
Morgan kembali menganggukkan kepala, tidak lupa dia menyampaikan pesan ditujukan untuk gadis tersebut, “jadi kamu sendiri bagaimana? Sudah mau menerima keberadaan mereka? Aku menyampaikan pesan dari kakak kembar mendiang mamamu. Bahwa dia sebenarnya juga sangat menyayangi dan mencintaimu.”
Gadis itu enggan menyahut, tapi ternyata dia melangkahkan kakinya di arahkan kamar tempat putranya, sambil memikirkan pesan disampaikan mengandung maksud bahwa dirinya selama ini, sama sekali tidak sedikit pun merasakan kekurangan kasih sayang dari orang-orang menyayanginya. Namun, hanya satu keinginan yang sangat mustahil terkabul dan sudah begitu lama diimpikan.
“Apakah aku salah menyampaikan pesan itu pada dia?” Morgan bergumam lirih yang langsung mendapat sahutan dari pria di hadapannya.
“Dia hanya butuh waktu untuk menerimanya, Om. Aku sendiri saja tidak bisa menebak jalan pikiran istriku.”
“Kenapa mesti menyahut ucapanku, hah,” ketus Morgan bernada sewot.
“Aku pikir kau benar-benar memahami perasaannya.” Sambil melipat kedua tangan di dada.
Para pria itu kembali mendebarkan sesuatu hal yang tidak penting. Sampai membuat keduanya tertawa konyol dengan tingkah laku masing-masing.
*
__ADS_1
*
*
Sementara itu, di sisi lain terdapat sepasang ayah dan anak yang masing-masing saling menatap dingin. Bahkan keduanya enggan menurunkan ego, dan juga salah satu diantara mereka enggan mengalah.
“Berani sekali menginjakkan kakimu di rumah ini!”
“Ayah, a —
“Apa sudah ada rasa sesal yang sedang kau rasakan, Pras?”
“Lalu bagaimana dengan mereka? Bukankah selama ini kau terlalu menyayangi, bahkan kau pun terlalu memanjakan seorang anak yang tidak ada hubungan darah denganmu.”
“Aku tidak tahu harus bagaimana memulai, Yah. Ada satu hal yang harus ku' perjelas di hadapanmu saat ini! Ada rasa sesal yang selama ini membelenggu hatiku bahkan sejujurnya rasa cintaku, untuknya mulai terbangun ketika dia membawa separuh napas bersama raga dan hatinya.”
__ADS_1
Untuk pertama kalinya pria senja yang duduk di atas kursi roda melihat dengan sendiri, bagaimana putra sulungnya itu menyimpan rasa sesal yang mendalam.
“Jadi, kau meminta izinku untuk bertemu dengannya?”
“Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, Yah. Meskipun aku menorehkan luka di hatinya sampai membuatnya membenciku. Namun, aku selalu menyayangi Ara dan menyimpan rapat-rapat rasa cintaku, agar mereka tidak menyakiti cucumu dan itulah yang membuatku membangun tembok.”
“Lalu selama ini kau menyayangi anak sundal itu karena apa?”
Prasetya menggeleng bahkan pria itu tidak mengerti dengan jalan pikiran yang diambilnya dulu. “Maaf, Yah!”
“Kenapa meminta maaf? Bahkan aku sebagai Ayahmu terlalu kecewa dengan semua sikap yang kau lakukan pada putrimu itu, Pras!” Nada dingin yang terucap dari bibir Gunawan, membuat Prasetya menunduk takut melihat kemarahan di dalam diri ayahnya.
“Saat di pemakaman itu, aku benar-benar menyesali semua sikap dinginku pada Ara dan alasanku tidak mengakuinya sebagai, putri kandungku karena wanita iblis itu selalu mengancam untuk membunuh seluruh keluarga ini, Yah! Saat dia membuat gosip menggemparkan publik sejujurnya, aku benar-benar marah pada diriku yang tidak bisa melindungi Ara dari fitnahan itu.”
“Jadi, selama ini kau dijadikan boneka dan pajangan untuk bisa masuk ke dalam keluarga ini begitu maksudmu?”
__ADS_1
Prasetya kembali menunduk ketika dia melihat amarah di dalam diri ayahnya kembali mendidih sampai, membuat pria senja yang duduk di atas kursi roda tiba-tiba menjadi sesak napas dan pria itu menjadi panik dibuatnya.