
Rewindra mengerucut bibir kesal ketika mendengar pernyataan tentang kepribadian sang istri yang membuatnya menebak jika, gadis itu tidak sesederhana dari penampilannya pun terlihat berbeda saat pertama kali berjumpa dengan gadis tersebut.
“Bukankah aku sudah mengatakan hal ini padamu ... bibir itu tidak pantas merajuk bahkan Rolando kalah jauh dari bibirmu.” Gadis itu membalas dengan melontarkan cibiran yang membuat pria berdiri di belakangnya mencebik kesal. “Aku tidak perlu berkata apa pun tentang hubungan kita ... sudah melupakan semua yang pernah kukatakan pada dirimu, Bee?” Tanpa sadar bibir gadis itu tiba-tiba memanggil pria di belakangnya dengan sebutan, 'Bee' yang membuat Rewindra sedikit tidak percaya dengan sebutan dari gadis tersebut.
“Bisakah kamu mengulangi apa yang disebut olehmu untukku, Nyonya?” pinta pria itu dengan hati berbunga-bunga.
Akan tetapi, gadis itu enggan membahas tentang sebutan yang ditujukan untuk dirinya dengan, dia mengalihkan arah pembahasan tentang bakat terpendam di dalam putra-nya. “Mungkin hanya salah jadi tidak perlu memintaku mengulanginya oke ... aku ingin bahas tentang bakat putra-ku, apa selama ini tidak mengetahui perihal apa pun tentangnya?”
__ADS_1
Rewindra menggeleng karena sejak Rolando dilahirkan dia sama sekali tidak sedikit pun mendekap bayi merah sampai membuatnya bingung tentang bakat sedang dibahas oleh sang istri.
“Itu semua karena kesalahan yang telah kulakukan hingga membuatku tidak mengetahui apa pun tentang bakatnya.” Rasa sesal yang menyesak di dada membuat Rewindra hanya bisa memendamnya, dengan sendiri tanpa disadari oleh pria itu jika gadis di hadapannya begitu tanggap dengan kegundahan mengendap di hati. “Aku bahkan tidak pantas dipanggil 'daddy' oleh dia karena aku yang memberinya luka lara tidak mungkin bisa disembuhkan dengan mudah.” Di hadapan gadis itu dia memperlihatkan sisi rapuh yang selama ini, tidak pernah ditunjukkan pada siapa pun termasuk pada kedua orang tua sekaligus.
Menghentikan sementara kegiatan yang tengah dilakukan oleh gadis itu dengan beranjak dari tempat duduk untuk, menghampiri pria yang terlihat menyesal atas segala telah terjadi dengan sedikit menghibur hati rapuhnya.
Memberi jalan untuk sang suami dengan memperlihatkan sebuah puisi yang terketik rapi hingga membuat hati pria itu bergetar ketika dia disuguhkan, dengan tulisan menyayat relung hatinya terdalam sampai tidak dapat berkata apa-apa tentang puisi yang dicurahkan oleh Rolando sendiri.
__ADS_1
“Nyonya ....” Memanggil sang istri untuk meminta pendapat tentang bakat putranya. “Apa kamu mengizinkan dia melakukan apa yang diinginkan olehnya? Termasuk mengenai cita-cita yang diimpikan oleh Rolando?”
“Aku tidak paham dengan itu tapi meskipun begitu aku tidak pernah, sedikit pun melarangnya melakukan semua hal yang diinginkan oleh dia!” tegas gadis itu dengan sorot mata dingin.
Oleh karena itu, dia sendiri tidak akan pernah melarang sang putra melakukan sesuka hati untuk mencapai cita-cita diimpikan. “Seburuk apa pun tentangmu ... dia terlahir dari segenap cinta yang ada sampai dititipkan untukmu, agar kau menjaganya seperti dia mengorbankan nyawanya untuk melahirkan penerusmu!”
__ADS_1