Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Kenangan Yang ....


__ADS_3

Sambil menahan kepala ayahnya yang terbaring pingsan dengan sandaran di tangannya. Prasetya mengambil benda pipih di dalam saku celana dengan menekan, sebuah nomor ponsel pribadi seorang dokter yang menangani penyakit diderita sang ayah.


Tidak berselang lama dokter yang dihubunginya telah sampai di rumah, tanpa berbasa-basi pria itu menyuruh dokter itu memeriksa kondisi ayahnya.


“Bagaimana apa ayahku tidak apa-apa?” tanya Prasetya pada dokter yang baru saja menutup pintu kamar.


“Ck! Kenapa bisa jadi seperti ini sih, Pras? Kalau sampai terdengar oleh gadis dingin itu, bisa-bisa aku dibunuh oleh dirinya.” Dokter yang sebaya dengan Prasetya bersungut-sungut sambil berdecak kesal.


“Aku tidak ingin mendengar nada sungutmu. Langsung saja katakan pada intinya!”


“Astaga lama-lama aku stres dengan tingkah laku ayah dan anak yang selalu tidak sabaran.”


Dokter itu menelan ludah kasar ketika sang sahabat, menatapnya dengan sorot mata mematikan, “ayahmu itu tidak seharusnya menerima kabar buruk dan itu dapat mempengaruhi kesehatannya, Pras. Apa kau barusan bercerita yang bisa memancing rasa amarah di dalam dirinya?”


“Aku hanya menceritakan sedikit tentang kebenaran yang hanya kau mengetahui hal itu.”


Dongkol dengan pernyataan dari sang sahabat, membuat dokter tersebut berdecak kesal mendengarnya. “Seharusnya kau bisa menjadi emosi ayahmu, Pras.”

__ADS_1


“Lalu aku harus apa dan bagaimana?”


“Semuanya sudah telanjur dan kau harus bisa menanggung kemarahan di dalam diri cucu kesayangannya.”


“Tidak masalah karena itulah tujuanku.”


“Kau benar-benar gila, Pras!! Namun, ingat hal ini jangan lupa dengan —


“Tidak perlu mengingatkanku tentang itu!”


Ayah aku tahu sangat bersalah terhadapmu dan mendiang ibu. Bahkan aku tidak bermaksud membuat emosimu membara, tapi jujur saja putramu ini benar-benar tidak berdaya. Maafkan semua sikap dinginku dan keegoisanku yang melukai hati kalian, terutama kalian dua wanita yang selama ini kucintai dalam diam.


Meninggalkan sang ayah dalam keadaan membaik dengan melangkahkan kaki menuju, kamar sakral yang menyimpan sejuta kenangan tidak pernah dilupakan oleh Prasetya.


Kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panas malamnya bersama seorang wanita cantik yang telah memberinya, seorang putri cantik sehingga membuat pria itu terpaksa harus membangun tembok untuk menutup pintu hati, bahwa pada saat itu dia sebenarnya telah jatuh hati pada wanita yang dijodohkan sejak lama.


Ingatannya menerawang pada saat dia pertama kali bertemu dengan ....

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu, Pras? Apakah dia cantik seperti yang Ibu kirimkan foto itu pada dirimu?”


“Bu, a —


“Mau bilang wanita sundal itu lebih cantik darinya begitu, hah!”


“Bukan begitu maksudku, Bu. Namun, a —


“Jangan terlalu lama berpikir, Pras. Hanya kamu satu-satunya harapan Ibu untuk menikah dengannya!”


Seorang pria muda yang tengah mengobrol dengan ibunya itu sedang memikirkan, permintaan khusus untuk menerima perjodohan yang diperuntukkan dirinya.


“Kenapa tidak Morgan saja yang menggantikanku? Saat ini aku belum bisa memutuskan keinginanmu.”


“Jangan bilang ini karena sundal itu? Sampai rohku terpisah dari ragaku pun, tidak akan pernah sudi menerimanya sebagai menantuku! Kamu harus bisa membuka lebar kedua matamu itu, Pras.”


__ADS_1


__ADS_2