
“Karena dia selalu mengancam akan membunuh Kakek, seperti yang pernah dilakukan anak sundal dan memfitnahku lagi, supaya aku benar-benar tidak dianggap. Sakitnya ada di sini,” jawab Araela sambil memukul dada sendiri. Sebab, cinta pertamanya lebih memilih darah kental lain, daripada darah kental sendiri. “lalu aku memutuskan mengubah penampilanku seperti ini, karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan mereka.”
Melihat bayi mungilnya memukul dada sendiri, membuat bujang lapuk mendekap erat tubuh mungil, cinta kedua darinya setelah mendiang kakak ipar sendiri.
“Termasuk saat kau dilukai oleh cinta pertamamu itu?”
“Jangan sebut nama menjijikkan itu, Om.” Mendengar nada dingin dari sang bayi mungil, membuat bujang lapuk bergidik ngeri.
Ini pertama kali dia melihat sisi lain di dalam diri bayi mungilnya, tentu aura dingin kebangsawan teringat oleh saingan yang selalu ingin bertemu gadis bar-bar tersebut.
Astaga kenapa semakin mirip dengan dia? Melihat bayi mungilku marah seperti ini membuatku takut, bahkan belum tentu wanita licik terbebas dari pengawasan kerajaan. Bahkan dia marah kepadaku karena telah merusak kehormatan teman sekampusnya? Astaga Baby kamu membuatku tak bisa berpaling dari gadis yang kuʼ rusak. Maafkan aku telah merusak kepercayaanmu dan percayalah, aku pasti akan menemukan keberadaannya di mana pun dia berada.
Lamunannya terhenyak ketika, bujang lapuk itu mendengar panggilan dari ayahnya, “iya, Yah! Ada apa?”
“Apa yang kamu lamunkan, Boy?” Gunawan memastikan sesuatu, yang sedang mengganjal pikiran pria senja itu.
“Putra sulungmu,” jawabnya dengan nada dingin.
“Hei, dia itu kakakmu, Boy … kenapa kamu ikutan jadi membenci dia?”
“Ayah pasti sangat mengetahui semua hal tentangku, termasuk putra sulungmu itu sampai kapan pun, tidak ada kata maaf karena telah menganggap bayi mungilku tidak ada, bahkan aku benar-benar marah putri Bastian ingin merebut sesuatu yang bukan miliknya.”
“Jangan cemas berlebihan seperti ini, Boy … kalaupun dia menggunakan cara licik untuk merebut posisi cucuku, kamu sudah salah besar tidak mengetahui apa pun tentang dia.”
“Kek!” Panggilan lembut dengan gelengan kepala dari sang cucu, membuat pria senja itu diam.
Selama ini hanya dia satu-satunya mengetahui latar belakang, sang cucu sebagai peretas handal yang dicari-cari seluruh dunia.
“Apa yang tidak kuʼ ketahui dari bayi mungilku, Yah?”
__ADS_1
“Tanyakan langsung kepada anak nakal itu, Boy.”
“Kenapa Kakek menganggapku nakal?” tanya gadis itu dengan bibir mengerucut kesal.
Tawa Gunawan pun pecah ketika mendengar, sang cucu tidak ingin dipanggil anak nakal. Kenapa seperti itu?
“Sudah-sudah kita kembali ke obrolan utama anak nakal,” ucap Gunawan sambil menggoda sang cucu.
“Kakek!”
“Astaga stop, Baby … jangan membuat jantung Kakekmu bermasalah lagi.”
Masih dengan bibir mengerucut kesal, gadis itu pasrah saat sang kakek memanggilnya seperti itu. “obrolan utama tentang apa, Kek?”
“Mengapa kamu tidak mau datang ke pesta bersama dengan calonmu sendiri, tapi justru malah datang sebagai karyawan di kantor itu? Lalu apa itu berarti kamu tidak ingin memakai sebuah gaun?”
Mendengar nada tegas dan dingin yang diucapkan sang cucu, membuat pria senja itu tidak bisa berkutik jika menyangkut tentang cucu kesayangannya.
“Apa Kakek keberatan dengan keputusan yang kuʼ ambil?”
Gunawan menggeleng bahkan dia merasa sang cucu membuktikan, bahwa anak nakal itu tidak selemah yang sekarang.
“Kakek tidak pernah mempermasalahkan keputusan yang kamu ambil, mulai hari ini pergilah ke butik bersama calonmu pilihlah apa yang membuatmu nyaman, untuk masalah gaun itu aku akan mengatakan kepada William, kalau kamu tidak ingin terlihat mencolok di mata orang-orang.”
“Kenapa harus bersama dia,” sahut keduanya dengan kompak.
“Sudah-sudah sekarang kamu hubungi dia, lalu katakan jika kamu akan pergi ke butik!”
“Aku boleh ikut, Yah, Baby?”
__ADS_1
Akan tetapi, justru bujang lapuk itu kembali mendapat tatapan mengerikan dari bayi mungilnya.
Seperti yang diucapkan oleh sang ayah tercinta, bahwa dia terlalu mencampuri urusan pribadinya.
“Baiklah aku akan keluar sebentar kalau begitu, Yah … kalau dia macam-macama denganmu, segera hubungi Om-mu ini. Biar aku yang menghajarnya kembali.”
“Om!” Teriakkan dari bayi mungilnya, tidak membuat bujang lapuk tertawa puas.
Karena hari ini dia bisa melihat senyum yang sama seperti wanita dicintainya itu. Namun, senyum itu pudar berganti raut wajah sesal karena gadis itu, telah membuatnya terbelenggu ha$rat dia sebagai bujang lapuk.
.
.
.
.
.
Nikah Dadakan Dengan Musuh
Blurb:
Digerebek saat mojok bersama pacar itu sih biasa. Bagaimana ya, kalau kena gerebek saat tak sengaja bersama musuh?
Penasaran? Ikuti kisah selengkapnya hanya di Nikah Dadakan Dengan Musuh
__ADS_1