
"Kenapa tidak mengajakku mandi bersama, Hon?" sahut Rewindra dengan suara serak, ditambah wajah bantal yang membuat pria itu semakin tampan. Namun, semuanya tidak berlaku di hadapan seorang Araela Ayudia Gayatri Smith.
"Yang ada bukan mandi bersama, tapi ingin mengulang lagi seperti malam-malam panas sebelumnya," jawabnya dengan nada dinginnya, bahkan dia masih tidak berhenti mengarahkan kedua netra mata pada si belalai gajah.
Sampai membuat sang suami dibuat heran dengan tatapan dingin yang diciptakan oleh istrinya, sehingga pria itu hanya bisa menelan ludah kasar karena tatapan dingin mematikan itu tidak bisa membuatnya berkutik.
Sial! Tatapan dinginnya membuatku benar-benar takut, bahkan hanya dengan dia seorang saja aku dibuat takluk, dan tidak berdaya di hadapan gadis bar-bar yang resmi menjadi istriku.
Kesal tidak mendapat respons dari sang suami membuat Ara mengeluarkan sedikit tenaga yang tersisa, dengan mendorong tubuh tegap pria yang membuatnya tunduk dibawah kungkungannya, sehingga membuat si — empu tubuh terkejut dengan dorongan mendadak dan lamunannya seketika buyar, saat tidak lagi melihat tubuh mungil yang sudah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan dia seorang.
Mengingat bukan hanya dia seorang yang tinggal di rumah ini. Ada sang putra tercinta yang lebih membutuhkan kehadiran gadis tersebut, dibandingkan dirinya sendiri yang begitu sulit menaklukkan seorang gadis bar-bar yang begitu dingin.
Ara yang selesai membersihkan diri dan meninggalkan pria itu di dalam kamar pribadinya. Dia segera melangkahkan kaki ke kamar yang tidak jauh berada di kamarnya, untuk membangunkan Roland yang begitu nyaman tinggal di rumah sederhana milik gadis tersebut.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Ara dengan lembut, tidak lupa gadis itu mencium kening dan juga pipi.
Hal tersebut membuat anak lelaki yang masih terlelap di alam mimpi begitu terganggu dan mau tidak mau, dengan mata yang terpejam itu sedang berusaha dibuka secara perlahan-lahan sampai dia mendapati sebuah senyuman, seseorang dan membuat hati Rolando senang melihat senyum tulus yang tidak pernah didapatkan oleh dirinya.
"Kakak!" Suara serak khas bangun dari tidur pun, membalas sapaan dengan nyawa yang masih tertinggal.
Sampai membuat gadis tersebut tergelak lucu dengan tingkah polos dari Rolando, sehingga Ara membiarkan anak lelaki itu mengumpulkan nyawa dengan dia, yang beranjak dari ranjang kecil untuk membuka tirai jendela agar sinar mentari bisa masuk.
"Bagaimana apa kamu suka tinggal di rumah, Kakak?"
Rolando mengangguk dan dia pun teringat dengan sang daddy, sehingga memberanikan diri bertanya tentang keberadaan daddynya, "apakah daddy ikut, Kak?"
"Tadi malam 'kan tidur sangat nyenyak. Jadi, untuk masalah soal daddymu, dia ada di kamar sebelah."
__ADS_1
"Lalu siapa yang menggendongku, Kak? Tidak mungkin kamu lagi yang menggendongku!"
Sambil tersenyum gadis itu menjawab pertanyaan Rolando begitu lembut dan penuh kesabaran, mengingat ini pertama kali dia telah menyandang gelar sebagai seorang ibu dari anak lelaki berusia tujuh tahun tersebut.
"Sayangnya semua itu benar! Matahari semakin meninggi, lebih baik kamu segera bersihkan badanmu!" titahnya lembut tanpa ada bantahan.
Setelah melihat punggung anak lelaki-nya yang telah masuk ke dalam kamar mandi, gadis itu membersihkan bagian-bagian kamar itu dan tidak lupa menyiapkan pakaian untuk Rolando.
Tidak berselang lama kemudian anak lelaki-nya telah membersihkan diri, dengan dia yang sudah lebih dari lima belas menit telah berkutat di dapur. Untuk menyiapkan sarapan yang akan dinikmati oleh sepasang ayah dan anak tersebut.
Akan tetapi, sebuah tangan kekar melingkar dan mendekap tubuhnya begitu erat hingga mau tidak mau gadis itu mematikan kompor, sambil membalikkan tubuh untuk menegur sang suami yang begitu berani mengganggunya.
"Sekali lagi kau menggangguku masak, ma ...." Ucapan gadis itu terjeda, ketika melihat sang suami yang sudah lebih beranjak dari tempatnya.
Sampai kedua insan itu mendengar nada ejekan terucap dari, seorang anak lelaki yang ikut bergabung ke dalam obrolan keduanya.
"Apa yang diucapkan Kakak benar, Dad. Kenapa Daddy mengganggunya masak? Tidak takut 'kah masaknya menjadi gosong karena ulah, Daddy! Bahkan tingkahmu lebih mirip anak remaja yang jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Tidak ada yang mengajariku, Dad!" sahut Rolando santai, sambil menunggu kakak-nya menyelesaikan masakan yang diolah. Tidak lupa anak lelaki itu kembali mengajukan, pertanyaan yang dituju untuk sang Daddy tercinta. "Apa Daddy yang menyuruh Kakak cantik yang menggendongku tadi malam?"
"Kenapa malah membahas hal ini, Boy?" tanya Rewindra balik, yang begitu bingung menjawab pertanyaan dari putranya.
"Tubuh Kakak itu sangat mungil, Dad! Tidak mungkin mampu menggendong tubuh yang semakin tinggi."
"Hei, Boy. Perhatikan ucapan yang terlontar dari bibirmu. Bisa-bisa istriku tersinggung denganmu!" sahut Rewindra dengan melotot galak.
"Justru aku lebih menyukai kepribadian Kakak cantik, dibandingkan para wanita-wanitamu itu!" Tidak kalah galak dari sang Daddy. Anak lelaki tersebut mampu membungkam, dengan ucapan yang begitu menusuk hati Rewindra paling dalam.
__ADS_1
"Baiklah kamu menang, Boy. Bolehkah Daddy menanyaimu suatu hal?"
Rolando mengangguk yang kemudian sang Daddy kembali mengajaknya mengobrol, sambil menunggu sang kakak selesai dengan makanan yang sedang diolah itu, dia memulai pertanyaan ditujukan untuk dirinya tentang kehadiran seorang ibu.
Hal tersebut membuat anak lelaki itu begitu terkejut mendengar pernyataan dari sang Daddy, ketika menjelaskan tentang siapa kakak cantik di dalam kehidupannya yang sekarang. "Jadi, Kakak cantik sekarang menjadi Mamaku, Dad?"
"Apakah kamu senang mempunyai seorang ibu atau mama seperti kakak cantikmu itu?"
"Tentu saja aku sangat senang, Dad! Apa itu berarti aku bisa memanggil-nya Mama?" jawab Rolando dengan raut wajah berbinar-binar sambil memastikan, bahwa anak lelaki tersebut tidak salah mendengar pernyataan yang terucap dari sang Daddy.
"Dia bisa kamu panggil sesuai dengan keinginan hatimu."
Tidak berselang lama kemudian keluarga kecil Rewindra menikmati masakan yang diolah dari tangan mungil, tapi tenaga keras sampai membuat sang putra menambah lauk makanan karena masakan istrinya ini, benar-benar bisa memanjakan lidah dan juga tentu saja mampu memanjakan si belalai gajah miliknya.
"Sampaikan pada sahabatmu yang bernama David, untuk menemuiku di tempat seperti biasa!" Tanpa menoleh ke arah lawan bicara, gadis itu memberi perintah yang membuat sang suami heran.
"Untuk apa kamu menemuinya, Hon?" tanyanya dengan raut wajah tidak suka.
"Aku ada perlu sebentar dengannya!
Bukankah kau dan dia bersahabatan?" jawab gadis itu dengan mimik wajah serius.
Mau tidak mau Rewindra mengabulkan permintaan sang istri, dengan menyuruh Louser menghubungi sahabatnya. "Biar Louser yang kusuruh menghubunginya! Apa itu berarti kamu ada kuliah, Hon?"
"Nanti sore! Kenapa memangnya?"
"Bolehkah aku mengantarmu ke tempat kampusmu, Hon?" tanya Rewindra sambil menawarkan diri.
__ADS_1
"Antarkan sampai di depan gerbang! Kau mengerti bukan? Aku sangat membenci keramaian umum?"
Begitu mendapat izin dari sang istri tercinta, pria itu akan membuktikan bahwa dia tidak akan membuat istrinya merasa, tidak nyaman dengan kedatangan dia yang mengantarkan gadis itu ke kampus.