Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Benar-benar Apa?


__ADS_3

“Apa kau mengerti, Bee. Jika, bukan karena laptop yang rusak kutemukan beserta isi surat tertuang untuk Oland, aku takkan mungkin melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan. Namun, sikapmu yang kau tunjukkan pada Oland yang tak bisa kupahami, alasan yang mendasarimu enggan mengenalkannya pada mendiang istrimu, tapi kau juga takkan memahami bagaimana rasanya menjadi, dia yang harus memperjuangkan hak Oland agar tetap ada di sisimu, meskipun ia takkan pernah bisa menemani kalian seperti sekarang.” Ara menggebu-gebu saat mengungkapkan isi hati yang dikeluarkan. “Aku hanya memintamu untuk memerhatikan pertumbuhan, Oland yang takkan bisa kau ulangi pada masa bayi merahnya.”


Rewindra tertegun mendengar ungkapan isi hati, dari sang istri yang begitu sangat memahami dan selalu, menjaga hati untuk mendiang istri pertamanya.


Tak lama kemudian keduanya memutuskan untuk bungkam tanpa disadari, oleh Rewindra yang sedang melamun itu merasakan sentuhan lembut, dengan sang istri tercinta menyentuh bagian-bagian sensitif yang terlemah.


“Honey ....” Menggigit bibir untuk menahan dessahan, ketika tangan sang istri bermain-main di titik tubuhnya. “Ka ... mu, sudah beres ma ... rahnya? Oh ... ****, stop!” Umpatan pelan meluncur dari bibir, dan menyuruh sang istri menghentikan aksinya.


“Sekarang giliranku yang mengambil alih.” Suara serak Rewindra mengukapkan bahwa, ia tak ingin dikalahkan oleh gadis tersebut pada permainan inti. “Izinkan aku membawamu terbang ke awan!”


Pria itu tak henti memberikan serangan balik untuk sang istri yang sedikit, kewalahan menghadapi kebrutalan serangan tersebut.


“A ... pa kau mendendamku, Bee? Ja ... ngan terlalu ker ... as, nan ... ti bisa pu ... tus.” Perih dan ngilu itulah yang dirasakan oleh Araela ketika, sang suami terlalu bersemangat bermain-main di bagian dada. “Bee, a ... ku ....”

__ADS_1


“Keluarkan suaramu, Sayang!” Rewindra membalas sembari terus menikmati bagian dada atas yang membuatnya mabuk kepayang meskipun ukuran tak terlalu besar dan juga kecil. Namun, tempat tersebut mampu membuat pria itu nyaman, hingga si belalai gajah selalu berdiri sendiri hanya di hadapan benda bulat yang sedang disesapi. “Ini bukan mendendam, tapi tempatmu terlalu nyaman untuk bibirku!” Tergelak sembari terus mensesapinya dengan perasaan menggebu-gebu, hingga sang istri merasakan nikmat yang tak dapat diungkapkan kata-kata.


“Bee ....” Lolongan panjang yang terucap bibir Araela, membuat Rewindra puas melihatnya. “Barusan tadi itu, apakah aku ng0mp0l?” Tanyaan polos meluncur di bibir Araela, hingga pria itu tergelak dengan tingkah gadis barbar tersebut.


“Bukanlah, Honey.” Bagaimana bisa gadis barbar nan dingin bisa sepolos itu, ketika mengetahui jika 0mp0lan yang dimaksud itu mengarah pada .... “Kamu tak perlu bekerja meskipun telah menjamuku, seperti ini sudah cukup untukku membuatmu melayang ke awan!”


“Milikmu, Bee ....” Araela terperanjat kaget melihat si belalai gajah meliuk-liuk, dengan ukuran yang tak jauh berbeda dari milik bujang lapuk itu. “Kenapa bisa sama?”


“Aku melihatnya pun sudah lama, jangan dianggap serius.” Gadis itu mendadak gelisah mengetahui, sang suami terlihat cemburu. “Hanya dua belalai gajah yang terlihat olehku, Bee! Belalai yang tak sengaja kulihat, punya bujang lapuk itu.”


Berganti Rewindra terperanjat kaget mendengar, curahan yang terucap dari gadis barbar tersebut. “Kenapa malah menyamakan belalai gajahku, Honey?”


“Dari segi dan semuanya terlihat sama sejak, pertama kali kau memasukannya ke sini.” Araela menunjukkan hutan gundul yang selalu ditebang, setiap tumbuh tanpa sadar keduanya sendiri sudah dalam, keadaan polos dengan mereka yang masih betah berdebat. “Milikmu benar-benar ....”

__ADS_1


“Benar apa?” Tanyaan itu meluncur dengan Rewindra, mendorong pelan kepala si belalai gajah.


“Sakit, Bee ....” Menggigit bibir, Ara mati-matian menahan sakit dan ngilu.


“Ayo bilang pada suamimu ini, milikku benar-benar apa?” Rewindra mengulang tanya, sembari gemas melihat ekspresi wajah sang istri. 'Oh, ****! Sudah masuk berkali-kali, tetap saja miliknya sempit dan menggigit.' Pria itu tak berhenti mendorong, si belalai gajah untuk bisa masuk ke dalam sana.


Tak lama kemudian Rewindra kembali mendengar dessahan yang mengalun, indah setelah pria itu berhasil mendorong lebih dalam si belalai gajah.


Pertemuan antara mereka mampu menciptakan suara ribut-ribut, tanpa mengganggu tidur lelap sang anak di kamar sebelah, hingga permainan panas mereka berakhir hampir dua jam berlalu, sampai membuat Araela kelelahan menghadapi si belalai gajah yang tak mau berhenti menghujam.


“Terima kasih, Honey.”


__ADS_1


__ADS_2