
Kau sendiri yang menorehkan luka dihatinya. Kau juga yang harus menyembuhkan luka itu, Win. Maaf dengan cara ini kau harus bisa membuka mata dan hatimu bahwa ia yang melihatmu seperti ini tentu saja kecewa karena kau tak mau menganggapnya ada. Aku sangat yakin dengan ini kau tak akan bisa lagi lari darinya karena ....
Tak lagi meneruskannya Pramana saat ini telah sampai di depan pintu ruangan Rewindra. Namun, ketika akan membuka pintu tersebut ia mendengar suara peringatan dari Louser yang membuatnya berdecih sinis tanpa mengidahkan perkataan yang dilontarkan oleh asisten sang Putra.
Pramana membuka pintu ruangan Putranya dengan kasar yang mana ia mendapat sambutan kasar, tapi tentu saja ia sendiri pun tak takut dengannya.
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tak menggangguku. Apa kau tak dengar semua perintah dariku, Ser. Sepertinya kau bosan hi–” ketika mengangkat dan menatap ke arah seseorang yang membuka pintu ruangan dengan kasar, dan ia pun menelan ludah saat melihat kedatangan sang Papa yang menatapnya dengan sorot mata yang dingin itu.
Membuat ia menggaruk tengkuknya tak gatal saat sang Papa tercinta terus menatap dingin ke arah dirinya. “Ada perlu apa, Pa? Sampai datang ke ruanganku?”
Setelah sampai dan berdiri di hadapan sang Putra tercinta. Pramana pun menarik daun telinga Rewindra dengan keras yang membuat si empu telinga mengeringis kesakitan sambil memohon ampun untuk dilepaskan. “Ampun, Pa! Tolong lepas tarikan tangan Papa di telingaku!”
Puas melihat raut wajah Rewindra menahan kesal ditambah salah satu daun telinga yang memerah membuat Pramana lega karena ia sedikit bisa melampiaskan amarahnya akibat perlakuan yang dilakukan oleh Rewindra sendiri pada sang Cucu tercinta.
“Itu belum seberapa, Win. Kalau kau mau lebih Papa dengan senang hati akan mengabulkannya.” Pernyataan yang dilontarkan oleh Pramana membuat Rewindra merasa heran.
__ADS_1
Apa yang membuat sang Papa tiba-tiba menarik daun telinga sampai memerah ini? Hal tersebut yang mengganggu pikirannya.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Pa?” tanya Rewindra dingin.
“Kau masih bertanya Papamu seperti ini juga karena siapa coba?” jawab Pramana dingin sembari membalik pertanyaan.
“Aku tahu salah terhadap dirinya, dan bisakah Papa tak mencampuri urusan pribadiku,” jawab Rewindra acuh yang membuat Pramana menggeram marah dengan jawaban dilontarkan oleh sang Putra tercinta.
“Win, kalaupun kau tak menginginkan kehadirannya lebih baik antarkan saja dia ke panti asuhan. Biarkan di sana dia menemukan kebahagiaannya daripada hidup denganmu yang selalu kau acuhkan, hanya karena mirip dengan mendiang istrimu itu.”
Pramana sengaja melakukan hal tersebut untuk memastikan apakah sang Putra masih menginginkan kehadiran sang Cucu atau hanya tipuan belaka, dan jawaban dari Putranya pun tak membuat ia merasa lega, tapi bisa terlihat disorot tatapan mata dingin milik Rewindra.
“Kenapa Papa malah menyuruhku mengantarkan dia ke panti asuhan? Kalaupun memang aku telah menorehkan luka yang membuatnya membenciku tak masalah bagiku, asalkan dia bahagia aku dengan senang hati menerimanya dan mengenai itu sampai kapan pun tak akan pernah ku’ lakukan itu padanya. Karena aku sangat mencintainya sedalam rasa penyesalanku ini!”
“Jadi, selama ini kau diam-diam selalu memedulikan keberadaannya dibalik rasa acuhmu begitu, hm?” tanya Pramana yang masih kurang puas dengan pernyataan dari putranya.
__ADS_1
“Apa masih kurang jelas yang ku katakan tadi, Papa!” jawab Rewindra seraya mendengkus kesal.
Lalu tak lama kemudian Pramana teringat dengan laporan tentang Rolando yang sedang berada di rumah seseorang dan ia akan sedikit menggunakan sang Cucu untuk memancing Putranya.
Apakah dia benar-benar memedulikan keberadaannya? Dan dengan cara ini Cucunya sendiri pun ikut andil dalam lingkaran perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh mendiang Ibundanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Masih kurang yak?