
Perdebatan diantara kedua pria yang tidak mau mengalah menarik perhatian pria senja yang begitu sangat menikmati bahkan keduanya mengingatkan sebuah kenangan tidak lekang oleh waktu.
“Apa kalian tidak malu berdebat seperti anak kecil di depan anak nakal ini, hm?” tegur Gunawan sambil menahan tawa yang ingin disembur.
“Kenapa Ayah selalu memanggilnya dengan sebutan Anak nakal?” Prasetya memprotes sebutan yang disematkan untuk putrinya.
Gunawan tergelak mendengar nada protes dari putra sulungnya yang tidak terima sebutan anak nakal, bahkan sebutan untuk cucu kesayangannya itu merupakan bentuk kasih sayang tidak terhingga. “Jika ingin protes pada Ayahmu tentang sebutan untuknya ... silakan tanya sendiri bagaimana sisi lain di dalam diri anak nakal itu.”
Kemudian pria senja itu menambahkan dengan bertanya tentang keadaan sang cucu, “Bagaimana anak nakal itu bisa tidur se-nyaman ini? Apa sesuatu terjadi dengannya?”
“Dia kelelahan karena melayani duda casanova itu, Yah!” sahut Morgan bernada ketus yang membuatnya mendapat jitakan maut, dengan tatapan sorot mata dingin sang kakak mampu membuat jakunnya bergerak naik-turun.
“Bicara yang benar, bujang lapuk!”
__ADS_1
“Akan kuʼ adukan padanya nanti,” cetusnya dengan bibir mencebik.
“Aku, tidak takut,” tantang Prasetya tanpa meragu, sehingga membuatnya memutuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur.
Sebagai penebusan dosa yang dilakukan oleh Prasetya benar-benar ingin membuktikan bahwa dia tidak akan berhenti meminta maaf pada putrinya.
Setengah jam berlalu aroma masakan olahan dari kedua tangan Prasetya tercium di hidung seorang gadis yang sedang mengendus sambil berusaha membuka kedua mata. Tidak berselang lama kemudian Araela tersadar setelah gadis itu mengarahkan pandangannya di sekitar kamar tersebut.
“Aku tertidur di kamar mama? Gara-gara duda mesum sialan! Tubuhku jadi kelelahan melayani si belalai gajah, tapi tunggu bukankah aku sedang —”
“Pa ... pa.” Panggilan terucap lirih dengan air mata yang tiba-tiba mengalir sendiri.
Sementara Prasetya sedang membalikkan tubuhnya terkejut melihat tubuh mungil yang menangis tiba-tiba sambil berdiri, hingga membuat pria itu menghentikan kegiatan untuk menghampiri sang putri dan, membawa gadis itu ke dalam dekapan tubuh tinggi tegapnya sambil menggendong bak koala.
__ADS_1
“Kita selesaikan masalah yang mengganjal pikiranmu! Maukah mendengar kisah ini? Namun, sebelum itu aku hanya ingin menyampaikan pesan dari suamimu karena dia tidak tega membangunkanmu.”
Araela mengangguk sambil menatap pria yang memberinya luka dengan raut wajah sulit diartikan.
Sambil tergelak lucu melihat ekspresi raut wajah putrinya, membuat Prasetya gemas dengan dia menyampaikan pesan dari menantunya, “Dia memintamu mengantarkan makan siang di kantor! Bukankah kamu di sana bekerja sebagai karyawannya?”
“Lalu denganmu urusannya apa?” tanya Ara dingin.
Meletakkan putri di atas salah satu kursi, sambil menatap lekat manik dengan sorot kebencian mendalam. “Jangan, takut. Aku tidak mungkin mencampuri urusan yang bukan ranah pribadimu Ara, Sayang. Mengobrol bersamamu sudah cukup bagiku untuk menebus semua luka hati yang mungkin tidak akan sembuh. Namun, satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa semua yang kuʼ lakukan demi menjaga perasaanmu, dari wanita iblis yang selalu meracuni pria bo.doh sepertiku sekaligus pria yang memberi kalian luka.”
“Jadi, kau ingin aku memberimu maaf begitu?”
“Aku tidak akan memaksakan hatimu untuk memaafkanku, tapi izinkan aku menebus dengan menyembuhkan luka hatimu.”
__ADS_1
Obrolan sepasang ayah — anak berakhir setelah gadis itu teringat dengan pesan dari duda casanova mesum yang diterimanya, untuk mengantarkan makan siang di kantor bersamaan dia akan bekerja kembali setelah beberapa hari membolos.