
“Ma, mencintai dalam diam itu rasanya sangat menyakitkan, aku takut perasaan gelisah ini menjadi nyata. Namun, bolehkah aku egois untuk mempertahankan, seseorang yang sudah lama aku cintai diam-diam? Terlalu naif jika aku tak cemburu justru hati ini sangat-sangat cemburu, mengingat setiap perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Tak pernah berhenti ku’ mengawasinya dari kejauhan karena selama ini, putrimu terlalu menjadi seorang pengecut hanya tentang perasaan tak tersampaikan, aku terlalu mengabaikan hingga hatiku hancur dengan sendiri.” Mengeluarkan isi hati di hadapan, batu nisan tertera nama mamanya tercinta meskipun terdengar, oleh embusan angin pada siang menjelang sore dengan air mata, tak berhenti mengalir karena terlambat menyadari perasaan untuk sang suami.
Sudah sangat lama gadis itu memendam perasaan tertuju untuk Rewindra Wiratama, di mana ia bertemu dengan pria itu tepat di taman dengan jarak tak jauh dari pemakaman ini.
Ingatan gadis itu menerawang pada kejadian yang sangat memalukan, di mana ia pertama kali merasakan serangan ciuman, tentu saja Rewindra sendiri yang melakukan hal tersebut pada dirinya.
*
*
*
“Apa yang kau lakukan, Om messum.” Saat itu di taman dengan jarak tak jauh dari pemakaman, seorang gadis berseragam SMA mendapat serangan tak terduga. “Kau tak lihat di sini, dilarang melakukan hal berbau cabul. Namun, kau tiba-tiba menarik lalu menyerangku secara mendadak, apa aku pernah melakukan kesalahan untukmu?” Gadis itu tak berhenti mengomel seorang pria dengan, penampilan berantakan tak seperti terlihat seorang berada.
Tanpa bertanya pada siapa pun gadis itu memahami kejadian yang menimpa pria tersebut, hingga ia mati-matian menahan amarah dengan tingkah pria di hadapannya itu.
Aroma wine begitu terasa pekat pada penciuman gadis itu, sampai membuatnya beramsusi jika pria itu tengah mabuk, dan mengklaim bahwa dirinya adalah wanita yang baru saja melahirkan.
“Aku bukanlah istrimu yang baru saja melahirkan seorang anak, Om messum!” Tak lupa gadis itu meninggalkan pukulan keras yang dilayangkan untuk, pria mengklaim dirinya seorang istri hingga ia terpaksa kembali ke dalam makam, tapi ternyata dirinya bertemu dengan keluarga dari pria yang dipukulnya itu.
“Maafkan aku, Kek.” Araela gadis barbar itulah yang memberikan, pukulan keras dilayangkan untuk seorang Rewindra. “Aku yang memberinya pukulan keras, habis dia itu sangat menyebalkan! Malah mabuk-mabukan di taman saat aku menenangkan diri di sana.”
__ADS_1
Gunawan tergelak mendengar aduan yang terucap dari bibir cucu kesayangan, hingga sahabat tercinta yang sedang berduka sedikit terhibur dengan kehadirannya. “Sudah-sudah tak perlu meminta maaf, apa hatimu sudah lebih baik? Maafkan Kakek yang tak bisa menyelamatkan mamamu.”
Araela menggeleng bersamaan tatapan mata itu menjadi sendu mengingat, ia sendiri baru saja ditinggalkan oleh wanita hebatnya. Namun, pendengarannya samar-samar menangkap suara tangisan keras, dan suara tangisan itu tak jauh dari tempat gadis itu berdiri. “Kenapa ada suara bayi di sini, Kek?”
“Maafkan aku yang terpaksa membawa bayi itu ke sini, Nak.” Pria yang bersebelahan dengan Gunawan itu, bersuara sembari meminta maaf karena membawa bayi ke pemakaman. “Di rumah sakit dia tak ada mengurusnya, dengan kondisi cucuku berantakan karena ditinggalkan istrinya melahirkan.”
Gadis itu bungkam setelah mendengar penjelasan dari sahabat kakeknya, hingga tak lama kemudian tanpa berpamitan Araela menghampiri bayi tersebut, ajaib sekali masuk ke dalam gendongannya suara tangisan itu menjadi hening, diam-diam ia mengutuk perbuatan seseorang yang menelantarkan bayi tampan tersebut.
Bersamaan dengan itu Araela sama sekali tak bisa melupakan ciuman pertama yang masih, membekas dalam ingatan dan lubuk hati hingga akhirnya gadis itu berjodoh dengan, pria yang merupakan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya sendiri.
*
*
*
Meletakkan bunga kesayangan dengan berjongkok di dekat batu nisan, sembari menyapa wanita itu untuk pertama kali. 'Maaf baru berkunjung di sini, apa kabarmu? Bolehkah aku mencinta dua pria milikmu? Lihatlah mereka sangat menyebalkan sekali bukan? Apa lagi dia yang kucintai sejak lama lebih buruk dari pertama kali bertemu, mungkin saja ciuman pertama itu hanya sekilas untuknya. Namun, aku tak mungkin melupakannya begitu saja, dan untuk itu aku ingin egois dengan menjadikan mereka milikku!' Angin sepoi-sepoi di sekitar area makam mewakili jawaban atas permintaan sendiri, seolah-olah menyampaikan bahwa gadis itu diizinkan untuk memiliki mereka.
“Kamu menangis, Hon?” Lama bungkam Rewindra melontarkan pertanyaan, hingga gadis itu enggan menjawab pertanyaan itu.
Tak lama kemudian usai mencurahkan isi hati masing-masing, Rewindra mengajak istri dan putranya untuk pulang. Namun, pria itu dibuat kalang kabut dengan bungkam sang istri yang sama sekali, enggan bersuara sejak dari pemakaman sampai membuat pikirannya terganggu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian mobil Rewindra sampai di gerbang rumah sederhana milik sang istri, bersamaan dengan itu ia menghubungi seseorang di ujung untuk membawa mobilnya ke mansion, hingga tak lama kemudian pria itu menyusul masuk ke dalam rumah istrinya.
“Kamu kenapa seperti ini, Hon?” Mendekap tubuh mungil yang sedang termenung, sembari mencuri kecupan-kecupan tipis dengan todongan, pertanyaan yang meluncur dari bibirnya. “Sejak dari pemakaman sikapmu lebih cenderung dingin, ayo keluarkan semua omelanmu untukku dan Oland. Aku tak memahami apa yang menjadi beban pada pundakmu. Namun, bisakah untuk tak menjadikan aku seorang suami, yang tak mengerti perasaanmu? Percayalah aku tak pernah sedikit pun marah, dengan semua yang ada di dalam dirimu.”
Pria itu tak berhenti menghibur sang istri sampai akhirnya gadis itu bersuara, dan menurunkan perintah untuk membersihkan diri setelah kembali dari makam.
“Apakah harus, Honey?” Rewindra cemberut. “Dari pada melihatmu diam seperti ini, lebih baik aku memberimu hukuman!”
Siapa yang menduga jemari gadis itu mencengkeram erat si belalai gajah, sehingga si empu belalai itu mendesis sakit sekaligus nikmat merasakan r3matannya.
“Honey ....” Rewindra memohon ampun tapi gadis itu, tak berhenti m3r3mat si belalai gajah. “Kalau tangan ini tak mau berhenti, jangan salahkan aku melanggar aturanmu!”
“Kau juga tak mau mendengarkanku, untuk segera membersihkan diri!” Gadis itu tak mau kalah berdebat. “Aku menyuruhmu membersihkan diri untuk, membuang hal negatif yang masuk ke tubuh kita! Oland juga sudah kusuruh membersihkan diri, jadi seharusnya kau tak keberatan melakukan ini bukan?”
Rewindra menulikan omelan yang terucap dari bibir istrinya dengan, gerakan cepat tangan kekar itu menggendong tubuh mungil dan, mengajak sang istri terbang ke awan tanpa memedulikan hal lain.
Di bawah guyuran shower tak mengurangi aktivitas, Rewindra yang sangat menggila tubuh mungil sang istri meskipun ukuran, kamar mandi tersebut tak seperti kamar mandi di mansionnya. Namun, tempat itu mampu menciptakan sensasi yang menggairahkan, hingga Araela tak mampu mengimbangi permainan gila pria itu.
“Jangan keluar dulu, Honey!” Si belalai gajah Rewindra melesak lebih dalam, dengan alunan dessahan yang menggema.
Tak lama kemudian sekitar satu jam berlalu tubuh gadis itu, remuk karena ulah sang suami dengan tak tahu malu, mengajaknya berc1nta sembari membersihkan diri.
__ADS_1
“Dasar duda m3sum, s1al4n!” Di hadapan pria itu tanpa takut, Araela memberanikan diri melontarkan umpatan.
Hal tersebut membuat Rewindra tergelak gemas, dengan umpatan yang dilayangkan untuknya. “Kamu sangat menggemaskan! Lain kali jangan membangunkan dia lagi, kalau tak ingin kejadian b3rc1nta di dalam sana terulang kembali. Mau mencoba gaya lain lagi, Hon?”