Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Kado Sederhana Tapi Sangatlah Berharga


__ADS_3

“Tidak menginap lagi, Win?” Ada perasaan kecewa ketika Dahlia mengetahui jika gadis itu menolak untuk menginap. Namun, perasaannya tersentuh ketika ia mengetahui alasan yang membuat Araela enggan menginap di mansion ini.


Gadis itu sangat menjaga perasaan tertuju, pada mendiang istri pertama Rewindra. Hal itu membuat Dahlia tak mengungkit perihal, tentang cucu lain di dalam rahim gadis tersebut.


“Maaf, Ma!” Rewindra mewakilkan permintaan 'maaf' sang istri, dan sebagai pria yang beruntung.


Tiada henti mengungkapkan cintanya untuk gadis tersebut dan adanya, kehadiran Araela yang mengubah seluruh kehidupan pria itu.


'Sayang, kamu lihat bukan? Dia, benar-benar gadis sempurna. Meskipun ragamu melebur dengan tanah, tapi dia tetap memperlakukanmu seperti ratu. Bolehkah suamimu ini mencintainya sedalam ini? Rasa sayangku untukmu ada porsi lain, yang masih menempati relung hatiku! Suamimu ini terlalu bangga memiliki istri sepertinya. Mohon izinkanlah aku untuk merangkai, kisah yang akan ku’ jaga sampai kita bertemu.'


“Apa Mama mau marah dengan kami?” Rewindra bersuara kembali dengan melontarkan tanya. “Mama tentu saja paham bukan, alasan istriku yang enggan menginap di sini?”


“Mama paham, Win.” Dahlia berujar sambil mengangguk. Lalu pandangan mata wanita paruh baya itu terkejut, melihat sang menantu tertidur dalam posisi berdiri. “Sejak kapan dia tertidur pulas? Kalau kamu tidak kuat mengendarai mobil, pakai sopir untuk mengantarkan kalian!”


“Ya, Ma.” Memindahkan tubuh mungil dalam gendongan membuat gadis itu, lebih leluasa menghirup aroma maskulin tubuh tinggi tegap Rewindra. “Aku bawa dia ke mobil lebih dulu, Ma.”


Sepuluh menit kemudian pria itu meminta Rolando untuk mengekor, di belakang dan berpamitan kembali ada sang mama tercinta. “Di lain waktu, aku pasti akan membujuknya untuk menginap di sini. Jangan khawatir!”


Dahlia menggeleng. “Tidak perlu memaksanya, Win. Mau berkunjung pun, Mama sudah senang dengan kedatangan istrimu. Sudah sana, jangan sampai pulang terlarut malam.”


“Oland, pulang dulu ya, Oma!” Rolando bersuara untuk, memecahkan perdebatan daddy dan omanya. “Ayo, Dad. Mama, pasti menunggu kita!”


Setelah memanggil salah seorang sopir yang akan mengantarkan mereka, Rewindra memerintahkan sopir itu untuk segera dilajukan.


“Dad, sejak kapan Mama tertidur pulas? Padahal ada yang ingin ku’ bahas bersama Mama.”


“Ssttt, nanti bahas di rumah. Bisa?” Rewindra mengarahkan jari telunjuk dan menyuruh Rolando diam. “Hari ini biarkan Mamamu tidur! Untuk membahas berhubungan dengan ulang tahunmu nanti bisa dibahas besok.”


Sekitar dua puluh menit berlalu mobil mewah milik Rewindra sampai di depan rumah sederhana sang istri tercinta. Ia memerintahkan Rolando untuk turun lebih dulu, sedangkan pria itu menggendong istrinya masuk ke dalam kamar istrinya.


Tak lama kemudian ia kembali ke depan tempat mobil terparkir dan menyuruh, sang sopir yang mengantarkan mereka kembali ke mansion.

__ADS_1


“Bawa kembali mobilku di mansion, dan letakkan itu di sana. Besok aku akan menyuruh Louser untuk menjemput ‘ku!”


Usai memberi titah Rewindra masuk kembali ke dalam rumah dan memastikan, sang putra telah mengganti pakaian tidurnya dengan ia sendiri, masuk ke dalam kamar pribadi sang istri yang bersebelahan milik Rolando.


“Selamat menggapai mimpi, Honey. Aku mencintaimu!” Tidak lupa pria itu melabuhkan kecupan di bibir ranum, tanpa berniat mencuri karena ia tidak ingin gadis itu semakin bersikap dingin.


Lantunan azan subuh berkumandang membangunkan sang gadis yang sedang menggeliat tak nyaman, akibat belitan erat yang melingkari tubuh mungil dan ia terkejut mendapati wajah tampan polos, dengan suara dengkuran halus membuatnya tak berhenti menatap wajah tampan nan rupawan.


“Apakah kau akan tetap mencintaiku meskipun nanti, datang sebuah ancaman dalam rangkaian kisah ini?” Berbisik pelan tanpa mengganggu si empu tubuh tegap.


Menikmati sebentar aroma maskulin yang kini menjadi candu untuk gadis itu, sebelum ia melakukan tugasnya seperti biasa di pagi hari.


Berhasil meloloskan dari belitan yang membelit tubuh mungilnya gadis itu, menengok sebentar tempat di mana sang putra menempati kamar lain.


Tak lama kemudian aroma masakan olahan gadis itu tercium, oleh dua pria yang terbangun dari lelapnya mimpi.


“Aku duluan sampai di meja makan, Dad! Duduklah di tempat lain.”


Perdebatan antara ayah — anak membuat Araela turun tangan dengan menarik kedua telinga masing-masing, hingga telinga dua pria berbeda generasi memerah seperti akan terputus.


“Sekali lagi kalian berdebat di depan meja makan, jangan harap aku memberi makan untuk kalian!” Araela menegur setelah kedua tangannya terlepas dari, daun telinga masing-masing dua pria itu. “Sekarang makan dan habiskan! Jangan ada keributan lagi, atau kalian mendapat hukuman lebih dari ini. Mau mencobanya?”


Gadis itu pun melewatkan sarapan pagi karena perdebatan sepasang, ayah — anak itu membuat perutnya serasa kenyang.


Tak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk mengantarkan sang putra tanpa, memedulikan raut wajah cemberut suaminya.


Di gerbang sekolah inilah gadis itu mengantarkan Rolando sebelum, ia memutuskan untuk berkunjung ke kantor sendiri.


“Mana pesanan milikku, Kak?”


Millo yang sedang sibuk bersama tumpukkan berkas, terkejut dengan kedatangan gadis itu. “Bisakah datang untuk memberiku kabar dulu, Ra?” ujar pria itu dengan berdecak kesal. “Sudah kusiapkan di atas mejamu, buka dan lihatlah dengan sendiri pesananmu!”

__ADS_1


Merobek kasar kertas yang membungkus hingga terpampang ‘lah figura berserta foto di dalamnya. Seorang wanita cantik menggendong bayi merah dalam dekapannya.


“Cantik.”


“Kenapa dirobek lagi, Ra?” Millo melayangkan protes.


“Nanti aku bungkus rapi!” Araela membalas tanpa menatap lawan bicara. “Kau berhasil dengan penyelidikanmu, Kak?” Meletakkan figura itu ke dalam tas, dengan melontarkan tanya.


“Musuhmu kali ini sedikit rapi bermain peran, tapi kau harus berhati-hati jika nanti berhadapan dengannya.”


Gadis itu, bertanya kembali. “Bagaimana dengan urusan yang ada di kerajaan sana? Apa kau berhasil menemukan para pembelot itu?”


Millo mengangguk dengan ia membalik pertanyaan. “Kau jadi mengambil alih kekuasaan kerajaan kakekmu, Ra?”


“Jika tak diambil segera, aku tak yakin om Evan bertahan sejauh ini. Para pembelot itu menginginkan kakekku turun dari singgasananya, dan aku sangat membenci orang-orang begitu terobsesi oleh kekuasaan. Alasan ini yang membuat kakek memilihku sebagai penerus, untuk bisa menjadi pemimpin yang diharapkan oleh kakek.”


“Lalu bagaimana dengan perusahaan ini, Ra?” Pria itu tak rela di tinggalkan oleh gadis yang, ia anggap seperti adik kandung. “Perusahaan ini adalah hasil kerja kerasmu, Ra.”


“Aku mengangkat ‘mu untuk menjadi direktur, Kak! Masalah perusahaan ini, semuanya telah menjadi kendalimu.”


“Lalu kau sendiri bagaimana?”


“Aku?” Melontarkan tanya sembari menunjuk diri sendiri.


Terdengar dengkusan kasar ketika mengetahui, jika gadis itu sedang mengerjainya. “Ayo, Ra. Jangan buat aku penasaran.”


“Tidak perlu membahas yang bukan ranahmu, Kak! Sekarang kau fokuslah pada ribuan karyawan yang bergantung di pundakmu.” Araela menepuk bahu Millo sebelum gadis itu, meninggalkannya yang sedang terdiam membisu.


Tak lama kemudian Araela berhasil keluar dari perusahaan itu tanpa ada seorang pun, yang mengetahui kedatangan gadis itu dengan ia membawakan sang putra, sebuah foto kenangan yang dijadikan hadiah di hari ulang tahun anak lelaki tersebut.


__ADS_1


__ADS_2