mengapa harus bertemu kembali dengan pria yang membuat dirinya merasa kurang respect dengan pria itu.


“Apa kita saling mengenal, Pak? Bukankah saya ini hanya karyawan kantor Bapak yang tak bisa masuk ke dalam mobil mewah itu!” katanya dengan nada tegas yang mana membuat Rewindra mengumpat geram.


Sebab pertama kalinya dalam sejarah ia mendapat penolakan dari seorang gadis yang mana gadis itu mampu membuat Rolando tersenyum.


Sambil menahan amarah tanpa berbasa-basi ia menggendong gadis itu seperti membawa karung beras, dan menulikan pendengarannya ketika gadis yang bernama Araela memukul keras punggung tubuhnya. “Bisakah, kau diam! Jangan berisik atau aku akan menciummu kalau kau tak bisa diam!”


Ancaman dari Rewindra sukses membuat Araela mendelik kesal tanpa membantah ia pun akhirnya berdiam membisu sambil batinnya mengumpat geram dengan tingkah laku yang dilakukan oleh pria tersebut. Si@lan baru kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Dasar seenaknya saja menggendongku seperti karung beras saja! Tunggu dari bau tubuh dia sepertinya barusan melakukan yang membuatku ji’jik melihatnya. Kenapa juga anak lelaki itu harus mempunyai orang tua seperti dia. Aku sangat heran! Setelah urusanku selesai aku akan menemui Kakek untuk meminta penjelasan ....


Apa yang dipikirkan oleh Araela seketika menarik perhatian Rewindra saat ini sedang duduk di samping Louser yang mana mobil di kendarai asistennya itu pun melaju dengan kecepatan sedang.


Hal tersebut tak membuat Rewindra berhenti menatap ke arah gadis bar-bar yang telah membuat sang Putra tercinta terlihat bahagia ketika berada di samping gadis itu.


Sambil berdehem lalu berucap dingin Rewindra menanyakan alamat tempat tinggal dari gadis itu untuk memecahkan kesunyian di dalam mobil milik kesayangannya tercinta. “Hei, katakan di mana tempat tinggalmu, dan mengapa kamu bisa di culik oleh mereka?”


Rewindra yang mendengarnya pun dibuat kesal dan juga bingung mengapa gadis itu enggan memberitahukan tentang penculikan yang sedang menimpa dirinya?


***


Kembali dengan orang-orang suruhan dari Sonya itu pun telah gagal melakukan tugasnya, dan ketiganya pun menanggung risiko yang harus diterima oleh mereka. Namun siapa yang menyangka dari arah lain terdapat beberapa penjaga bayangan dari Araela menghampiri ketiga orang tersebut untuk di bawa ke markas tempat rahasia milik Morgan Gayatri Smith.


“Ya, ampun, Nona Muda kebiasaan selalu membuat mereka sengsara,” gerutu salah satu penjaga bayangan Araela yang menyamar sebagai karyawan kantor di tempat kerjanya.


“Apa kau mau mencobanya?” rekannya itu pun menawarkan diri untuk mencoba seperti yang dirasakan oleh orang tersebut.


Menggeleng kepala tanda ia sangat takut dengan kebiasaan dari Araela yang melumpuhkan lawannya.


“Cepat bawa mereka ke markas, biar laporan untuk Tuan Muda aku yang mengurusnya!”

__ADS_1


Tanpa membantah beberapa dari penjaga bayangan Araela itu pun mengangkat tubuh ketiga suruhan dari Sonya dengan salah satu diantaranya melaporkan pada Tuan Muda yang tak lain adalah Morgan Gayatri Smith. Paman dari Araela Ayudia Gayatri Smith yang selama ini selalu menjadi garda terdepan untuk setiap masalah yang datang.


Mengambil ponselnya dengan menekan sebuah nomor yang tak lama kemudian terdengar nada dingin dari Tuan Mudanya.


“Ada apa menghubungiku?” tanya Morgan dingin tanpa berbasa-basi.


“Tuan, saya ingin melapor sesuatu pada, Anda!” jawabnya tanpa takut.


“Jangan membawa laporan buruk tentang keponakanku tercinta, jika aku mengetahui hal itu maka bersiaplah menerima hukuman dariku!” titah Morgan dingin.


“Maaf, Tuan, mengenai hal itu saya tak begitu berjanji karena saat ini beberapa rekan saya berhasil membawa tiga orang yang berusaha menculik Nona Muda.” Pernyataan laporan dari mata-mata yang bertugas itu seketika membuat darah di dalam Morgan mendidih.


Mengapa keponakan kesayangannya tercinta selalu menjadi incaran seseorang yang begitu terobsesi sangat ingin membunuhnya?


“Satu jam dari sekarang aku akan menemui kalian di markas, untuk mereka jangan bertindak gegabah biar menjadi urusanku!”


“Baik, Tuan!”


.


.


.


.


Enggak keroso riyoyo kurang sedino


Aku othor si tomboi jalok pangapurane sen katah


Suwun sen katah sen wes sudi mampir ndek karya recehku iki


Kiro-kiro podo mudik enggak iki kabeh?

__ADS_1


See you next time


__ADS_2