
“Aku tak peduli kau menikah dengan siapa, Pras. Namun, ada bedanya saat kau tak menerima perjodohanmu, dan membuat istriku menangis karena sahabatnya mengalami siksaan hati serta batinnya. Tidakkah kau merasa, apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarmu tak sebanding dengan apa yang kau lakukan itu. Jadi, keputusanku sudah bulat, suka atau tidak kau harus menerima garis takdir jodoh untuk putrimu yang tak pernah kau anggap ada, dan jika istrimu itu tak terima lalu ikut mencampuri urusan perjodohan ini. Maka katakan hal ini dengan istrimu, untuk berhadapan langsung dengan Dahlia. Camkan itu baik-baik, Pras.”
Pramana yang masih diliputi amarah memuncak itu pun terpaksa meninggalkan sahabatnya sendiri, tak lupa manik matanya terus menatap dingin ke arah wanita yang sedari tadi menguping itu.
Bahkan ia sendiri tak terlalu memedulikan orang lain yang sedari duduk berseberangan dengan wanita tersebut, dan dikarenakan tak ingin Prasetya mengetahui orang yang mengupingnya itu.
Ia berjalan menghampiri dan membisikkan dengan ancaman untuk tak mencampuri urusan pribadi tentang perjodohan itu. “Aku tahu kau menginginkan perjodohan ini untuk putri kesayanganmu itu, dan yang kau inginkan itu tak akan pernah terjadi karena kau yang telah membuat istriku menangis. Katakan hal ini langsung dengan Dahlia, kalau kau masih punya muka di hadapannya.”
Pramana terkejut ketika mendapati Bastian yang sedari tadi duduk berdiam diri tanpa melepaskan topi dan masker yang dipakai, tetapi ketika berpapasan dengannya pria itu melepaskannya sambil memberi isyarat untuk tak memberitahukan keberadaannya. “Selamat bertemu kembali.”
__ADS_1
Melangkahkan kakinya dengan menyeringai dingin, sambil menunggu reaksi dari raut wajah wanita itu ketika dipertemukan kembali dengan Bastian.
***
Pria yang terlihat oleh Pramana merupakan salah satu dari rekan kerjanya, tak lain ayah kandung dari Sonya menggeram marah, dengan segala tindakan yang dilakukan oleh Mayang.
Sampailah ia di sini, sambil memakai topi dan masker yang menutup wajahnya, pria itu duduk semeja dengan Mayang yang sedari tadi menguping diam-diam, obrolan tentang perjodohan antara putra-putri mereka.
Bastian pun berdecak kesal ketika, ia tak sengaja menatap sorot mata tajam yang, sepertinya enggan menerima perjodohan itu.
__ADS_1
Jangan naif aku datang bertemu denganmu bukan untuk memenuhi keinginan kembali, tetapi memintamu agar mempertemukan putri yang kau pisahkan denganku sebagai ayah kandungnya, dan kau tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku tak akan membantumu karena, sudah cukup kau menyiksa dan terlihat bahagia di atas penderitaan orang lain, maka jangan salahkan orang lain saat orang itu bukan memilih putrimu.
Ketika Bastian melihat Pramana rekan kerjanya, ia pun melepaskan topi dan masker yang dipakai sambil memberi isyarat, untuk tak mengatakan keberadaannya yang sedari duduk semeja itu.
Setelah tak melihat keberadaan Pramana, ia pun menyapa untuk pertama kalinya, sekian lama mereka tak bertemu. “Masih belum puas, bahagia di atas penderitaan orang lain, Mayang,” sapa Bastian dingin.
“Kau!” jari telunjuk Mayang mengacung ke arah wajah pria itu. Namun, tangannya pun langsung ditepis oleh pria yang selama ini ia benci, dan sampai kapan pun tak akan pernah mempertemukan putrinya dengan Bastian, tetapi takdir berkata lain sepandai apa pun ia menyimpan bangkai pasti terbongkar dengan sendirinya.
Seperti sekarang, ia tak mungkin bisa mengelak ketika berhadapan dengan pria itu. “Untuk apa kau datang kemari? Bukankah selama ini aku menyuruhmu untuk tak muncul dihadapanku?”
__ADS_1