Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Araela begitu terkejut ketika tubuhnya tak bisa digerakkan oleh Rewindra yang tiba-tiba melu’mat bibirnya dengan lembut dan begitu menggairahkan.


Bahkan dengan masa lalunya pun ia sama sekali tak merasakan hal itu, tetapi tiba-tiba pria itu mencium bibirnya yang membuatnya melakukan perlawan dengan menendang benda berharga milik Rewindra Wiratama.


Hal tersebut menyebabkan pria itu melepaskan diri, seraya menggeram marah dengan mendesis pelan, akibat tendangan maut membuat belalai gajah miliknya berkedut hebat.


“Apa maksud Bapak mencium bibirku ini, hah!” sentaknya setengah berteriak.


“Apa itu penting untukmu?” Rewindra enggan menggubrisnya. Namun, ia juga harus menahan rasa perih di area belalai gajahnya karena tendangan dari seorang gadis di depannya.


S!al! Belalai gajahku harus merasakan nikmat yang luar biasa karena terkena tendangan maut, tetapi aku begitu senang bisa merasakan bibir itu. Manis seperti rasa vanilla, dan aku yakin dia juga pertama kali merasakan bibir milikku. Sekarang dan nanti kau harus menjadi milikku apa pun yang terjadi! Akan ku buat kau bertekuk lutut dan jatuh cinta denganku.


Araela yang tak mendapat jawaban dari seorang pria yang telah mengambil ciuman pertamanya mendengkus kesal. Entah mengapa ia begitu marah dengan perlakuan yang dilakukan oleh atasannya tersebut.


Akan tetapi, ada suara serak khas orang bangun tidur berasal dari Rolando yang mana, ia pun juga terkejut melihat Dady berada di rumah ini. “Kakak kenal dengan Dadyku? Dia juga kenapa, Kak?”


“Oh itu katanya mau menjemput kamu, Sayang. Mengenalnya sih tidak, tapi dia atasan Kakak di kantor.” Araela menjawab pertanyaan dari anak lelaki itu tanpa malu dan canggung, mengingat ia berhasil memberi pelajaran pada atasannya tersebut.


Menghampiri kedua insan yang saling mengirim sinyal tatapan tajam tanpa memedulikan Rolando yang menanyakan tentang kedatangan Dadynya ke rumah Kakak cantiknya itu. “Dady datang menjemputku? Lalu mengapa ekspresimu seperti itu, Dad?”

__ADS_1


“Jangan hiraukan Dady, Boy! Kan tadi sudah dia katakan kalau kedatangan Dady untuk menjemputmu pulang.” Ia mengulang pernyataan sambil terus menahan perih di belalai gajah miliknya. “Bagaimana apa kamu mau pulang sekarang dengan Dady, Boy?”


“Dad a–aku ingin pulang de–,” sahut Rolando dengan terbata-bata karena ia ingin Kakak cantiknya mengantarkannya pulang ke mansion.


Tanpa memedulikan sepasang Ayah dan Anak sedang mengobrol. Araela pun meninggalkan keduanya yang mana ketika masuk ke dalam kamar pribadinya.


Ia pun mengeluarkan semua umpatan dalam bahasa jawa yang ditujukan untuk pria yang telah mengambil ciuman pertamanya.


Brengssek! S!alan! Dasar dudo edan. Mbok pikir aku iki opo? Sak enak udelmu nyolong bibirku iki! Bah rasak o kenek tendangan mautku. Rasak o pengen tak getok tenan anumu kae.


Posisi jendela kamar Araela menghadap arah belakang rumah membuat ia leluasa mengintip sepasang Ayah dan Anak yang sedang mengobrol tanpa memedulikan kembali rasa kesal yang menjalar dihatinya.


Mau tak mau ia juga membalas pelukan pertama yang dirasakan sejak bayi merah sampai sekarang, tak pernah sedikit pun Rewindra memeluk tubuh mungil itu. “Maafkan Dady, Boy!”


“Kenapa meminta maaf denganku?” bernada dingin Rolando berusaha menekan ego, bahwa ia begitu membenci Dadynya.


“Sekali lagi Dady minta maaf denganmu karena sejak bayi, kamu sudah Dady a—,”


“Apa karena aku menyebabkan Momy meninggal, Dady jadi mengabaikan keberadaanku?” sela Rolando dingin.

__ADS_1


Dada Rewindra seakan sesak, saat sang Putra menyela perkataan yang ia lontarkan itu. “Dad—” belum sempat membuka suara, ia pun kembali ulang kata yang dilontarkan oleh putranya.


“Apa karena aku menyebabkan Momy meninggal, Dady tak pernah mau menggendongku? Tak pernahkah mau bermain denganku? Lalu untuk apa aku ada di sini, kalau saja keberadaanku di anggap. Tak akan pernah ku membenci, meskipun kenyataan yang ada kamu telah menorehkan luka hati ini, sehingga aku begitu sangat membencimu, Dad!”


Puas mengeluarkan semua yang mengganjal di dada Rolando pun masih belum bisa menerima permintaan maaf dari Dadynya. Namun, tak disangka-sangka Rewindra kembali memeluk tubuh mungil itu dengan erat, sambil tak lupa ia mengusap punggung Putranya dengan penuh kasih sayang, sebelum menjawab suara hati yang di keluarkan oleh sang Putra.


“Benci-lah Dady sesukamu, Boy! Dady tak pernah mempermasalahkannya, tetapi kamu harus ingat satu hal. Dady sama sekali tak pernah mengabaikanmu, karena tanpa kamu sadari diam-diam Dady selalu mengawasimu dan memantau dari kejauhan. Terlalu menyakitkan jika terus teringat dengan mendiang Momymu, Boy.”


“Kalaupun aku membencimu, Dad. Apa Dady akan tetap seperti ini denganku? Sejak lama aku menginginkan pelukan yang pertama kali ku rasakan ini.” Hati kecilnya bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya bahwa Rolando begitu sangat membenci Dadynya.


“Tak masalah, Boy. Dady pasti akan selalu menyayangimu meskipun Dady telah menorehkan luka hatimu.” Rewindra tak hentinya memeluk tubuh mungil karena sejak menjadi bayi merah, ia sama sekali tak pernah mendekapnya seperti sekarang.


.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2