Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Malam Kedua


__ADS_3

Warning khusus 21+


.


.


.


.


.


Pukulan serta sikutan tidak membuat sang suami gentar mengeluarkan aksinya. Bahkan pria itu semakin gencar memainkan tubuh mungil dalam dekapnya, tidak lupa ditangan kanan Rewindra sedang bermain-main pada bagian inti hingga gadis itu, mend3sah karena sentuhan lembut disela-sela dia sedang mengunyah makanan dan membuat Ara mengumpat geram, sehingga dia pun menyelesaikan makan malam dengan terburu-buru sampai tandas.


Sementara Rewindra yang menyadari bagian inti sang istri basah karena ulahnya, serta menyaksikan sendiri bahwa gadis itu begitu gila dalam hal menghabiskan makan malamnya, dengan cepat pria itu membalik tubuh mungil untuk menghadap ke arah dirinya sambil meminta izin, serta meminta maaf karena telah lancang bermain-main diinti gadis tersebut.


"Maaf atas kelancanganku, Hon. Namun, semua itu kulakukan atas keinginanku sendiri karena aku hanya ingin berterima kasih pada dirimu!"


"Untuk?"


"Untukmu yang mau menikahi pria bekasan sepertiku, Hon. Meskipun itu, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Namun, saat aku meminta hak-ku pada dirimu. Apakah kamu mau melakukannya untukku, Hon?" pinta Rewindra dengan suara seraknya.


"Seperti sekarang kau menginginkan kita mengulang seperti malam pertama itu bukan?" balas Araela sembari mendengkus kesal.


Hal tersebut membuat sang suami mengangguk dengan sorot mata yang memelas, sehingga mau tidak mau gadis itu mengabulkan permintaan Rewindra dan tanpa banyak kata.


Pria itu menyambar bibir mungil lalu melu'matnya dengan perasaan menggebu-gebu menyesap setiap inci bibir mungil, sang istri dan mengobrak-abrik isi di dalamnya sampai membuat Rewindra mendapat pukulan keras di dada bidang miliknya.

__ADS_1


"Bibirmu ini begitu candu berbahaya dan aku tidak sabar merasakan belalai gajahku dijepit oleh milikmu," seloroh Rewindra dengan raut wajah berbinar-binar, sehingga dia kembali merasakan pukulan keras di dada bidang yang dilakukan oleh sang istri.


"Jangan keras-keras di rumahku tidak ada alat peredam suara."


"Bolehkah aku melalukannya di sini, Hon?"


Gadis itu enggan menjawab pertanyaan dari sang suami, tapi dia mengarahkan jari telunjuk yang tertuju kamar pribadinya dan mengingatkan, pria di hadapannya untuk melakukan malam kedua di dalam kamar pribadi.


Mau tidak mau dengan terpaksa pria itu menuruti sang istri sembari menggendong tubuh mungil dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadi dengan dia kembali, melu'mat bibir istrinya tanpa sadar tubuh mungil Araela sudah dalam keadaan polos dan terpampang begitu indah kedua bukit kembar yang selama ini ditutup oleh gadis tersebut.


"Milikmu besar sekali, Hon! Apakah mereka yang selama ini kamu tutupi dengan itu?" puji Rewindra dengan suara seraknya.


"Sekali lagi kau menanyakan hal yang tidak penting, maka ak ...."


Ucapan Ara terhenti saat sang suami tiba-tiba menindih tubuh mungil bersamaan itu bibirnya kembali disesap dengan penuh hasrat yang menggebu-gebu sembari, jemarinya mer3mat salah satu bukit k3mbar dan jemari lainnya kembali memainkan inti bagian tubuh mungil gadis tersebut.


"Aku akan memulai permainan yang sesungguhnya dan cakar tubuhku jika kamu merasa kesakitan!" Sambil menggesekkan kepala si belalai gajah. Pria itu meminta izin pada sang istri untuk memulai permainan, dengan dia yang tidak berhenti memasukkan si belalai gajah.


Membutuhkan waktu lima belas menit si belalai gajah tertanam sempurna di dalam goa milik sang istri dan dia bergerak secara perlahan sehingga terdengar kembali suara d3sahan dengan dirinya ikut menyahut m3nd3sah karena begitu menikmati permainan yang dibawa oleh mantan duda casanova tersebut.


"Milikmu benar-benar begitu sempit dan menggigit, Hon," sahut Rewindra sambil menaik-turunkan pinggulnya dan pria itu menatap sang istri yang akan mencapai puncak. Namun, dia tidak akan membiarkan istrinya mencapai terlebih dahulu sebelum dirinya mencapai puncak bersama. "kita capai puncak bersama, Hon. Tunggu aku!"


Sekitar lima menit kemudian keduanya mengerang bersama, dengan Araela menormalkan deru napasnya karena tubuh mungilnya seperti diremukkan, mengingat tenaga dari sang suami tidak main-main begitu perkasanya di atas ranjang.


Pantas saja julukkan duda casanova yang disematkan untuk sang suami benar-benar tidak ada tandingannya. Namun, mulai sekarang dan seterusnya dia tidak akan pergi dari kehidupan pria yang telah menjadi suami sampai napas berhenti meskipun tidak ada cinta, tapi Araela telah memasukkan pria itu ke dalam kehidupannya dan akan selalu menjaga hati untuk sang suami.


"Ada apa, hm?" tanya Rewindra.

__ADS_1


"Tidak ada." Singkat padat dan jelas, membuat Rewindra tergelak gemas melihat tingkah laku sang istri.


Hal tersebut membuat pria itu, menjahil dengan mengajaknya mengarungi lautan kembali, "apa kamu mau main lagi denganku, Hon?"


"Aku mengantuk!" jawabnya dengan nada terdengar dingin.


"Aku hanya bercanda, Hon. Tidurlah aku tahu kamu sangat kelelahan melayaniku, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu tidak menolak, saat aku meminta hak-ku atas tubuh dan semua yang ada di dalam dirimu."


Sampai pria itu mendengar suara dengkuran halus dengan dia yang masih betah menatap wajah cantik, seorang gadis yang telah terikat takdir begitu sangat unik untuk dia dengan gadis tersebut.


Sayang! Maaf aku tidak bermaksud melupakanmu, tapi kamu tidak perlu cemas. Namamu akan selalu tersimpan jauh di relung lubuk hatiku yang paling dalam. Izinkan aku dan restui aku untuk menjalani komitmen bersama dia yang telah terikat takdir ini!


Tidak berselang lama kemudian pria itu memutuskan menyusul sang istri yang telah masuk ke dalam alam mimpi sambil, mendekap erat tubuh mungil yang telah menjadi candu berbahaya untuk dirinya.


*


*


*


Pagi hari pun menyapa dengan Araela sedang mengerjap-ngerjap sambil membuka kedua mata dan gadis itu, dikejutkan sebuah tangan kekar yang begitu erat mendekapnya dan hampir saja dia menendang, tapi diurungkan setelah teringat bahwa dirinya telah menjadi seorang istri.


Gadis itu melepas pelan tangan kekar yang mendekapnya sambil berjalan dengan suara pelan agar tidak membangunkan si empu tangan kekar dan setelah terlepas saat ini, Araela mendengkus kesal ketika melihat tubuh mungilnya dipenuhi sebuah tanda keunguan terutama kedua bukit kembarnya dengan banyak jejak yang ditinggalkan oleh sang suami.


Bagaimana caraku menutup leher ini? Dia benar-benar meremukkan tubuhku! Apalagi milikku masih sakit karena belalai gajahnya yang terlalu besar! Sambil membatin gadis itu, sedang membersihkan sisa-sisa permainan sang suami.


Sampai dia mendengar suara pintu diketuk, tapi gadis itu enggan berhenti menggosokkan tubuh mungilnya, sebab Araela teringat dengan Rolando yang tertidur di kamar lain.

__ADS_1


Bersamaan itu, dia pun melangkah kaki keluar dari kamar mandi dan disambut, decakan kesal dari pria yang menghadang langkahnya.


__ADS_2