
Setelah menerima laporan dari mata-mata yang bertugas, sang asisten William akhirnya melaporkan hasil kerja pantau yang dilakukan oleh anak buahnya.
Sudah kuduga laporan ini harus segera tuan besar mengetahuinya! Biar bagaimanapun tidak ada yang boleh menyerobot perjodohan ini. Siapa yang menyangka anak tak ada hubungan darah dengan sahabat tuan besar, justru menginginkan dan berusaha merebutnya jangan kau pikir aku tidak tahu tingkah lakunya di luaran sana. Hanya keturunan asli yang pantas bersanding dengan tuan muda, serta perjodohan ini mutlak amanat dari mendiang nyonya besar. Mimpimu terlalu tinggi merebut apa yang sudah digariskan, tak akan pernah bisa dapatkan meskipun nyawa akan kupertaruhkan.
Tekad pria yang telah malang-melintang sebagai asisten pribadi William begitu kuat, sebab ia benar-benar tak menginginkan amanat yang menjadi pesan dari mendiang sang nyonya, dilepaskan begitu saja karena itu dirinya akan selalu berada di sisi tuan besar sebagai kaki tangan yang setia.
Selesai menenangkan diri, pria baya itu pun memutuskan menemui sang tuan besar, untuk melaporkan perihal tentang tuan muda dan juga tuan muda kecil, sambil melaporkan perihal perebutan perjodohan itu.
“Apa yang ingin kau laporkan kepadaku?” Begitu sampai di dalam ruangan pribadi sang tuan. Ia pun mendapat sambutan pertanyaan yang diucapkan oleh pria senja.
“Tentang cucu Anda, Tuan Besar William.”
“Ada apa dengan cucuku yang satu itu?” sahutnya sembari balik tanya.
Tanpa membuang banyak waktu, sang asisten langsung memberikan sebuah laporan diterimanya, serta tak lupa pria baya itu menjelaskan beberapa poin penting tentang Tuan Muda Rewindra, tanpa ada yang terlewatkan dari pantauan dari William Wiratama itu sendiri.
“Kerja bagus!” puji William begitu bangga, setelah dia diperlihatkan beberapa foto, serta pikirannya pun menerka-nerka bahwa sang cucu telah menerima perjodohan, yang sudah begitu lama menjadi impian mendiang sang istri tercinta.
Akan tetapi, William dibuat geram ketika mendengar penuturan dari sang asisten, tentang seorang anak tak ada garis hubungan darah Smith, berusaha merebut posisi perjodohan yang hanya diperuntukkan cucu kesayangan sahabatnya.
“Segera hubungi asisten Gunawan dan sampaikan pada sahabatku … aku ingin segera bertemu dengannya, untuk membahas perjodohan yang tidak bisa ditunda lagi.”
Asisten William mengangguk, serta salah satu tangannya menyambar sebuah benda pipih, lalu kemudian terdengar nada dering dari ponsel menandakan panggilan tersebut tengah tersambung.
Tak lama kemudian terdengar suara dari arah seberang, yang mana pria baya itu langsung mengutarakan tujuannya menghubungi asisten sahabat tuan besarnya itu.
“Terima kasih atas laporan yang kau sampaikan … jangan khawatir tuan besarku tidak akan tinggal diam begitu, saat ada seseorang yang mengusiknya.”
__ADS_1
“Kalau begitu jangan sampai dia merebut sesuatu yang bukan miliknya, atau kau akan menerima hadiah dariku!”
“Heh, kau pikir aku akan takut dengan ancaman darimu? Jangan naif begitu, kawan … tentu saja aku tidak akan pernah membiarkannya mengusik nona mudaku.”
Panggilan itu pun akhirnya terputus setelah seseorang di seberang ponsel mematikan secara sepihak, tanpa banyak kata asisten William kembali melaporkan pada sang tuan besar bahwa ia telah melakukan apa yang telah diminta oleh William sendiri.
“Apa ada perintah lagi yang ingin Anda sampaikan, Tuan Besar William?” Sebelum mengundurkan diri dari hadapan sang tuan, pria itu kembali mengajukan pertanyaan tentang tugasnya sebagai asisten.
“Terus pantau perkembangan mereka … minta anak buahmu untuk tak terlalu mencolok ketika sedang memata-matai cucuku dan lalu jangan lupa cari tahu semua tentang Sonya!”
Setelah menganggukkan kepala, sambil membungkuk badan sang asisten itu, meninggalkan tuan besar-nya seorang diri.
*
*
*
Bunyi denting di lift menandakan sampailah pria itu di unit lantai paling atas, di susul sang putra yang tengah di gendong oleh seorang penjaga keamanan apartemen miliknya.
“Letakkan dia di sofa! Biar aku sendiri yang memindahkannya di kamar, Pak!”
Pria itu kembali melanjutkan, tanpa menolehkan kepala ke belakang, sebab dia masih menggendong seorang gadis. “Terima kasih atas bantuannya.”
Selesai meletakkan Araela di kamarnya, pria itu memindahkan sang putra tercinta di kamar pribadi karena Rolando, mempunyai kamar sendiri seperti di mansion opa dan oma-nya.
Tak kuat menahan si belalai mengamuk dengan terpaksa duda casanova itu pun, berendam di air dingin sambil membayangkan, dia bermain bersama gadis yang telah menjungkir balik dunia Rewindra Wiratama.
__ADS_1
Tak kusangka aroma yang ada di tubuhmu membuatku meradang dan itu juga bukan dari penampilanmu saja. Aku sungguh tak sabar melihat reaksi raut wajah terkejutmu, ketika kau bangun di pagi hari nanti.
.
.
.
.
Kamu milikku mulai dari sekarang bahkan saat kakiku sudah 3," ucap seorang laki laki di depan perempuan yang selalu ia claim sebagai miliknya.
"Dih apaan, aku juga perempuan butuh yang namanya kepastian bukan seperti ini."
"Oke kamu butuh kepastian yang seperti apa? Mau aku lari lari di lapangan cuma buat kamu?"
"Ish gak boleh, nanti kamu banyak yang suka."
"I Love You."
Dua anak manusia yang memiliki sifat dan kepribadian yang beda kini disatukan dengan yang namanya status perjodohan yang akhirnya malah membuat mereka lengket tak mau pisah.
Dewi Arabella gadis berusia 18 tahun yang sangat blak blakan, ceria dan apa adanya, dia tak akan mau berbohong hanya untuk membuat orang bahagia.
Dewa Sanjaya Putra pria berusia 18 tahun yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dewi. Dewa sangat tertutup dan dingin tapi jika sudah dengan Dewi sifat itu hilang entah kemana. Bahkan Dewa sangat manja dengan Dewi sejak perjodohan dilakukan.
__ADS_1